Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 21 April 2018 13:37
Satu Periode Pemimpin Siak, Ini Keberhasilan Pendidikan yang Sudah Dilakukan Syamsuar

Sabtu, 21 April 2018 13:31
PT Nagamas Palmoil Lestari Gelar Pengobatan Gratis di Dumai

Sabtu, 21 April 2018 12:15
Tersengat Aliran Listrik, Seorang Karyawan PT MAS di Pelalawan Tewas Seketika

Sabtu, 21 April 2018 12:12
Demi Jaga Harga Diri, Dua Pengurus DPD NasDem Pekanbaru Mengundurkan Diri

Sabtu, 21 April 2018 12:08
Petugas Peringatan Hari Kartini di Polres Inhil Dilaksanakan Polisi dan ASN Wanita

Sabtu, 21 April 2018 11:50
Dikunjungi LE, Fauzi Kadir Sebut Riau Perlu Pemimpin Muda

Sabtu, 21 April 2018 07:20
Kesal Adik Dihamili, Warga Tembilahan Bakar Rumah Orang Tua Pelaku

Sabtu, 21 April 2018 07:17
Dunia Pendidikan Riau Tambah Maju, Warga Perumahan Sidomulyo Pilih Nomor 4

Sabtu, 21 April 2018 04:57
Belasan "Pelaku Maksiat" Terjaring Operasi Pekat di BS, dan Mandau

Jum’at, 20 April 2018 23:10
Rasionalisasi APBD Rp1,35 T, Berikut Penjelasan Bupati Bengkalis


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 16 April 2018 20:53
Masuki Kemarau, BMKG RI: Riau Rentan Karlahut

BMKG RI ingatkan beberapa provinsi rentan karlahut. Provinsi Riau termasuk dalam wilayah yang dimaksud.

Riaiterkini-PEKANBARU-Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Senin (16/4/18) mengatakan menghadapi musim kemarau tahun ini, perlu diwaspadai daerah-daerah yang rentan terjadinya Kebakaran lahan dan hutan, di antaranya Aceh dan Sumatera Utara bagian timur, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta sebagian Papua bagian Selatan.

Karena berdasarkan hasil pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kondisi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia mengindikasikan bahwa hingga awal April 2018 ini kondisi La Nina kategori lemah sudah berakhir menuju kondisi normalnya pada bulan Mei hingga September 2018 nanti.

Sementara itu, tambahnya, tidak ada indikasi anomali iklim (dipole mode) yang terjadi di Samudera Hindia bagian barat Sumatera. BMKG memprediksi Samudera Hindia tetap dalam kondisi normal pada periode April hingga September 2018 nanti.

"Sirkulasi angin regional sudah didominasi angin Monsun Australia (angin timuran) hampir di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa. Angin timuran membawa massa udara kering dari Benua Australia, kondisi ini selaras dengan awal periode musim kemarau di Indonesia,; terangnya.

Meski demikian, menurutnya di beberapa wilayah terutama di bagian barat, masih terdapat massa udara basah yang cukup lembap (> 65%), terutama di atmosfer lapisan menengah (ketinggian 3000 meter). Kondisi ini dapat mendukung tumbuhnya awan-awan konvektif sehingga hujan sporadis masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah di *Sumatera bagian Selatan, Jawa bagian Tengah dan Timur, Kalimantan bagian Utara dan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat dan Selatan, serta Maluku bagian Utara.

"Pada musim transisi, potensi dan peluang cuaca ekstrem seperti hujan es dan puting beliung dapat terjadi," katanya.

Analisis Hari Tanpa Hujan hingga dasarian I April menunjukkan panjang kekeringan meteorologis akibat ketiadaan hari hujan berturut-turut, dilaporkan bahwa beberapa daerah telah mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang (> 30 hari) yaitu di Aceh Utara (35 hari), kategori panjang (>20-30 hari) yaitu di Batuta, Nusa Tenggara Timur (30 hari) dan di Sumatera Utara (26 hari). Sementara itu, beberapa daerah di Jawa Timur dan NTB sudah mengalami ketiadaan hari hujan berturut-turut kategori menengah (11 20 hari).

Sebelumnya, BMKG telah memprediksi sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau awal bulan April ini. Awal musim kemarau tidak seragam di tiap daerah. Hingga awal April, daerah yang sudah memasuki kemarau adalah Provinsi NTT, NTB, DIY, Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Kemudian merambat perlahan ke arah barat dan utara ke Pulau Jawa, sebagian Sulawesi, sebagian Kalimantan, dan Sumatera yang memasuki awal kemarau secara umum di bulan Mei. Demikian juga untuk sebagian Papua.

Prospek curah hujan 10-harian ke depan, beberapa daerah diprediksikan mendapatkan akumulasi curah hujan kategori rendah (< 50 mm dalam 10 hari) di antaranya daerah NTT, NTB, dan sebagian Jawa Timur. Sementara wilayah lain, umumnya masih berpeluang mendapat akumulasi curah hujan dengan tingkat menengah (50 150 mm dalam 10 hari).*(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- Ditembak Bius Dua Kali, Akhirnya Harimau Pemangsa Dua Warga Inhil Tertangkap
- Jelang MTQ Mandau, UPT Persampahan Bersihkan Lingkungan
- PT Nagamas Palmoil Lestari Tanam Mangrove di Sungai Dumai
- Material Longsor Selesai Dibersihkan,
Arus Lalulintas Riau-Sumbar di Desa Merangin Kembali Normal

- Pasca Longsor, Jalan lintas Riau-Sumbar di Kuok Sudah Bisa Dilewati
- Tebing Longsor di Kampar, Jalur Riau- Sumbar Dialihkan Sementara
- Program DMPA PT Arara Abadi,
Keltan Desa Terbangiang Pelalawan Lakukan Panen Raya Cabe Kriting



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.81.166.196
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com