Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Selasa, 22 Januari 2019 22:09
Disaksikan Bupati Harris, Pengurus PGRI Kecamatan Ukui Dilantik

Selasa, 22 Januari 2019 22:03
Tuntutan Tak Dipenuhi, Kepala BPN Riau Dianggap Kangkangi Perintah Presiden Jokowi

Selasa, 22 Januari 2019 21:37
Mahasiswa Siap Kawal Proses Hukum Dugaan Mesum Oknum Dewan Kuansing

Selasa, 22 Januari 2019 21:14
Bupati Inhil Lepas Ekspor Perdana Siput Menuju Negeri Jiran, Malaysia

Selasa, 22 Januari 2019 21:11
DMIJ Plus Terintegrasi, Role Model Pembangunan Ekonomi Kawasan Perdesaan

Selasa, 22 Januari 2019 21:06
Silaturrahmi Kerakyatan, Ribuan Masyarakat Padati Kediaman Kordias Pasaribu

Selasa, 22 Januari 2019 18:13
Dikukuhkan Jadi Komut, Masperi Diberi Amanah Kembangkan PT Jamkrida

Selasa, 22 Januari 2019 18:10
Tak Hadir Acara Seminar ISEI, Pimpinan DPRD Riau Punya Alasan

Selasa, 22 Januari 2019 18:07
Masuki Era Industri 4.0, Perusahaan Terapkan Zero Fatality

Selasa, 22 Januari 2019 17:19
BC Bengkalis Amankan Pompong Beruatan Ribuan Kayu Teki


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 1 Agustus 2018 13:04
Poktan Mandiri Simpang Gaung, Inhil Buktikan Serius Wujudkan Kerjasama Normalisasi Parit

Muncul tudingan Kelompok Tani Mandiri Simpang Gaung, Inhil tak punya itikad baik wujudkan normalisasi parit. Dipastikan tudingan itu tak benar dan pengerjaannya sudah dibayar lebih dari cukup.

Riauterkini-TEMBILAHAN-Kelompok Tani (Poktan) Mandiri Simpang Kanan Parit 8 Dusun Sentosa, Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung membantah tidak memiliki itikad baik dalam kegiatan normalisasi parit dengan Salman Ependi. Kegiatan ini murni swadaya masyarakat tanpa adanya keterlibatan pihak desa.

"Tidak benar kalau kami tidak memiliki itikad baik dalam kerjasama normalisasi parit dengan saudara Salman Ependi. Bahkan, kami sudah membayarkan melebihi dari galian yang sudah dikerjakan mereka, " tegas Ketua Kelompok Tani Mandiri, Masdianto didampingi pengurus lainnya M Ali, Selasa (31/7/18) saat berada Kantor Hukum Maryanto SH di Tembilahan.

Kegiatan normalisasi parit ini murni swadaya petani dengan pihak Salman Ependi dan tidak ada kaitannya dengan Kepala Desa Simpang Gaung dan perangkatnya, mereka hanya sekedar mengetahui adanya normalisasi ini. Sehingga kalau pun terjadi permasalahan di lapangan, sebagai aparatur pemerintah mereka hanya sebagai fasilitator penyelesaianya.

Dijelaskan, kesepakatan kegiatan normalisasi parit ini bermula sekira bulan Maret 2018 lalu, saat itu disepakati pihak kedua (Salman Ependi) akan mengerjakan galian parit sepanjang 3,5 kilometer dengan bayaran Rp 30.000 permeternya.

"Lahan yang akan dikerjakan ini merupakan milik warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Mandiri yang telah dikelola sejak tahun 80-an, jadi bukan merupakan lahan sengketa, " ujarnya.

Namun, saat pengerjaan normalisasi baru sepanjang 1,7 kilometer atau sekira bulan Mei 2018, tiba-tiba sekelompok orang mengaku lahan yang sedang diakukan penggalian parit ini, milik mereka. Sehingga pengerjaan terhenti selama lebih kurang satu bulan, artinya penghentian ini dilakukan pihak lain dan diluar kehendak Kelompok Tani Mandiri.

"Jadi, tidak tepat kalau tiba-tiba secara sepihak ditekankan kami harus mengganti kerugian karena alat mereka tidak bekerja dan memang tidak ada kesepakatan tersebut," sebut Anto.

Padahal, selama dimulai pekerjaan sejak bulan Maret sampai Juni 2018 lalu, pihaknya selalu mengakomodir pinjaman uang yang diminta saudara Salman Ependi dengan total keseluruhan Rp 92.745.500. Artinya, jumlah pinjaman Salman Ependi melebihi dari hasil pekerjaan penggalian parit sepanjang 1,7 kilometer yakni sekira Rp 51.000.000.

"Jadi, sekali lagi selama ini kami selalu proaktif dan memenuhi keperluan selama alat berat tersebut bekerja. Bahkan, selama ini kami selalu menempuh cara kekeluargaan untuk permasalahan ini," imbuhnya.

Diakuinya, memang terjadi mediasi bersama Kades Simpang Gaung dan Kapolsek Gaung, petani pada prinsipnya bersedia menempuh cara kekeluargaan dan memberikan 'bantuan' sesuai kemampuan. Justru dalam hal ini pihak Salman Ependi sepertinya justru tidak punya itikad baik, tetap bersikukuh terhadap tuntutan mereka yang sangat memberatkan, dan tentunya tidak dapat diakomodir petani.***(mar).

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- BC Bengkalis Amankan Pompong Beruatan Ribuan Kayu Teki
- Jalan Rusak Bikin Truk Angkut Sawit Terguling di Jalan Lintas Bono Pelalawan
- ESDM Sebut 10 Perusahaan Migas Hasilkan Tiga Jenis Limbah B3
- Sepanjang 2019, BRG Targetkan Restorasi 143.000 Hektare Gambut Konsesi Perusahaan Riau
- Petani Muara Bungkal Sambut Program DMPA PT AA-SMF
- Buntut Pembunuhan Burung Enggang oleh Warga,
Pemuka Adat Minta BKSDA Sosialisasikan UU Hewan Dilindungi

- Masyarakat Bandar Alai, Kuansing Dambakan Perbaikan Jakan


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com