Home > Adventorial >>
Berita Terhangat..
Kamis, 24 Agustus 2017 13:50
PLN Apresiasi Dukungan Banyak Pihak,
Gardu Induk Terbesar Sumatera di Perawang Beroperasi


Kamis, 24 Agustus 2017 13:45
Distakan Pekanbaru Awasi Hewan Kurban

Kamis, 24 Agustus 2017 13:38
Kajari Inhil Ancam 'Sekolahkan' Kades yang Selewengkan Dana Desa

Kamis, 24 Agustus 2017 13:31
Curi Kotak Infak, Warga Kampar Babak Belur Dihakimi Warga Intan Jaya, Rohul

Kamis, 24 Agustus 2017 13:23


Kamis, 24 Agustus 2017 13:15
Gardu Induk Perawang Mulai Operasi, PLN Apresiasi Semua Pihak

Kamis, 24 Agustus 2017 12:48
Bersiap Hadapi Tuntutan, Terdakwa Penista Agama Sampaikan Permohonan Maaf

Kamis, 24 Agustus 2017 11:40
Luncurkan TP4D, Bupati Inhil Pesan Dana Desa Dipergunakan Secara Bertanggung Jawab

Kamis, 24 Agustus 2017 11:30
Dikabarkan Bakal Ikut Pilgubri, Edy Natar Fokus jadi Danrem 031/WB

Kamis, 24 Agustus 2017 11:24
Anggota DPRD Riau Husaimi Hamidi Bantah Lindungi Warung Mesum di Rohil

Kamis, 24 Agustus 2017 11:04
5 JCH Asal Riau Meninggal di Tanah Suci

Kamis, 24 Agustus 2017 10:53
Januari-Agustus, 458 Kasus DBD Terjadi di Pekanbaru

Kamis, 24 Agustus 2017 10:45
Dikantik Pangdam BB, Brigjen TNI Edy Natar Nasution Resmi Komandan Korem 031/WB

Kamis, 24 Agustus 2017 10:35
Bupati Kuansing Harap Pemprov dan Pusat Bantu Festival Pacu Jalur

Kamis, 24 Agustus 2017 09:54
Kesakitan Dicekik, Pejual Buah di Rengat Tikam Preman Hingga Tewas



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 18 Nopember 2016 15:24
Membangkitkan Kejayaan Bagansiapiapi Penghasil Ikan Terbesar Kedua di Dunia

Bagansiapiapi sempat terkenal sebagai penghasil ikan terbesar kedua didunia setelah Norwegia. Namun sekarang, julukan itu mulai pudar dan tangkapan nelayan semakin merosot.

Riauterkini-BAGANSIAPIAPI-Bagansiapiapi sempat terkenal sebagai penghasil ikan terbesar kedua didunia setelah Norwegia. Namun sekarang, julukan itu mulai pudar dan tangkapan nelayan semakin merosot. Salah satu penyebab, maraknya penangkapan ikan menggukan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Net).

Hasil bincang-bincang riauterkinicom dengan seorang nelayan, Ebot Putra, yang hendak menjual ikan pada salah satu tempat penampungan ikan belum lama ini di Bagansiapaipi sungguh membuat hati miris.

Menggunakan sampan lombang sekira 1 GT, mereka harus mengeluarkan biaya operasional Rp90.000 dan biaya ini biasanya berhutang terlebih dahulu dikedai, pergi melaut disaat air pasang subuh dan pulang disaat pasang sekira pukul 13.00 – 14.00 WIB.

Pergi melaut tiga orang, menggunakan jaring dengan panjang tidak sampai 1 mil, setelah pulang, ikan langsung dijual ketempat penampungan ikan yang sudah menjadi tempat rutin.

Harga ikan yang ditangkap tergantung jenis ikan, jika berhasil menangkap ikan senangin, tempat penampungan ikan biasanya membeli Rp40.000/kg, namun jika hanya berhasil ditangkap ikan yang biasa saja, harganya sangat murah, Rp2.500/kg.

Ironis memang, rata-rata hasil penjualan ikan mereka hanya Rp300.000, setelah dipotong hutang diwarung untuk operasional, tinggal uang Rp210.000, maka biasanya seorang nelayan mendapatkan bagian Rp50.000/orang dan pemilik sampan mengantongi Rp100.000, bahkan bisa kurang.

Penghasilan itu semakin hari semakin menurun, kadang kala hasil penjualan ikan tidak mencukupi untuk menutupi biaya operasional serta memperbaiki kerusakan jaring atau sampan, maka mereka sangan mengharapkan kemurahan hati penampung ikan untuk meminjamkan uang agar mereka terus bisa melaut.

Sementara itu, Hasan, pengusaha penampungan ikan yang sudah 20 tahun menekuni usahanya mengamati, penghasilan nelayan semakin hari semakin berkurang. “Kalau saya lihat, nelayan kecil ini semakin surut hasilnya. Dibandingkan 10 tahun lewat, sekarang hasilnya makin kurang. Biasanya orang ni pergi pulang setengah juta sampai 700 (Rp700.000, red) perhari. Sekarang pergi perhari paling sampai 300 (Rp300.000, red) paling tinggi. Penyebabnya, nelayan yang bisa terangkan,” katanya.

Padahal, dirinya siap menampung berapapun jumlah ikan yang dihantar nelayan ketempat penampungannya dengan jenis campur-campur yang jual ke Dumai, Pekanbaru, Bengkalis serta kebutuhan Bagansiapiapi, perhari hanya bisa didapat sekira 300-500 kg.

Dua nelayan lain, Arun dan Amri, dengan nada keras sangat menyesalkan penurunan pendapatan nelayan karena adanya praktek penangkapan ikan memakai alat yang dilarang. Dia minta pemerintah segera menertibkannya, kalau tidak, mereka sendiri yang akan mengambil tindakan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rokan Hilir, Murkan Muhammad menduga, pemerintah tidak serius memberantas praktek illegal fishing tersebut.

“Kita menduga, Pemerintah tidak serius dan bahkan terkesan main-main dalam menangani praktek illegal fishing yang dilakukan kelompok nelayan asal Provinsi Sumatera Utara itu, padahal sudah ada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Net),” ungkap Murkan Muhammad.

Dalam pada itu, Bupati Rokan Hilir, H. Suyatno dalam pertemuan dengan nelayan dilantai IV kantor bupati lama belum lama ini menyatakan komitmennya memberantas illegal fishing. Bahkan Pemkab Rohil mengundang pihak TNI AL dari Tanjung Balai Asahan serta pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau.

Dalam sambutannya, Bupati Suyatno menyatakan dari 18 kecamatan, beberapa kecamatan di Rohil masyarakat penghidupannya sebagai nelayan, dengan rincian, Kecamatan Pasir Limau Kapas sekira 4 ribu nelayan, Sinaboi seribu nelayan, Bangko seribu nelayan, ditambah Kecamatan Kubu dan Kubu Babussalam yang berjumlah ribuan juga.

Suyatno mengaku sempat menonton di televise terjadi pembakaran pukat harimau di Tanjung Balai Asahan, Sumut, maka dia langsung memanggil Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Rohil, M Amin, agar kejadian tersebut tidak terjadi di Rokan Hilir, berkoordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau agar kejadian serupa tidak terjadi di Rohil.

Ditambah pernah terjadi 19 nelayan asal Pasir Limau Kapas yang ditangkap Police Marine Malaysia, kebetulan nelayan itu membawa GPS pemberian Pemkab Rohil, sehingga didapat informasi dari pihak kedutaan Indonesia di Malaysia, mereka tertolong karena adanya GPS tersebut.

Setelah itu, adanya kekhawatiran nelayan Rohil terhadap semakin merajalelannya pukat harimau di perairan Rohil, yang masuk malam hari. “Betul ndak,” tanya Suyatno yang dijawab dengan suara bulat dari ratusan nelayan yang hadir membetulkan.

Sehingga dengan kondisi itu, perlu dilakukan pengawasan terhadap perairan, meski diakuinya sangat sulit, namun itu harus dilakukan. “Mengawasi perairan Rohil memang sulit. Untung tak ado Abu Sayaf,” katanya.

Makanya dengan sosialisasi ini diminta kepada nelayan, bila terjadi sesuatu dilaut, harap tanyakan kepada aparat terlebih dahulu, jangan main hakim sendiri. “Pernah terjadi pembakaran di Rohil juga,” ujarnya.

Danlanal Dumai Letkol Laut (P) M. Risahdi, M.Si (Han) saat memberikan materi menyebut, saat ini ada overlay perbatasan perairan Indonesia dan Malaysia, kedua negara masih saling klaim, sehingga nelayan diminta untuk berhati-hati.

Danlanal Tanjung Balai Asahan Sumut, Letkol Laut (P) Teguh Prasetya, ST, MM dalam materinya menyebut, pembakaran kapal pukat harimau oleh nelayan tradisional tetap diproses secara hukum. “Yang rugi nelayan sendiri, makanya jangan main hakim sendiri,” ingatnya.

Meski penghasilan nelayan menurun, Kepala Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rifki Efendi Harianto sempat melihat potensi perikanan Rokan Hilir. Sekaligus memperhatikan kemungkinan dilaksanakan pelatihan kepada nelayan dan pelaku perikanan lainnya.

“Secara khusus saya melihat, Riau dulu ya, Provinsi Riau ini bersama Pak Gubernur untuk melihat potensi perikanan yang ada. Perikanan, potensi yang ada dikerjakan oleh orang, selain infrastruktur. Saya adalah bagian dari orang, apakah memungkinkan kita selenggarakan kegiatan pelatihan kepada orang, supaya lebih baik lagi,” kata Rifki Efendi Harianto.

Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman menjelaskan, Rifki Efendi Harianto tertarik datang ke Bagansiapiapi karena sejarahnya pernah menjadi penghasil ikan terbesar kedua.

“Tadi kita memperlihatkan kebeliau, aset-aset daerah yang bisa dikembangkan, bisa dikerjakasamakan pengembangan sumber daya manusia Kementrian Kelautan, mana tau, beliau punya program pengembangan sumber daya manusia daerah, di Rokan Hilir ini di Bagan, ya, ini kita tawarkan tadi dan ini semuanya kita kembalikan kepada beliau,” ujar Arsyadjuliandi Rachman.

Salah satunya, Pemprov Riau akan mendorong TPI terus dikembangkan. “Dorong terus, tadi tempat ini yang mengelola ini, bisa berkembang terus, bisa bersama dengan nelayan yang ada, kita harapkan saling mengisi, sehingga pontesi perikanan yang ada di Rokan Hilir, didaerah Bagan ini, bisa berkembang terus, akhirnya bisa dipasarkan di berbagai tempat,” ujarnya.***(noprio sandi/advertorial Pemkab Rohil/humas)





Berita lainnya..........
- Program Pendidikan dan Kesehatan Masih Menjadi Prioritas Azis Zaenal
- Satu-satunya Kabupaten di Sumatera,
Bupati Pelalawan Terima Penghargaan Budhi Praja 2017 dari Menristek

- Gencakan Sapa Investor, Cara DPM dan PTSP Pekanbaru Genjot Investasi
- Pemkab Rohil Optimalkan Pelayanan Masyarakat dengan Bangun Infrastruktur Pemerintahan
- Berkomunikasi dan Bersilahturahmi,
RAPP Manfaatkan Safari Ramadan untuk Berdialog

- Dana Besar Proyek Rigid Pavement Demi Ketahanan Jalan di Rokan Hilir
- Pembangun Insfrastrukttur Menuju Obyek Wisata Kampar Sering Terbentur Regulasi


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.156.50.71
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com