Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Rabu, 18 Juli 2018 22:45
Kejurda Pelajar di Pekanbaru, Atlet Takraw Bengkalis Raih Pintar Emas

Rabu, 18 Juli 2018 22:34
Sidang Praperadilan, Hakim Pertegas Pengamanan Alat Berat Seorang Warga tak Dilengkapi Izin Penyitaan

Rabu, 18 Juli 2018 22:22
Coba Perkosa Janda Anak Tiga, Mantan Napi Dibekuk Polsek Sei Apit

Rabu, 18 Juli 2018 22:00
Partai PSI Tak Ikut Pileg di Inhu

Rabu, 18 Juli 2018 21:30
Kecelakaan Maut di Simpang Empat Pasar Baru Pangean, Kuansing

Rabu, 18 Juli 2018 21:25
658 Bacaleg dari 16 Parpol Daftar ke KPU Bengkalis

Rabu, 18 Juli 2018 21:22
Bupati Inhil Sampaikan Pidato Pengantar Terhadap 5 Ranperda Tahun 2018

Rabu, 18 Juli 2018 21:15
Barak Komplek PT. RAPP Dilalap Sijago Merah

Rabu, 18 Juli 2018 20:55
FSPPB Dumai Demo Tolak Akuisisi Pertagas oleh PGN

Rabu, 18 Juli 2018 20:16
Wanita Cantik 'Selundup' Sabu ke Lapas Bengkalis Divonis 11 Tahun Penjara


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 10 Agustus 2017 11:38
Yayasan DR Sjahrir Gelar Seminar Perubahan Iklim di Pekanbaru

Digelar seminar memnbahasa perubahan iklim di Pekanbaru. Kegiatan tersebut ditaja Yayasan DR Sjahrir yang dihadiri Wakil Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim.

Riauterkini-PEKANBARU-Yayasan DR Sjahrir, menggelar seminar perubahan iklim di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru, Kamis pagi (10/8/17).

Seminar yang dibuka Wakil Gubernur (Wagub) Riau Wan Thamrin Hasyim in mengambil tema "Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan Perubahan Iklim" ini menghadirkan pembicara antara lain; Prof Jatna Supriatna, Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia (UI), Dr Suwondo MSi, Guru Besar FKIP Universitas Riau (UR) dan Muller Tampubolon, Ketua APHI Riau.

Seminar Perubahan Iklim ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan, kademisi, pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan lainnya.

Wakil Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim saat membuka seminar menyatakan bahwa Pemprov sangat mendukung kegiatan ini. Dia berharap kegiatan ini dapat dijadikan ajang tukar pikiran sehingga menghasilkan rencana aksi yang mendukung pembanguman berkelanjutan di Riau.

"Karena bagaimanapun untuk mencapai target pembangunan di daerah Riau diperlukan kerjasama antara semua pihak. Baik itu pemerintah pusat, daerah, pelaku usaha, universitas, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat pada umumnya," ucapnya.

Sementara Pembina Yayasan DR Sjahrir, Dr Kartini Sjahrir mengungkapkan Provinsi Riau saat ini mendapat tantangan yang besar dalam mengembangkan Sustainable Development Goals (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) serat upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Seperti diketahui tahun 2015, dalam pertemuan PBB 193 negara termasuk Indonesia telah menyepakati 17 target SDGs atau TPB.

Indonesia, katanya, telah menyatakan komitmen sukarela untuk menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29 persen pada tahun 2030 dari tingkat Business as Usual (BAU), dengan usaha sendiri , dan mencapai 41 persen dengan dukungan internasional.

Adapun target penurunan emisi GRK ada daIam lima bidang utama, yaitu kehutanan dan lahan gambut, pertanian, energi dan transportasi, industri serta pengelolaan limbah.

Menurut Kartini lagi, dengan luasnya area yang hampir separuhnya merupakan lahan gambut, adalah salah satu tantangan bagi Riau dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, sosial dan lingkungan.

Berbagai tantangan dan upaya yang bisa dilakukan Riau untuk dapat mencati TPB dan mengantisipasi perubahan iklim tersebut seperti melakukan inovasi.

"Kita harus siap melakukan perubahan. Kita harus siap dikritik. Kenapa, karena kita hidup dalam masyarakat global. Maka dari itu harus dilakukan revolusi mental birokrasi pemerintahan," tukasnya.

Kartini menambahkan, emisi gas rumah kaca nasional sebagian besar besar berasal dari pengelolaan lahan dan hutan yang belum berkelanjutan.

Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengelolaan Iahan gambut yang tepat, dipandang sebagai solusi pertumbuhan yang memperhatikan keseimbangan, baik dari sisi lingkungan dan sosial.

"Jadi, upaya pertumbuhan ekonomi dan upaya pelestarian lingkungan itu harus bisa saling mendukung, kata wanita yang pernah menjabat sebagai Dubes Argentina selama lima tahun itu.

Pemaparan senada disampaikan Direktur Eksekutif Yayasan DR Sjahrir, Damianus Taufan. Dikatakannya, pertumbuhan ekonomi dan peIestarian lingkungan bukan hubungan yang saling menegasikan satu sama lain.

"Kata kunci yang bisa menjembatani itu adalah inovasi dan teknologi," pungkasnya.***(son)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
cassy
Daftar Sekarang Dan Dapatkan Bonusnya Hanya Di www agens128 org-> Sportsbook-> Casino-> Sabung Ayam-> Adu Banteng-> Bola Tangkas-> Togel-> Tembak Ikan-> Poker Live OnlinePIN BBM : AGENS128


loading...

Berita lainnya..........
- Sore Ini Hotspot Nihil,
Tim Satgas Karhutla Berjibaku Padamkan Karhutla

- 88 Titik Panas Terpantau, Polda Riau Optimalkan Pencegahan
- Ditemukan 80 Titik Panas, Gubri Intruksikan Optimalisasi Pemadaman
- BMKG Deteksi 61 Hotspot di Riau
- Terparah di Meranti dan Bengkalis,
Luasan Karhutla di Riau Capai 2.006,91 Hektar

- Pagi Ini 29 Hotspot Terpantau di Riau
- BKSDA Pasang Kamera Trap Cari Keberadaan Harimau di Kampar


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com