Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Senin, 10 Desember 2018 15:41
Gadis di Meranti Ini Dicabuli Ayah Kandung Selama Belasan Tahun

Senin, 10 Desember 2018 14:19
Si-BiRU Resmi Diluncurkan di Riau

Senin, 10 Desember 2018 14:15
Jelang Pelantikan, Plt Gubri Wan Thamrin Hasyim Tampak Bahagia

Senin, 10 Desember 2018 14:09
Legislator Noviwaldy Jusman Sayangkan Pelapornya tak Penuhi Panggilan Bawaslu Pekanbaru

Senin, 10 Desember 2018 14:03
Januari, MPP di Pekanbaru Segera Hadir dengan 18 Tenant

Senin, 10 Desember 2018 13:59
Kejari Meranti Gelar Apel Hari Anti Korupsi Internasional 2018

Senin, 10 Desember 2018 13:55
Polres Meranti Musnahkan Narkoba Hasil Operasi Antik Muara Takus 2018

Senin, 10 Desember 2018 12:52
Demo, Warga Kunto Darussalam Tuntut PT SJI Coy Kembalikan 625 Hektar Lahat Adat

Senin, 10 Desember 2018 12:46
Penggunaan Kampus Baru Diyakini Dongkrak Akreditasi Uniks Teluk Kuantan

Senin, 10 Desember 2018 12:41
Provinsi Ketiga Penerapan Tekhnologi Penyelengaraan Infrastuktur, Riau Dapat Bonus Rp20 Miliar


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 8 Mei 2018 18:02
EOF Sebut Lahan 6 Perusahaan Sawit Group Duta Palma Berada dalam Kawasan Hutan

EOF temukan lahan 6 perusahaan sawit group Duta Palma masuk dalam kawasan hutan. KLHK diminta segera menindak.

Riauterkini-PEKANBARU-Hasil investigasi yang dilakukan oleh Eyes On the Forest (EOF) menemukan ada 6 perusahaan itu berafiliasi dalam grup Darmex (PT. Duta Palma) yang lahannya masuk dalam kawasan hutan

Menurut Manajer Kampanye dan Advokasi EOF, Afdal Mahyuddin Selasa (8/5/18), EOF melakukan pemantauan langsung di lapangan guna membuktikan apakah kawasan hutan di Riau telah dikuasai oleh perusahaan kebun kelapa sawit. Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Eyes on the Forest November 2017, ditemukan 10 perusahaan diindikasikan berada pada kawasan hutan. 6 dari sepuluh perusahaan ternyata merupakan perusahaan yang bergabung dengan grup Darmex (PT. Duta Palma)," katanya.

Grup bisnis kebun sawit ini terkait dengan kasus korupsi yang memenjarakan Annas Maamun (Gubernur Riau saat itu) karena menerima gratifikasi untuk memberikan alokasi kebun sawit dari Kawasan hutan.  

Diperkirakan luas 10 perusahaan yang teridentifikasi sekitar 73.047 hektare dan hanya memiliki HGU sekitar 40.005 hektare, artinya ada penanaman kebun di luar hak yang diberikan. Ironisnya, izin HGU tersebut ada yang berada pada kawasan hutan.  

"Dari 73.047 hektare kebun sawit yang teridentifikasi berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 903/Menlhk/Setjen/PLA.2/12/2016, 38.169 hektare terdapat pada kawasan hutan, antara lain 33.437 hektar di HPK, 4.060 hektar pada HP dan 672 hektar di HPT," sambungnya.

Koalisi Eyes on the Forest meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan penyelidikan, penyidikan dan penindakan terhadap perusahaan sawit yang telah mengembangkan kebun sawit pada kawasan hutan seperti dipantau oleh EoF di 10 perusahaan, dimana 6 di antaranya merupakan perusahaan grup Darmex dan terkait dengan kasus korupsi yang memenjarakan (mantan) Gubernur Riau dan para pengusaha sawit.  Beroperasi tanpa izin selama bertahun-tahun jelas merugikan Negara dan kejahatan yang harus diusut dan diadili. ***(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- PT MAL Cuekin Jalan Antar Desa di Kerumutan, Pelalawan Hancur
- Banjir Luapan Sungai Kampar Bikin Banyak Warga Begadang
- Buaya Terjebak dalam Saluran Irigasi Saat Banjir Berhasil Diamankan Warga Benai
- Kawanan Buaya Liar Ditemukan di Lokasi Banjir di Pelalawan
- Waspada Banjir, PLTA Koto Panjang Tambah Bukaan Pintu Pelimpah
- Tiga Kecamatan di Kampar Diterjang Banjir
- Buaya Sepanjang Tiga Meter Berkeliaran Saat Banjir di Kuansing


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com