Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Rabu, 18 Januari 2017 14:21
Polemik Wagubri, Dewan Mengaku Hanya Bisa Menunggu

Rabu, 18 Januari 2017 14:17
Dewan Minta Pemkab Kuansing Kerjakan Kembali Tenaga Honorer

Rabu, 18 Januari 2017 14:12
Pemuda Ansor dan Banser Meranti Segera Gelar Diklat

Rabu, 18 Januari 2017 14:04
Ketua LAK: Lembaga Adat Jangan Diseret Keranah Politik

Rabu, 18 Januari 2017 13:52
Pengacara Tak Hadir,
Sidang Perdana Ketua DPRD Bengkalis Ditunda


Rabu, 18 Januari 2017 13:49
Lihat Dampak Perkebunan Sawit,
Empat Pemkab di Papua Barat Kunjungi Inhil


Rabu, 18 Januari 2017 13:38
11 Personel Polres Meranti Positf Narkoba

Rabu, 18 Januari 2017 13:27
Lewat "Halo Kick",
‎ Telkomsel Berikan Benefit Premium bagi Pelanggan Kartu Halo


Rabu, 18 Januari 2017 13:03
Bermodal Mesin Las, Komplotan Maling Tower Seluler Dibekuk Polres Pelalawan

Rabu, 18 Januari 2017 13:01
Meski Disegel Pemkab Inhil, Warga Kerintang Sebut PT IP Tetap Beroperasi



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 12 Januari 2017 16:40
Langgar Komitmen FCP, APP Ubah Desa Jadi Kebun Akasia

Komitment APP group untuk melaksankana kebijakan FCP tidak berjalan sebagaimana mestinya. Banyak perusahaan-perusahaan yang berafiliasi mengubah desa menjadi kebun akasia.

Riauterkini-PEKANBARU-Sejak 1 February 2013 lalu, APP Group melaksanakan kebijakan komitment forest conservation policy (FCP). Yaitu pertama menyampaikan informasi kepada dan memperoleh persetujuan atas Dasar Informasi Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa/FPIC) dari masyarakat lokal maupun adat. Kedua adalah penanganan keluhan yang bertanggung jawab.

Ketiga adalah penyelesaian Konflik yang bertanggung jawab dengan dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional. Keempat adalah program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat, penghormatan terhadap hak asasi manusia, mengakui dan menghormati hak-hak karyawannya, kepatuhan terhadap hukum, prinsip dan kriteria sertifikasi bertaraf internasional yang relevan.

Tetapi pada kenyataannya menurut Direktur Scale up, Harry Octavian Kamis (12/1/17) sangat berbeda antara komitment dengan realisasi di lapangan. Dari 73 konflik sumber daya alam di Riau pada 2016, 10 konflik terjadi di perusahaan-perusahaan yang berafiliasi ke group APP.

Komitment APP group mengenai penyelesaian Konflik yang bertanggung jawab dengan dialog yang terbuka dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan lokal, nasional dan internasional tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Mengubah Kampung Menjadi Kebun Akasia Dari 10 konflik yang terjadi di perusahaan-perusahaan yang berafiliasi di group APP, 3 diantaranya terjadi di Kampar, Teluk Meranti dan Minas.

Pertama adalah Konflik masyarakat di Tiga Koto Sibelimbing. Adalah Syamsir warga desa Siabu kecamatan Salo Kabupaten Kampar, ia mengatakan bahwa luas lahan masyarakat suku Melayu Tiga Koto Sibelimbing dikuasai oleh PT Perawang Sukses Perkasa Industri (PSPI) seluas 5000 hektar.

"Dulu, desa Siabu kecamatan Salo Kabupaten Kampar dihuni oleh suku Melayu Tiga Koto Sibelimbing. Diduga, dengan menggunakan alat negara (TNI), PSPI kemudian menggusur warga kemudian menguasai kawasan tersebut dan menanaminya dengan akasia," terang Syamsir.

Sementara itu, konflik antara perusahaan yng berfiliasi dengan APP Group juga terjadi di Minas Barat. Nur Aziman warga Minas Barat Kecamatan Minas Kabupaten Siak menceritakan bahwa permasalahan di kawasan itu adalah sekitar tahun 2011. Terjadi penggusuran masyarakat suku Sakai di dusun Banja Sebi'i yang dihuni 35 KK. Dusun itu kemudian digantikan tanaman akasia.

Menurutnya, dalam kasus itu, perusahaan (APP) merampas tanah ulayat suku sakai sekitar 2000 hektar.

Eriyanto warga Desa Teluk Meranti juga menjadi korban invasi perusahaan. Ia menjelaskan akan adanya upaya penyerobotan lahan seluas 28 hektar milik 14 KK warga desa Teluk Meranti yang dilakukan PT Arara Abadi. Yaitu perusahaan yang berfiliasi ke APP Group.***(H-we)





Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- BPBD Riau Dituding Beri Penghargaan Perusahaan Lahannya Terbakar
- BI-TPID Salurkan 5000 Bibit Cabe untuk Warga Pekanbaru
- Kebakaran Lahan Bermunculan, Kota Duri Mulai Diselimuti Asap
- Putus Diterjang Banjir Akhir 2014,
Jembatan Sumpur Baru di Rohul Siang ini Diresmikan Gubri

- Sejumlah Titik Karhutla di Bengkalis Berhasil Dikendalikan
- Segera Disampaikan ke Bupati,
Disbun Inhil Sudah Menerima Hasil Penelitian Hama Kumbang

- Kerusakan Landasan Kualanamu Akibat Gempa tak Ganggu Penerbangan Pekanbaru-Medan


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.205.13.200
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com