Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 22 Maret 2019 18:27
Gubri Resmikan Masjid Al Anshor, Wakaf Mantan Bupati Siak Arwis AS

Jum’at, 22 Maret 2019 17:35
Bengkalis Komit Tingkatkan Kapabilitas dan Kapasitas APIP

Jum’at, 22 Maret 2019 17:33
Air Pasang, PKL Batu Enam Rohil Kocar-kacir Selamatkan Dagangan

Jum’at, 22 Maret 2019 17:21
Baru Pemprov dan Lima Kabupaten yang Serahkan LKPD ke BPK Riau

Jum’at, 22 Maret 2019 17:18
Sedang Ukur Tanah, Warga Panam Dikejar Pakai Parang

Jum’at, 22 Maret 2019 16:35
Chevron Sigap Bantu Kebakaran Lahan di Tanah Putih Tanjung Melawan Rohil

Jum’at, 22 Maret 2019 16:29
Amankan Pemilu 2019 di Riau, TNI-Polri Terjunkan 10.650 Personel

Jum’at, 22 Maret 2019 16:17
Tampil Agresif dan Sporty, Suzuki All New Ertiga Sport Dipamerkan di Mal SKA Pekanbaru

Jum’at, 22 Maret 2019 16:14
Gandeng Persada Bunda, Kejati Riau Lakukan Penerangan Hukum

Jum’at, 22 Maret 2019 14:46
Dalam Rangka Pileg dan Pilpres 2019,
Inhil Apel Gelar Pasukan Kesiapan TNI-Polri dan Komponen Bangsa Lainnya



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 14 Maret 2018 13:54
Korban Jiwa Akibat Serangan Harimau Terus Bertambah,
Anggota Komisi II DPRD Riau Sugianto Sebut BKSDA Riau Tak Bekerja


Bertambahnya korban meninggal dunia akibat terkaman harimau di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inderagiri Hilir merupakan bukti tidak bekerjanya BKSDA Riau.

Riauterkini-PEKANBARU- Bertambahnya korban meninggal dunia akibat terkaman harimau di Kecamatan Pelangiran, Kabupaten Inderagiri Hilir merupakan bukti tidak bekerjanya Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau.

"Kalau dia (BKSDA, red) bekerja, tentu peristiwa ini tidak terulang. Maka saya mengatakan BKSDA tidak bekerja. Kelihatan kan," kata Sugianto, anggota Komisi II DPRD Riau kepada wartawan, Rabu (14/03/18).

Hal ini menurutnya bukan tanpa alasan. Seharusnya, BKSDA sudah memetakan hal-hal yang berkaitan dengan satwa liar. Bukan sebaliknya, menunggu adanya korban jiwa, kemudian baru dilakukan pemetaan.

"Jangan banyak alasanlah. Sedari dulu harusnya BKSDA bisa memetakan ini. Karena konservasi satwa liar serta tumbuhan tanggung jawab mereka. Baik di dalam habitat maupun di luar habitat," ungkapnya.

Lebih lanjut politisi PKB ini katakan, dalam waktu dekat pihaknya berencana akan memanggil hearing BKSDA Riau. Menurutnya persoalan ini mesti diselesaikan segera tanpa menunggu adanya korban lagi.

"Yang jelas jangan adalagai korban jiwa," tutupnya.

Sebagaimana diketahui, harimau yang diketahui bernama Bonita ini sudah memakan korban dua nyawa manusia. Pertama Jumiati, karyawan perusahaan sawit yang tewas diserang pada 3 Januari 2018 lalu. Selanjutnya, Yusri yang tewas diserang pada Sabtu (10/3/2018). ***(ary)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Air Pasang, PKL Batu Enam Rohil Kocar-kacir Selamatkan Dagangan
- Chevron Sigap Bantu Kebakaran Lahan di Tanah Putih Tanjung Melawan Rohil
- Musim Kemarau, PDAM TD Duri Kekurangan Pasokan Air Baku
- Diguyur Hujan, Karhutla di Bengkalis Nyaris Padam Total
- Titik Api Kembali Muncul, Dewan Nilai Pemprov Riau Sedang 'Terlena'
- Peringati HPSN DLH,
Bupati Kuansing Serta Seluruh OPD Komitmen Gunakan Pemakaian Tombler

- Korban Sampan Terbalik Belum Ditemukan, Tim Sar Gabungan Lakukan Pencarian


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com