Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Senin, 23 April 2018 15:30
Didukung Mantan Bupati Bengkalis Syamsurizal, Firdaus Siap Door to Door Menangkan Firli

Senin, 23 April 2018 15:24
Panwaslu Bengkalis Selidiki Temuan Politik Uang Kampanye Paslon di Rupat

Senin, 23 April 2018 15:07
Supervisi di Polres Kampar,
Polwan Miliki Tanggung Jawab Sama dengan Anggota Polri Lainnya


Senin, 23 April 2018 15:03
Awalnya Dikira Besi Tua,
Rupanya 2 Benda Ditemukan Karyawan PT. BIP Ujung Batu Granat Nanas


Senin, 23 April 2018 14:59
Bupati Pelalawan dan Anggota DPRD Tinjau Titik Banjir dan Jalan Rusak di Pangkalan Kerinci

Senin, 23 April 2018 14:41
Temui Abdul Wahid, Warga Pelangiran Inhil Bulatkan Tekad Menangkan Lukman Edy-Hardianto

Senin, 23 April 2018 14:28
Diikuti 12.000 Peserta, Bupati Bengkalis Tinjau UN Tingkat SMP di Duri

Senin, 23 April 2018 14:22
KONI Pekanbaru Resmi Dilantik

Senin, 23 April 2018 14:19
Kerja Puluhan Tahun Diselesaikan Tiga Tahun, Bulan Ini RTRW Riau Diprediksi Tuntas

Senin, 23 April 2018 14:12
Program Rumah Layak Huni untuk Riau Sudah Nyata, Warga Kelayang Coblos Nomor 4


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 12 Januari 2017 16:40
Langgar Komitmen FCP, APP Ubah Desa Jadi Kebun Akasia

Komitment APP group untuk melaksankana kebijakan FCP tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak perusahaan-perusahaan yang berafiliasi mengubah desa menjadi kebun akasia.

Riauterkini-PEKANBARU-Sejak 1 February 2013 lalu, APP Group melaksanakan kebijakan komitment forest conservation policy (FCP). Yaitu pertama menyampaikan informasi kepada dan memperoleh persetujuan atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC) dari masyarakat lokal maupun adat. Kedua adalah penanganan keluhan yang bertanggung jawab.

Ketiga adalah penyelesaian Konflik yang bertanggung jawab dengan dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional. Keempat adalah program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penghormatan terhadap hak asasi manusia, mengakui dan menghormati hak-hak karyawannya, kepatuhan terhadap hukum, prinsip dan kriteria sertifikasi bertaraf internasional yang relevan.

Tetapi pada kenyataannya menurut Direktur Scale up, Harry Octavian Kamis (12/1/17) sangat berbeda antara komitment dengan realisasi di lapangan. Dari 73 konflik sumber daya alam di Riau pada 2016, 10 konflik terjadi di perusahaan-perusahaan yang berafiliasi ke group APP.

Komitment APP group mengenai penyelesaian Konflik yang bertanggung jawab dengan dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Mengubah Kampung Menjadi Kebun Akasia Dari 10 konflik yang terjadi di perusahaan-perusahaan yang berafiliasi di group APP, 3 diantaranya terjadi di Kampar, Teluk Meranti dan Minas.

Pertama adalah Konflik masyarakat di Tiga Koto Sibelimbing. Adalah Syamsir warga desa Siabu kecamatan Salo Kabupaten Kampar, ia mengatakan bahwa luas lahan masyarakat suku Melayu Tiga Koto Sibelimbing dikuasai oleh PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) seluas 5000 hektar.

"Dulu, desa Siabu kecamatan Salo Kabupaten Kampar dihuni oleh suku Melayu Tiga Koto Sibelimbing. Diduga, dengan menggunakan alat negara (TNI), PSPI kemudian menggusur warga kemudian menguasai kawasan tersebut dan menanaminya dengan akasia," terang Syamsir.

Sementara itu, konflik antara perusahaan yng berfiliasi dengan APP Group juga terjadi di Minas Barat. Nur Aziman warga Minas Barat Kecamatan Minas Kabupaten Siak menceritakan bahwa permasalahan di kawasan itu adalah sekitar tahun 2011. Terjadi penggusuran masyarakat suku Sakai di dusun Banja Sebi'i yang dihuni 35 KK. Dusun itu kemudian digantikan tanaman akasia.

Menurutnya, dalam kasus itu, perusahaan (APP) merampas tanah ulayat suku sakai sekitar 2000 hektar.

Eriyanto warga Desa Teluk Meranti juga menjadi korban invasi perusahaan. Ia menjelaskan akan adanya upaya penyerobotan lahan seluas 28 hektar milik 14 KK warga desa Teluk Meranti yang dilakukan PT Arara Abadi. Yaitu perusahaan yang berfiliasi ke APP Group.***(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- 44 Titik Taman Dalam Kota‎ Akan Dibangun Pemko Pekanbaru
- Ablas, Ada Lobang Menganga di Tengah Jalan Nasional di Kuansing
- Ditembak Bius Dua Kali, Akhirnya Harimau Pemangsa Dua Warga Inhil Tertangkap
- Jelang MTQ Mandau, UPT Persampahan Bersihkan Lingkungan
- PT Nagamas Palmoil Lestari Tanam Mangrove di Sungai Dumai
- Material Longsor Selesai Dibersihkan,
Arus Lalulintas Riau-Sumbar di Desa Merangin Kembali Normal

- Pasca Longsor, Jalan lintas Riau-Sumbar di Kuok Sudah Bisa Dilewati


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.161.45.156
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com