Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 16 Desember 2017 13:58
Dukung Airlangga, Riau Kirim Lima Utusan ke Rapimnas dan Munaslub Golkar

Sabtu, 16 Desember 2017 11:30
Warga Desa Teluk Merbau, Inhil Dihebohkan Penemuan Bayi Perempuan yang Sudah Membusuk

Sabtu, 16 Desember 2017 10:51
Diskominfo Inhil Kunjungi Dewan Pers

Sabtu, 16 Desember 2017 10:11
Konsleting Listrik, Rumah Seorang Wartawan di Pekanbaru Terbakar

Sabtu, 16 Desember 2017 05:40
Ratusan Triliun Disumbangkan ke Negara, Apkasindo Dorong Riau Rebut DBH CPO

Jum’at, 15 Desember 2017 20:14
Kades Sudah tidak Beraktivitas,
Plt Bupati Rohul Janji Selesaikan Sengketa Lima Desa


Jum’at, 15 Desember 2017 18:41
Gubri dan Kasad Hadiri Puncak Peringatan HJK TNI AD ke-72

Jum’at, 15 Desember 2017 16:58
Ahad, Ayo Makan Ikan di Lapangan Tugu Bengkalis

Jum’at, 15 Desember 2017 16:54
BC Bengkalis Naik Tingkat dari Pratama ke Madya

Jum’at, 15 Desember 2017 16:16
Idana, Penyandang Disabilitas Asal Rohul Terima Kaki Palsu di Hari Juang Kartika




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.

Senin, 9 Oktober 2017 19:51
Dinilai Rusak Lingkungan,
13 Unit Usaha Batu Bata di Papal, Bengkalis Akan Ditutup


Dinilai turut andil menyebabkan terjadinya abrasi, 13 usaha pembuatan batu bata di Desa Teluk Papal, Bengkalis akan ditutup. Deadline-nya awal 2018 mendatang.

Riauterkini-BENGKALIS- Dipicu sebagai penyebab meluasnya kerusakan lingkungan atau abrasi pantai, sebanyak 13 unit usaha pembuat batu bata yang berada persis di bibir pantai Desa Teluk Papal, Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis diwacanakan akan ditutup oleh pemerintah setempat.

Kepala Desa Teluk Papal Lakuning Ratno kepada sejumlah wartawan mengatakan, bahwa sudah ada rencana akan dilakukan penutupan lokasi belasan pabrik batu bata yang ada di bibir pantai tersebut. Pihaknya bersama sejumlah pemilik dan masyarakat serta pihak kecamatan sudah menggelar pertemuan pada Sabtu (7/10/17) lalu.

Menurut Lakuning Ratno, Camat Bantan Syamsul Bahri memimpin langsung pertemuan bersama tersebut telah menegaskan, meminta seluruh pabrik batu bata yang beroperasi di bibir pantai Teluk Papal, baik dengan cara manual ataupun dengan alat berat wajib mulai menghentikan kegiatannya pada awal tahun 2018 mendatang.

"Penutupan pabrik itu disampaikan oleh pihak kecamatan dalam pertemuan namun memang belum ada surat resminya. Alasannya, adalah dampak kerusakan lingkungan yakni memperparah abrasi karena seluruh pabrik berada persis di bibir pantai," ungkap Lakuning Ratno ketika ditemui di Kantor Desa Papal, Senin (9/10/17).

Terkait rencana penutupan belasan unit usaha batu bata ini, Lakuning Ratno juga mengatakan sejumlah pemilik usaha batu bata juga berharap kegiatan usahanya tidak dihentikan.

"Para pemilik usaha batu bata juga meminta jangan diberhentikan, dengan alasan menyangkut ekonomi atau mata pencaharian. Tetapi pihak desa sudah mendudukan perkara ini dan mencari solusi yang terbaik, bagaimana baiknya supaya kedua belah pihak bisa terima," kata dia lagi.

"Memang yang menggali dengan alat berat, sudah berhenti total. Dan kami dari pihak desa mencari jalan tengah supaya tidak ada kekusutan,” imbuhnya.

Terpisah, salah satu pemilik usaha batu bata Sriyati mengaku kaget jika usaha dan penopang ekonomi keluarganya sejak sekitar 17 tahun lalu ini harus dihentikan beroperasi. Dirinya mendesak jika pemerintah memaksa berhenti beroperasi, harus ada solusi bagaimana mengganti rugi bedeng yang baru diperbaiki dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

"Saya sudah menyampaikan aparat desa, penghasilan hanya dari usaha batu bata ini. Jika memang akan ditutup harus bekerja apa, kebun getah kami juga tak punya. Hanya punya rumah dan tanah tiga jembo ini saja," ungkapnya ketika ditemui wartawan di kediamannya.

Bunangin, juga salah satu pemilik usaha batu bata lainnya mengatakan, adanya rencana menutup habis pabrik batu bata ini dikhawatirkan akan memicu ‘perang’ warga.

Menurutnya, Camat Bantan harus segera mencarikan solusi atau jalan keluar agar tidak merugikan pemilik usaha batu bata di atas lahan milik mereka di daerah ini. “Kami punya bedeng buat batu ini bekerja secara manual. Bagi saya diambil jalan tengah, dan yang manual agar diteruskan, soalnya kami mencari makan dengan usaha itu," katanya.

Apa yang diputuskan oleh Camat Bantan saat ini agar menutup usaha seluruhnya, menurutnya bukan solusi. “Apa yang disampaikan Camat itu menurut saya bukan jalan tengah. Apalagi menyebutkan siapa tetap bekerja akan melanggar hukum,” katanya lagi.***(dik)

Foto : Belasan pabrik batu bata di Pesisir Pantai Teluk Papal akan ditutup karena disinyalir memicu memperparah rusak lingkungan dan kondisi abrasi di daerah tersebut.




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- Kelola Cagar Alam Bukit Bungkuk, BBKSDA Riau Gelar Konsultasi Publik
- Jikalahari Nilai Kapolda Riau Lamban Tangani Kejahatan Lingkungan dan Kehutanan
- Kelapa Dirusak Kumbang,
Warga Pebenaan, Kecamatan Keritang Datangi Kantor Bupati Inhil

- KTT Perubahan Iklim di Paris, KLHK Libatkan Wakil DPRD Noviwaldy Jusman
- Tenggelam di Sungai Rokan,
Sudah Dua Hari Kernet Truk Angkut Sawit di Rohul Belum Ditemukan

- Kelaparan, Gajah Liar di Duri  Rusak Rumah dan Makan Beras Warga
- Tata Taman Nasional Zamrud Siak, BBKSDA Riau Lakukan Konsultasi Publik


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.82.56.95
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com