Home > Advertorial >>
Berita Terhangat..
Rabu, 23 Mei 2018 23:00
Usulkan 248 Kouta CPNS,
Bupati dan BKD Meranti bertemu Langsung dengan Menpan-RB


Rabu, 23 Mei 2018 22:48
TPPU Penyertaan Modal Pemkab Bengkalis, Mantan Bupati Terancam Jadi Tersangka

Rabu, 23 Mei 2018 22:43
Rampok Toke 2 Kg Emas di Langgam, Salah Seorang Pelaku Hanya Kebagian Rp3 Juta

Rabu, 23 Mei 2018 22:30
Legislator Yulianti Buka Bersama dengan FWL DPRD Riau

Rabu, 23 Mei 2018 20:58
Tolak HGU PT TSUM,
Gemmpar Berencana Audiensi dengan Bupati dan Pimpinan DPRD Pelalawan


Rabu, 23 Mei 2018 20:53
Cagubri Lukman Edy: Bibit Radikalisme Tumbuh karena Adanya Pembiaraan

Rabu, 23 Mei 2018 19:33
Safari ke Bengkalis,
Danrem 031/Wirabima Imbau Masyarakat Aktifkan Siskamling untuk Cegah Teroris


Rabu, 23 Mei 2018 19:28
Buka Akses Jalan Lintas Bono Teluk Meranti,
Warga: Dihati Kami Cuma Andi Rachman Jadi Pilihan


Rabu, 23 Mei 2018 19:22
Ini Program Kesehatan Unggul yang Ditawarkan DR.Firdaus-Rusli Effendi

Rabu, 23 Mei 2018 19:13
Peningkatan Jalan Penghubung Tiga Desa,
Kadis PU Tarukim Siak Minta PT Musi Mas Komit Laksanakan MoU


Rabu, 23 Mei 2018 17:15
RAPP Salurkan Ratusan Paket Sembako ke Warga di Pelalawan

Rabu, 23 Mei 2018 17:11
Wardan Targetkan Terhubungnya Akses Jalan Antar Kecamatan di Inhil

Rabu, 23 Mei 2018 16:53
Sebuah Rumah di Sebauk, Bengkalis Ludes Terbakar

Rabu, 23 Mei 2018 16:48
Klarifikasi LBH PAHAM Cabang Riau, Oknum Pengacaranya Tilap Uang Terpidana Kasus Narkoba

Rabu, 23 Mei 2018 16:27
Minim Realisasi Fisik, DPRD Riau Sotori Lambannya Kinerja Kontraktor dan Dinas Terkait



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 23 April 2018 13:57
Kampung Sehat, Kampungnya Bengkalis Ber-PHBS

Di Bengkalis ada Kampung Sehat dimana warganya sudah mendeklarasikan diri untuk tidak BABS.

Riauterkini-BENGKALIS- Begitu pentingnya kebersihan menurut Islam, sehingga orang yang membersihkan diri atau mengusahakan kebersihan akan dicintai oleh Allah SWT. Sebagaimana firmannya dalam Surah Al-Baqarah ayat 222, Artinya : “........Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang menyucikan/membersihkan diri”.

Kebersihan itu bersumber dari iman dan merupakan bagian dari iman. Dengan demikian kebersihan dalam Islam mempunyai aspek ibadah dan aspek moral, dan karena itu sering juga dipakai kata “bersuci” sebagai pedoman kata “membersihkan/melakukan kebersihan”.

Ajaran kebersihan tidak hanya merupakan slogan atau teori belaka, tetapi harus dijadikan pola hidup praktis, yang mendidik manusia hidup bersih sepanjang masa, bahkan dikembangkan dalam hukum Islam.

Secara khusus, Rasulullah SAW memberikan perhatian mengenai kebersihan. Artinya : “Kebersihan itu sebagian dari iman”. (HR. Ahmad).

Isi kandungannya adalah umat Islam wajib menjaga kebersihan lahir dan bathinnya. Kedua, menjaga kebersihan lahir dan bathin merupakan ciri-ciri sebagian dari iman dalam kehidupannya.

Hadits tersebut menjelaskan bahwa kebersihan merupakan sebagian dari iman. Artinya seorang muslim telah memiliki iman yang sempurna jika dalam kehidupannya ia selalu menjaga diri, tempat tinggal dan lingkungannya dalam keadaan bersih dan suci baik yang bersifat lahiriyah (jasmani) maupun bathiniyah (rohani).

Artinya : “Agama Islam itu (agama) yang bersih, maka hendaklah kamu menjaga kebersihan, karena sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang bersih”. (HR. Baihaqy)

Islam pun memberikan tuntunan dalam hal menjaga kesehatan lingkungan, yang diungkapkan dalam hadist : Artinya: "Maka bersihkanlah pekaranganmu dan ruang tempat tinggalmu, dan janganlah Kamu seperti orang yahudi yang menumpuk-numpuk sampah dirumah".(HR.Al-Bazzar).

Artinya: "Jauhilah hal-hal yang menyebabkan timbulnya 3 laknat ;s membuang kotoran, di sumber air bersih, di jalan raya dan di tempat berteduh".(HR. Abu Daud).

Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan prilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu mendorong dirinya sendiri dibidang kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan yang diharapkan.

Ajaran Islam menentukan penganutnya supaya hidup sehat baik jasmani maupun rohani. Untuk itu umat Islam harus melaksanakan berbagai upaya pembinaan PHBS, juga upaya memahami ilmu kesehatan, maupun upaya untuk berobat, memelihara kesehatan, mencegah berjangkitnya suatu penyakit dan sebagainya.

Firman Allah SWT Surat Ar-Ra’ad ayat 11, Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Sudah berjalan tiga tahun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis melakukan motivasi kepada seluruh desa di daerah ini untuk meningkatkan PHBS. Diantaranya, melakukan penyuluhan dan pelatihan maupun pembinaan sejumlah desa-desa untuk memenuhi 10 indikator yang wajib dipenuhi.

Misalnya, Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), desa mendeklarasikan bahwa warganya tidak ada lagi Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau mendeklarasikan stop BABS.

Kampung atau desa sehat sebagai desa PHBS setidak-tidaknya harus memenuhi 10 indikator penilaian yang dimaksud itu. Diantaranya; pertama, warga penduduk desa tidak ada yang bersalin di rumah atau tenaga semacam ‘dukun’ untuk melahirkan, akan tetapi hanya ditangani oleh tenaga kesehatan atau dengan peralatan medis.

Kedua, warga desa sudah mendeklarasikan stop BABS. Ketiga, masyarakatnya juga sudah melaksanakan ASI ekslusif kepada bayi yang dilahirkan. Keempat, desa itu mampu menekan kasus demam berdarah atau DBD dalam kurun waktu tiga tahun terakhir dilaporkan nihil.

Kemudian, kelima makan sehari-hari memenuhi standar kesehatan seperti ada sayur dan buah-buahan. Keenam, masyarakatnya sudah menggunakan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Ketujuh, tidak merokok di dalam rumah, kedelapan, menimbang bayi setiap bulan, kesembilan mencuci tangan dengan air sabu, dan kesepuluh, berolahraga atau aktivitas fisik setiap hari.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis Supardi, S.Sos, MH, melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Irawadi SKM, M.Ph menjelaskan, hingga tahun 2018 ini, Program PHBS telah memasuki tiga tahun berjalan. Melalui program ini yang dilaksanakan setiap tahun agar desa-desa termotivasi untuk menciptakan kesadaran masyarakat yang hidup bersih dan sehat di lingkungannya masing-masing.

Warga desa wajib memenuhi 10 Indikator penilaian, sebagai desa disebut ber-PHBS. Sebagai rangsangan seluruh desa di Kabupaten Bengkalis, diberikan kesempatan yang sama agar mewakili masing-masing kecamatan untuk dinobatkan sebagai desa atau kampung sehat karena sudah memenuhi 10 indikator itu.

“Setiap kecamatan mengutus satu desa yang memenuhi PHBS dan akan ikut diperlombakan ke tingkat kabupaten. Setelah itu tim akan turun untuk melakukan pemantauan sekaligus penilaian menentukan desa terbaik,” ungkap Irawadi.

Selanjutnya, hasil terbaik dari penilaian Tim Kabupaten Bengkalis maka desa tersebut akan diutus mewakili kabupaten mengikuti perlombaan di tingkat provinsi. Nah, selanjutnya akan melalui proses penilaian, dan apabila desa di Kabupaten Bengkalis ini dinyatakan provinsi sebagai desa dengan poin tertinggi maka akan mewakili provinsi untuk penilaian ke tingkat nasional.

“Untuk tahun ini, pemerintah kecamatan sudah diminta untuk mempersiapkan desa-desa yang dipilih, artinya penilaian di kecamatan sudah berjalan. Sedangkan untuk tingkat provinsi dimulai pada September 2018 mendatang,” katanya lagi.

Irawadi juga menyebutkan, sebagai motivasi kepada desa yang semangat untuk memenuhi 10 indikator yang mencapai poin terbaik Dinkes Kabupaten Bengkalis akan memberikan penghargaan. Selain sertifikat berupa hadiah pembinaan, yakni poin tertinggi atau juara pertama berhak menerima penghargaan sebesar Rp7,5 juta, tertinggi kedua sebesar Rp5 juta dan ketiga Rp4 juta.

Pada tahun 2017 lalu, salah satu desa di Kabupaten Bengkalis dinobatkan sebagai desa ber-PHBS adalah Desa Resam Lapis, Kecamatan Bantan. Juga sebagai pilot project desa PHBS di daerah ini. Desa Resam Lapis mewakili Kabupaten Bengkalis juga berhasil meraih terbaik kedua ketika diperlombakan ke tingkat Provinsi Riau.

Seperti di Desa Resam Lapis, beberapa indikator yang sudah dipenuhi 100 persen antara lain pertama adalah warganya dalam proses persalinan atau melahirkan seluruhnya sudah menggunakan tenaga kesehatan atau medis dan tidak melahirkan di rumah, indikator.

kedua, tidak ada lagi warga penduduk yang melakukan BABS seperti di parit atau sungai, seluruhnya sudah menggunakan jamban sehat yang standar tertutup dan tidak berbau. Sedangkan indikator, ketiga adalah warga desa seluruhnya sudah menggunakan 100 persen air bersih. Sedangkan untuk 7 indikator lainnya, dengan penilaian rata-rata 78 persen.

Seperti di Desa Resam Lapis ini, jika pergi ke rumah warga dan tamu merokok di dalam rumah tidak dibenarkan. Apabila tamu berkeinginan merokok disarankan untuk merokok di tempat yang sudah disiapkan yakni pojok rokok.

“Kita berharap, desa-desa lain mengambil contoh Desa Resam Lapis ini, agar muncul desa-desa di Kabupaten Bengkalis yang dinobatkan sebagai desa PHBS,” harapnya.

Menciptakan kampung sehat ber-PHBS ini, salah satu indikator yang sangat penting adalah tidak ada lagi ditemukan warga yang terindikasi BABS. Pada tahun anggaran 2017 lalu, Dinkes Kabupaten Bengkalis melalui Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kabupaten Bengkalis, terus melakukan pencanangan pembuatan jamban sehat keluarga dalam rangka meningkatkan PHBS tempat tinggal di beberapa desa yang terindikasi BABS.

Pencanangan pembuatan jamban ini, tidak hanya akan melibatkan pihak desa dan warga tempatan, akan tetapi juga bekerjasama dengan TNI dan Polri. Petugas Dinkes menawarkan program kesehatan, masyarakat yang merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi.

Program STBM ini, masyarakatlah yang secara mandiri kemudian menetapkan, keputusan program penghentian BABS. Setelah warga satu desa tidak BABS, baru diselenggarakan deklarasi desa terbebas dari BABS.

Yang sangat penting untuk diperhatikan adalah, bagaimana menyadari bahaya prilaku hidup tidak sehat seperti menyebabkan penyakit, dan diyakini akan menghambat pertumbuhan fisik anak-anak generasi mendatang.

Pada 2017 lalu, berdasarkan data Dinkes Kabupaten Bengkalis bahwa untuk Open Defecation Free atau desa yang memastikan sudah melaksanakan Stop BABS antara lain, Kecamatan Bengkalis 13 desa, Bantan 16, Bukitbatu 9, Mandau 1, Pinggir 8, Rupat 1, Rupat Utara 5, Siakkecil 7 desa.

Sedangkan untuk desa yang belum deklarasi masing kecamatan, Bengkalis 2 desa, Bantan 1, Bukitbatu 1, Mandau 1, Pinggir 8, Rupat 1, Rupat Utara 5, Siakkecil 4. Kemudian jumlah desa yang sudah deklarasi, Kecamatan Bengkalis 11 desa, Bantan 15, Bukitbatu 8 desa, Mandau 0, Pinggir 0, Rupat 0, Rupat Utara 0, dan Siakkecil 3 desa.

Sedangkan total desa yang sudah mendeklarasikan StopBABS di Kabupaten Bengkalis baru mencapai 37 desa.

Sementara itu, hingga kurun waktu 2017, sudah ada 60 desa dari 136 desa yang Stop BABS dan masih ada di 76 desa terindikasi sejumlah keluarga masih BABS. Ini menjadi tantangan berat Dinkes Kabupaten Bengkalis kedepan untuk merubah perilaku masyarakat agar ber-PHBS.

Bukan Lips Service, Terus Dievaluasi

Menanggapi sudah berjalannya tiga tahun program Dinkes Kabupaten Bengkalis untuk memotivasi masyarakat ber-PHBS ini, Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bengkalis menilai, bahwa dari sisi konsep program tersebut cukup baik. Akan tetapi, dari sisi pelaksanaan yang sudah berjalan beberapa tahun itu tentu konsep ini diingatkan jangan hanya sekedar konsep semata.

Dinkes Kabupaten Bengkalis yang terpenting adalah terus memberikan penyuluhan serta pembinaan kepada masyarakat agar PHBS ini betul-betul disadari oleh masyarakat tidak hanya sekedar sebuah kegiatan yang diperlombakan, akan tetapi riilnya tidak memenuhi indikator yang sudah ada dalam PHBS.

“Kami mengapresiasi Dinkes Kabupaten Bengkalis yang sudah melakukan upaya ini, namun harus tetap dievaluasi. Kegiatan PHBS yang diperlombakan dan sudah berjalan tiga tahun, tetapi tidak memiliki efek terhadap pola hidup masyarakat tentu ini harus dipertimbangkan,” ungkap Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Bengkalis, Irmi Syakip Arsalan.

Komisi IV menghendaki, bahwa kegiatan ataupun program ini jangan hanya sekedar lips service atau ‘ucapan bibir’, namun harus berimplikasi terhadap masyarakat. Ada 10 indikator yang wajib dipenuhi apabila desa atau kampung disebut sebagai kampung ber-PHBS.

“Oleh karena itu perlu dievaluasi, dimonitor kegiatan ini dan terpenting memberikan penyuluhan, pembinaan sehingga muncul kesadaran masyarakat terus meningkat,” kata politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bengkalis ini.

Menurutnya lagi, dengan adanya perlombaan yang melibatkan seluruh desa di Kabupaten Bengkalis, merupakan upaya Pemkab Bengkalis untuk mendorong bagaimana masyarakat PHBS. Akan tetapi, konsep dasarnya lebih dari pada itu, perlombaan hanya bersifat memberikan semangat kepada masyarakat agar terpancing meningkatkan pola hidup bersih dan sehat di lingkungannya masing-masing.

“Hanya saja saat ini dengan adanya konsep ini tidak bisa mengalir begitu saja, Dinkes diharapkan lebih intensif memberikan penyuluhan, kampanye bekerjasama dengan aparat desa ataupun stokeholder yang ada, melalui Pustu, Poskesdes, Puskesmas dan tenaga medis,” ujarnya lagi.

Lanjutnya, menimbulkan kesadaran yang tertanam dalam diri masyarakat sangat penting. Tidak hanya sebatas seremoni setiap tahun, seperti perlombaan namun substansi dari konsep dasarnya juga harus dicapai. Kedepan konsep ini diharapkan dapat berjalan dengan baik, Dinkes akan terus melakukan pembenahan jika ada kelemahan-kelemahan yang ada.

“Kita tetap melakukan pengawasan terkait pelaksanaannya di lapangan. Dinkes untuk membuat persentase atau mengukur keberhasilan dari konsep PHBS ini, mulai dari tahun pertama dan seterusnya dari adanya 10 indikator yang sudah terpenuhi ataupun belum terpenuhi. Langkah ini untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dari program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan,” tegasnya.

Peran Masyarakat Sukseskan PHBS

Sementara itu, sebagai salah satu desa yang dinobatkan sebagai pilot project atau percontohan Desa ber-PHBS di Kabupaten Bengkalis, serta menyandang gelar peringkat kedua di Provinsi Riau, Kepala Desa (Kades) Resam Lapis, Junaidi, ST menyatakan, bahwa prestasi tersebut sangat membanggakan apalagi desa yang pertama dipimpinnya ini merupakan desa pemekaran.

Namun, menurutnya prestasi tersebut adalah hadiah untuk masyarakat Desa Resam Lapis, bukan hanya untuk dirinya saja. Karena keberhasilan desa ini memenuhi penilaian PHBS rumah tangga itu adalah seluruhnya peran aktif dan dukungan dari masyarakat.

Diceritakan Junaidi, sebelum menjadi kandidat mewakili kabupaten dalam perlombaan desa PHBS di Riau, desanya terpilih sebagai terbaik pertama ditingkat kabupaten, unggul dari beberapa desa yang mengikuti perlombaan ini. Poin yang sangat penting dari PHBS ini, bahwa seluruh masyarakat Desa Resam Lapis sudah mendeklarasikan Stop BABS.

Menurutnya, dari 10 indikator penilaian itu, ada 3 indikator masyarakat desanya yang sudah 100 persen dilaksanakan. Pertama, persalinan dengan menggunakan tenaga kesehatan atau medis, kedua, kemudian tidak ada warga yang BABS seperti di parit atau sungai, dan ketigaseluruh warga desa sudah menggunakan 100 persen air bersih.

Kemudian terkait dengan adanya indikator tidak merokok di dalam rumah, diakui Junaidi, memang sangat berat. Dan menurutnya ini menjadi tantangan masyarakatnya.

Akan tetapi, terus menghimbau kepada masyarakat agar bersama-sama tidak merokok di dalam rumah. Dan beberapa indikator lainnya seperti makan makanan sehat, pemberian ASI eksklusif pada bayi, mencuci tangan pakai sabun, rata-rata penilaiannya sudah mencapai 78 persen.

“Penilaian PHBS Desa Resam Lapis oleh tim secara berkala, sejak 2016 hingga 2017 trennya sangat positif. Artinya, kesadaran warga desa yang ber-PHBS terjadi peningkatan,” ungkapnya.

Tahun 2018 ini, upaya mempertahankan serta meningkatkan kesadaran warga ber-PHBS rumah tangga, Desa Resam Lapis disebutkan Junaidi, pihaknya bersama seluruh komponen masyarakat sudah melakukan pemetaan. Meskipun ada sebagian kegiatan di luar dari 10 indikator penilaian, akan tetapi sangat menunjang prestasi PHBS itu sendiri.

Seperti, mendukung Gerakan Bantan Hijau, Bantan Bersih, pihaknya merencanakan melakukan penghijauan di ruas jalan lingkungan desa, dengan cara menanami tanaman penghijau bukan produktif.

Selanjutnya, rencana memberdayakan masyarakat desa untuk melakukan pengelolaan sampah-sampah rumah tangga, dari organik atau anorganik membentuk kader atau bank sampah atau relawan peduli sampah untuk memberikan pemahaman dan kesadaran kepada masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dari sampah.

“Kemudian program lain, apabila kita didukung dengan finansial, rencananya 2018 ini, kita akan membangun jamban yang layak khusus untuk kalangan keluarga yang kurang mampu. Karena masih ada yang menggunakan jamban meskipun sudah dikatakan jamban sehat, tapi kelayakannya belum. Harapan kita sadar hidup bersih dan sehat warga terus meningkat, sejalan dengan desa ini sebagai Desa Kampung KB,” harapnya.***(dik/adv)





Berita lainnya..........
- Majukan Inhu, Bupati Yopi Gesa Pembangunan Berbagai Insfrastruktur
- Wabup Bersama Ribuan Warga Nikmati Malam Puncak Perayaan HUT ke-9 Kabupaten Meranti
- Dibawah Kepemimpinan Bupati Yopi Arianto, RSUD Indrasari Inhu Berkembang Pesat
- Bupati Yopi Komit Tingkatkan Prestasi dan Kualitasi Pendidikan Inhu
- Gubri Yakin Sagu Bisa Dijadikan Alternatif Pangan, Solusi Alih Fungsi Lahan
- Bupati Kampar Sillaturrahim dengan Masyarakat Kampar Natuna
- Pemda Kampar Peringati Hari Guru Nasional dan HUT ke-71 PGRI
- Tingkatkan Ekonomi Masyarakat, Pemda Kampar Benahi Pasar Tradisional
- Ciptakan KIK, Pemda Kampar Hadirkan Kementerian Perindustrian dan Pusat Studi UGM
- Gubri Lepas Pawai Taaruf dan Pembukaan Bazar MTQ XXXVI Riau


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com