Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Ahad, 21 Oktober 2018 22:18
Mahasiswa Kuansing Juara Bulutangkis di Padang

Ahad, 21 Oktober 2018 19:58
Pemprov dan Tim Transisi Kaji Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis

Ahad, 21 Oktober 2018 19:11
Todongkan Senpi, Perampok di Kuansing Gasak Uang Ratusan Juta dan Perhiasan

Ahad, 21 Oktober 2018 19:06
Akibat Tumpukan Arus weekend, Polisi Kerja Kerasa Urai Kemacetan di Jalur Lintas Duri - Dumai

Ahad, 21 Oktober 2018 16:40
Pemprov Riau dan Tim Transisi Kembali Bertemu Bahas Usulan Program Gubri Terpilih

Ahad, 21 Oktober 2018 15:54
Rebutkan Hadiah Mobil,
Seribuan Peserta Ikuti Lomba Memancing HUT TNI di Bengkalis


Ahad, 21 Oktober 2018 14:54
Trail Runners Pekanbaru Iringi Event Sepeda Nusantara Etape Pekanbaru

Ahad, 21 Oktober 2018 14:47
Dikepung Macet, Pagi Ini Antrean di Duri Capai 20 Kilometer

Ahad, 21 Oktober 2018 14:41
Tinggalkan Sepucuk Surat untuk Suami,
IRT di Rohul Ditemukan Tergantung di Perumahan‎ PT RAKA Desa Pauh


Ahad, 21 Oktober 2018 14:30
Bawaslu Gelar Sosialisasi AP-HPA di Area CFD


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 14 Maret 2018 13:54
Korban Jiwa Akibat Serangan Harimau Terus Bertambah,
Anggota Komisi II DPRD Riau Sugianto Sebut BKSDA Riau Tak Bekerja


Bertambahnya korban meninggal dunia akibat terkaman harimau di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inderagiri Hilir merupakan bukti tidak bekerjanya BKSDA Riau.

Riauterkini-PEKANBARU- Bertambahnya korban meninggal dunia akibat terkaman harimau di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inderagiri Hilir merupakan bukti tidak bekerjanya Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau.

"Kalau dia (BKSDA, red) bekerja, tentu peristiwa ini tidak terulang. Maka saya mengatakan BKSDA tidak bekerja. Kelihatan kan," kata Sugianto, anggota Komisi II DPRD Riau kepada wartawan, Rabu (14/03/18).

Hal ini menurutnya bukan tanpa alasan. Seharusnya, BKSDA sudah memetakan hal-hal yang berkaitan dengan satwa liar. Bukan sebaliknya, menunggu adanya korban jiwa, kemudian baru dilakukan pemetaan.

"Jangan banyak alasanlah. Sedari dulu harusnya BKSDA bisa memetakan ini. Karena konservasi satwa liar serta tumbuhan tanggung jawab mereka. Baik di dalam habitat maupun di luar habitat," ungkapnya.

Lebih lanjut politisi PKB ini katakan, dalam waktu dekat pihaknya berencana akan memanggil hearing BKSDA Riau. Menurutnya persoalan ini mesti diselesaikan segera tanpa menunggu adanya korban lagi.

"Yang jelas jangan adalagai korban jiwa," tutupnya.

Sebagaimana diketahui, harimau yang diketahui bernama Bonita ini sudah memakan korban dua nyawa manusia. Pertama Jumiati, karyawan perusahaan sawit yang tewas diserang pada 3 Januari 2018 lalu. Selanjutnya, Yusri yang tewas diserang pada Sabtu (10/3/2018). ***(ary)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- Ditinggal Pergi ke Pekanbaru, Rumah Warga Pucuk Rantau Kuansing Dilalap Api
- Pretel-pretel, Ornamen Gerbang Main Stadium Bahayakan Pemotor
- Kadishub Keluhkan Tumpukan Sampah Di Depan Halte TMP
- Tiga Penyakit Bahaya Ini Harus Diwaspadai Pemilik Hewan di Bengkalis
- Buaya Muncul di Sungai Siak, Warga Sekitar Diimbau Tak Berenang
- Ribuan Rumah di Bonai Darussalam Terendam Banjir, Jalan Lintas Rohul-Duri Terganggu
- Usulan Aspal Jalan Akses Dua Sekokah di Bhatin Solapan Seolah Diabaikan


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com