Home > Advertorial >>
Berita Terhangat..
Senin, 18 Desember 2017 04:22
Garda Pemuda Nasdem Riau Gelar Rapat Konsolidasi

Ahad, 17 Desember 2017 18:04
Hindari Macet, Andi Jemput SK DPP PDIP Naik Ojek

Ahad, 17 Desember 2017 18:01
Puluhan Tim Pemadam Kebakaran RAPP Tambah Kompetensi di Situgal

Ahad, 17 Desember 2017 16:51
Kerancuan Regulasi Gambut Ancaman Serius Iklim Investasi Indonesia

Ahad, 17 Desember 2017 16:34
Andi-Suyatno Dapat Dukungan Resmi PDIP di Pilgubri 2018, Yopi Langsung 'Merapat'

Ahad, 17 Desember 2017 15:34
Gelorakan Ajaran Bung Karno, Repdem Rekrut Kader Muda di Siak

Ahad, 17 Desember 2017 15:28
4 Sepeda Motor Jadi Doorprize Gerak Jalan HUT ke-9 Kabupaten Kepulauan Meranti

Ahad, 17 Desember 2017 15:15
Kecam Pernyataan Trump, Ratusan Muslim di Duri Gelar Aksi Damai

Ahad, 17 Desember 2017 14:48
Resmi Diusung PDIP, Suyatno Ajak Kader Partainya dan Masyarakat Menangkan Pilgubri 2018

Ahad, 17 Desember 2017 14:24
Ditutup Wagubri, Pekanbaru Juara Umum MTQ ke-36 Riau di Dumai

Ahad, 17 Desember 2017 14:03
Dewan Bengkalis Tekankan RT dan Dinsos Tak Persulit Masyarakat Kurang Mampu

Ahad, 17 Desember 2017 13:37
Wabup Inhil Himbau Warga Tidak Mudah Percaya Isu Tidak Jelas

Ahad, 17 Desember 2017 13:35
Benarkan Putusan Partai,
PDI P Riau Imbau Kadernya Menangkan Paslon Andi Rachman-Suyatno di Pilgubri 2018


Ahad, 17 Desember 2017 13:31
DPW Garda Bangsa Riau Gelar Khitanan Massal untuk 100 Anak di Siak

Ahad, 17 Desember 2017 11:33
Diduga Hendak Membegal, Pemuda Asal Bangkinang Tewas Dihajar Warga Tambang



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 23 Nopember 2016 06:38
Program Pencegahan Penyakit Kaki Gajah di Rohil Memuaskan

Sebagai penyakit yang tidak bisa diobati, kaki gajah atau filariasis hanya bisa dicegah. Program ini terlaksana dengan baik di Kabupaten Rokan Hilir. Jumlah penderita terus menurun.

MULAI-tahun 2012, Kabupaten Rokan Hilir melakukan pemberian obat massal mencegah penyakit filariasis untuk lima tahun kedepan. Tahap awal, pelaksanaan berjalan sukses. Disusul tahun 2013, bulan Februari, pencanangannya dilaksanakan di Kepenghuluan Bagan Jawa secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan dr. Junaidi Saleh dilanjutkan pada sejumlah puskesmas, diawali sosialisasi.

Tahun 2014, Sosialisasi Pomp Filariasis Tahap 3 digelar di Aula Puskesmas Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokan Hilir. Sosialisasi tersebut diikuti empat kader dari 34 pos yandu untuk menghentikan penularan filariasis dikawasan tersebut, yang telah mencapai 21 orang.

Tahun 2015, menjadi kecamatan terbanyak penderita filariasis (kaki gajah, 23 penderita, red), 136 kader posyandu (34 posyandu, masing-masing 4 kader, red), ditambah seluruh tenaga kesehatan, baik bidan maupun perawat dari seluruh kepenghuluan kembali mendapatkan pelatihan kader filariasis. Pelatihan itu sebagai persiapan pemberian obat 1 Oktober tahun itu.

Ternyata, 42 warga Rokan Hilir terkena penyakit filariasis (kaki gajah). Pemkab setempat memasuki empat tahap pengobatan mulai tahun 2012. Bupati Suyatno, September 2015 meninjau dua pasien filariasis di Posyandu Bunga Tanjung, Kepenghuluan Lenggadai Hilir, Kecamatan Rimba Melintang, didampingi Ketua DPRD Nasrudin Hasan.

Memasuki tahap terakhir, Plt Sekda Rohil Drs. Surya Arfan, M.Si membuka secara resmi Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Tahap V Tingkat Kabupaten Rokan Hilir tahun 2016. Dia minta semua pihak ikut mensukseskan agenda nasional tersebut. Akhirnya pelaksanaan pemberian obat filariasis berjalan sukes.

Kesuksesan itu sebagai bentuk komitmen Pemkab Rohil mensukseskan program pemerintah pusat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, berawal dari tahun 2012.

Apa filariasis itu?. Menurut alodokter.com, filariasis adalah sejumlah infeksi yang disebabkan oleh cacing filaria. Penyakit ini dapat menyerang hewan maupun manusia. Parasit filaria memiliki ratusan jenis, tapi hanya delapan spesies yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia.

Pengelompokan filariasis umumnya dikategorikan menurut lokasi habitat cacing dewasa dalam tubuh manusia, yaitu filariasis kulit, limfatik, dan rongga tubuh. Lebih detail mengenai filariasis limfatik. Di Indonesia, penyakit ini lebih dikenal dengan istilah kaki gajah atau elefantiasis.

Lalu apa penyebab penularannya, menurut WHO, terdapat sekitar 120 juta orang di dunia yang menderita filariasis limfatik dan sepertiga di antaranya mengidap infeksi yang parah. Parasit yang dapat menyebabkan jenis filariasis ini meliputi *Wuchereria bancrofti, Brugia malayi*, dan *Brugia timori*.

*W. bancrofti merupakan parasit *yang paling sering menyerang manusia. Diperkirakan ada 9 dari 10 pengidap yang menderita filariasis limfatik akibat parasit ini.

Parasit filaria masuk ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi. Cacing tersebut akan tumbuh dewasa, bertahan hidup selama enam hingga delapan tahun, dan terus berkembang biak dalam jaringan limfa manusia.

Infeksi ini umumnya dialami sejak masa kanak-kanak dan menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang tidak disadari sampai akhirnya terjadi pembengkakan yang parah dan menyakitkan. Pembengkakan tersebut kemudian dapat menyebabkan cacat permanen.

Agar tidak terjadi cacat permanen, Pemkab Rohil mulai melakukan pemberian obat filariasis mulai tahun 2012. Februari 2012, secara resmi telah dilaksanakan serentak di semua daerah di wilayah Kabupaten Rohil. Suksesnya kegiatan untuk mencegah penyakit filariasais tersebut perlu dilakukan secara bersama-sama termasuk masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rohil, dr H Muhammad Junaidi Saleh MKes menyatakan, pencanangan dipusatkan di Kepenghuluan Baganjawa, Kecamatan Bangko. ''Penyakit ini harus kita cegah secara bersama-sama. Tanpa ada kebersamaan, jelas ini sulit untuk dilakukan,'' kata Junaidi.

Obat yang telah diterima itu, tambah Junaidi, harus segera diminum. ''Sebelum minum obat untuk mencegah filariasis itu, saya anjurkan agar makan terlebih dahulu. Kegiatan seperti ini, pernah dilakukan ujicoba di wilayah Kecamatan Pekaitan. Semuanya aman dan lancar saja. Setelah minum obat, bila ada keluhan, segera datang ke puskesmas terdekat. Sampaikan keluhan itu kepada petugas kesehatan,'' kata Junaidi.

Dalam pencanangan tersebut, dr HMuhammad Junaidi Saleh MKes memberikan obat secara simbolis kepada Camat Bangko, H Muhammad Nurhidayat. Usai penyerahan tersebut, Junaidi bersama Nurhidayat dinobatkan untuk meminum obat yang pertama kali. Selanjutnya diikuti oleh sejumlah kader tim penggerak PKK serta para tokoh dan pemuka masyarakat yang ada di Kepenghuluan Baganjawa. ''Rasanya biasa saja. Setelah minum obat ini, diharapkan mata rantai penularan penyakit Filariasis ini dapat diputuskan,'' kata Junaidi.

Sukses pelaksanaan tahun 2012, dilanjutkan tahun 2013, lalu memasuki tahun 2014. Sosialisasi menjadi kunci sukesnya sampai ke puskesmas. Sosialisasi Pomp Filariasis Tahap 3 digelar di Aula Puskesmas Panipahan, Kecamatan Pasir Lumau Kapas, Rokan Hilir Agustus 2014. Sosialisasi tersebut diikuti empat kader dari 34 pos yandu untuk menghentikan penularan filariasis dikawasan tersebut, yang telah mencapai 21 orang.

Kepala Puskesmas Panipahan dr Netty Zainuddin menjelaskan, kegiatan sosialisasi diawali penyampaian materi oleh pemegang program dan tanya jawab peserta kepada pihak puskesmas tentang penyakir filariasis (kaki gajah, red).

“Kadiskes dr H M Junaidi Saleh, M.Kes dan Kabid P2P (saat itu, red) dr Tribuana telah mendukung acara ini sehingga terlaksana cepat dan memberikan transportasi pada semua kader posyandu yang datang,” kata Netty.

Dengan digelar sosialisasi ini diharapkan Netty, kasus filariasis terhadap 21 orang yang sudah tertular bisa dihentikan dan tidak bertambah lagi. ”Semoga kesadaran masyarakat untuk minum obat juga makin tinggi, dan setelah acara ini kader akan mulai kembali melakukan pendataan berapa sasaran yang minum obat,” tambahnya.

Dalam pada itu, sejumlah kader senang bisa mengikuti acara ini, dan tidak merasa bosan, senang membantu membagikan obat ini kepada masyarakat secara gratis dan agar jumlah penderita filariasis dikecamatan ini tidak bertambah.

Usai sosialisasi, bersiap memberikan obat September 2014. Menjadi kecamatan terbanyak penderita filariasis, sudah bertambah 2 penderita (kaki gajah, 23 penderita, red), 136 kader posyandu (34 posyandu, masing-masing 4 kader, red), ditambah seluruh tenaga kesehatan, baik bidan maupun perawat dari seluruh kepenghuluan mendapatkan pelatihan kader filariasis. Pelatihan itu sebagai persiapan pemberian obat 1 Oktober tahun itu.

“Jika masyarakat minum obat, ada yang mengalami gangguan atau efek samping maka dapat segera diatasi oleh tenaga kesehatan kita,” kata Kepala Puskesmas Panipahan, dr Netty Juliana.

Menurut pemegang program, Nizar, sasaran pemberian obat filariasis se Kecamatan Pasir Limau Kapas 35.769 jiwa, dari total penduduk 38.684 jiwa.

“Adapun yang ditunda pemberian obat adalah anak anak usia dibawah 2 tahun, bumil, penderita gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati, orang yang sedang sakit berat, penderita filariasis serangan akut, balita marasmus, kwashiorkor, penduduk usia lanjut diatas 75 tahun, penderita epilepsy,” ujarnya.

Saat ini total penderita filariasis di Kecamatan Pasir Limau Kapas katanya 23 orang. “Karena kita kecamatan yang paling banyak penderita filariasis dari hasil pelacakan, untuk itu dibutuhkan keseriusan dari semua pihak agar bisa bekerja sama dalam pelaksanaan pomp filariasis tahap 4 ini,” tutupnya.

Memasuki tahun 2015, untuk se Rohil, 42 warga terkena penyakit filariasis (kaki gajah). Pemkab setempat memasuki empat tahap pengobatan mulai tahun 2012, dan akan melaksanakan pencanangan makan obat serentak 1 Oktober 2015.

Bupati Suyatno, September 2015 meninjau dua pasien filariasis di Posyandu Bunga Tanjung, Kepenghuluan Lenggadai Hilir, Kecamatan Rimba Melintang, didampingi Ketua DPRD Nasrudin Hasan.

Dua penderita bernama Mahidin dan Ahmad Dahlan, sempat berdialog dengan Suyatno dan Nasrudin, ternyata mereka sudah terkena penyakit itu sejak usia muda, dan keluarganya tidak ada yang tertular.

“Khusus pemerintah Kabupaten Rokan Hilir sudah empat tahap, mulai dari tahun 2012, sudah melakukan gerakan-gerakan bersifat sosial kemasyarakatan, khususnya, masyarakat terkena penyakit filariasis ini. Data terakhir yang kita peroleh dari Dinas Kesehatan, mencapai 42 orang se-Kabupaten Rokan Hilir. Insya Allah besok (1/10/15), pencanangan secara serentak di Kabupaten Rokan Hilir,” kata Bupati Suyatno.

Tidak hanya sekedar pencanangan makan obat massal filariasis, Bupati Suyatno juga diagendakan melakukan teleconference dengan Presiden Jokowi terkait filariasis.

Disamping itu, Bupati Suyatno juga minta melalui tenaga medis senantiasa melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar yang sudah terkena penyakit itu, melakukan pengobatan secara kontinue agar tidak merebak kemana-mana.

Dia juga minta masyarakat membersihkan lingkungan, karena salah satu penyebab filariasis berasal dari cacing yang ditularkan melalui nyamuk, akibat lingkungan kurang bersih.

Sehingga melalui camat, datuk penghulu, agar memotori masyarakat melaksanakan gotong royong bersama.

Sementara itu, Eriani, Bidan Desa, Lenggadai Hilir menjelaskan, pembagian obat filariasis memasuki tahap keempat, dan menunggu tahap kelima saja, agar mampu membunuh penyebab filariasis sampai kesel-sel kulit.

“Lima tahun itu, nanti kita ambil darah tepi, dijari, nanti kita lihat, apabila dia sudah negatif. Kalau masih positif masih ada kumannya, berobat sendiri. Sekarang dibiayai dunia, kalau juga terdapat, kita kena embargo, ngak bisa melakukan perjalanan keluar negeri, karena dianggap membawa kuman,” ujarnya.

Untuk dua pasien Mahidin, Ahmad Dahlan, sudah membesar kakinya, apabila timbul gejala demam, diobati demamnya, namun untuk sembuh sebagaimana awalnya, tidak bisa lagi.

“Makanya begitulah kerasnya pemerintah, khususnya orang kesehatan untuk memberantas kumannya Pak. Kan kasihan Pak, sampai cacat permanen seperti itu,” tutupnya.

Pencanangan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga), Bupati Suyatno gelar video conference dengan Menteri Kesehatan, Mila F Muluk. Bupati Suyatno disuruh makan obat kaki gajah saat itu juga.

Video conference dilakukan Kamis (1/10/15) sekira pukul 14.30 WIB, Bupati Suyatno didampingi Wakil Bupati saat itu, Erianda, Anggota DPRD Tatang Hartono, Plt Sekda Drs. Surya Arfan, M.Si dari halaman kantor Dinas Kesehatan, sedangkan Menteri Kesehatan, Mila F Muluk, dari Kabupaten Bogor.

Menteri Kesehatan Mila F Muluk menanyakan kepada Bupati Suyatno apakah sudah makan obat filariasis, dan dijawab belum, maka, disuruh makan, disaksikan kabupaten yang juga menggelar video konference, meliputi Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kabupaten Banyuasin, Sumsel, Kabupaten Katingan, Kalteng, Kabupaten Teja Una Una, Sulteng.

Bupati Suyatno menyampaikan aspirasi tenaga medis Rohil kepada Menkes agar mendapat perhatian, karena berbatasan dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Menteri Kesehatan Mila F Muluk berjanji akan memperhatikan kawasan perbatasan termasuk Rokan Hilir, karena sudah menjadi prioritas pemerintah.

Menkes juga menyebut, video konference kali ini sebenarnya langsung dengan Presiden Joko Widodo, namun sehabis peringatan hari kesaktian pancasila, berhalangan, termasuk Menko SDM dan Kebudayaan, Puan Maharani.

Sebelum video conference, Bupati Suyatno juga berkesempatan mencanangkan Belkaga di Rokan Hilir, dia meminta camat sampai penghulu untuk membersihkan lingkungan, memerangi nyamuk, sebagai penyebab kaki gajah, atas cacing yang dibawanya.

Usai video conference, Bupati Suyatno ketika diwawancara mengaku senang bisa melakukan video conference dengan Menteri Kesehatan. "Ini yang pertama kali, saya mengadakan video conference bersama Ibu Menteri," ujarnya.

Sementara itu, dr Junadi Saleh, Kepala Dinas Kesehatan Rohil melaporkan, untuk Rohil, pencanangan belkaga ini memasuki tahun keempat.

Memasuki tahun kelima (tahun 2016, red), Plt Sekda Rohil Drs. Surya Arfan, M.Si Agustus 2016 membuka secara resmi Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Tahap V Tingkat Kabupaten Rokan Hilir tahun 2016. Dia minta semua pihak ikut mensukseskan agenda nasional tersebut.

Dalam pengarahannya, Surya Arfan mengatakan, filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah, merupakan salah penyakit tropik yang disebabkan oleh kuman filaria yang saat ini mulai terabaikan, ternyata masih ada ditengah-tengah masyarakat, penderita bisa cacat menetap menimbulkan dampak sosial dan penurunan produktivitas terhadap penderita dan keluarga.

“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir tahun 2015, bahwa kasus kronis filariasis ini 40 orang yang tersebar diempat kecamatan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rimba Melintang, Bangko Pusako,” katanya yang masih belum menyebut satu kecamatan.

Dengan telah ditetapkannya Kabupaten Rokan Hilir dari 7 kabupaten/kota untuk Riau, maka pemberian obat pencegahan filariasis kepada seluruh penduduk, wajib diberikan selama 5 tahun berturut-turut.

“Alhamdulillah, Kabupaten Rokan Hilir telah mencapai target dan ini tahun yang ke-5, putaran terakhir, dengan harapan minimal 65 persen dari target yang ditentukan,” targetnya.

Pemberian obat fiariasis secara massal menurut Surya tentunya memerlukan dukungan dan peran serta seluruh pemangku kebijakan, seluruh lapisan masyarakat, terutama masyarakat Kabupaten Rokan Hilir.

“Pada kesempatan yang baik ini berharap kepada seluruh Pak Camat, sebagai penguasa diwilayahnya, untuk dapat mendukung pelaksanaan pemberian obat filariasis ini yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Oktober serentak di 130 kabupaten/kota seluruh Indonesia,” uajrnya.

Pihak yang diminta juga mensukeskan, Kepala Dinas Kesehatan beserta jajarannya, terutama kepala puskesmas, agar bekerja maksimal dan bisa memastikan obat yang diberikan sampai kepada masyarakat. “Pendistribusian sampai kepada masyarakat dan diminum oleh masyarakat itu,” penekanannya.

Surya menilai juga perlu dilakukan sweeping agar bisa memastikan, pencapaian yang diharapkan, semua masyarakat Rokan Hilir telah meminum obat ini.***(noprio sandi/advertorial Pemkab Rohil/Humas)





Berita lainnya..........
- Rokan Hulu Expo 2017 di Pasirpangaraian Resmi Dibuka Wakil Bupati Sukiman
- PT SPR Lakukan Penandatanganan MoU dengan PT Sucofindo
- Janjikan Arena Tertib dan Bebas Alkohol,
Ten Pool Billiard Sport Centre Hadir di Duri

- Tingkatkan Pelayanan Kesehatan di RSUD Bangkinang, Pemda Kampar Bangun Gedung Baru
- Dibuka Ketua DPRD Riau,
FWL DPRD Riau Taja Pelatihan Jurnalistik di SMK Ekatama, Pekanbaru

- Reses Anggota DPRD Riau Sewitri,
Terima Laporan Masyarakat Soal Perusahaan tak Salurkan CSR

- Pengabdian pada Masyarakat,
Guru Besar UR Latih Warga Banglas Barat, Meranti Bikin Mie Sagu Aneka Rasa

- Anggota DPR RI Sayed Abubakar dan Menteri ESDM Berkurban di Pekanbaru
- Gunakan Aplikasi Berbasis IT, Kecamatan Bukit Raya Komit Tak Repotkan Warga
- Dipimpin Andi Rachman, Provinsi Riau Bangkit dari Keterpurukan Masa Lalu


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.92.194.75
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com