Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Senin, 22 Oktober 2018 09:06
Warga Langgam Temukan Limbah Pabrik Kelapa Sawit Mengalir ke Sungai Gondai

Senin, 22 Oktober 2018 07:17
Peringati HUT ke-54 Golkar di Kuansing Digelar di Desa Terisolir

Ahad, 21 Oktober 2018 22:18
Mahasiswa Kuansing Juara Bulutangkis di Padang

Ahad, 21 Oktober 2018 19:58
Pemprov dan Tim Transisi Kaji Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis

Ahad, 21 Oktober 2018 19:11
Todongkan Senpi, Perampok di Kuansing Gasak Uang Ratusan Juta dan Perhiasan

Ahad, 21 Oktober 2018 19:06
Akibat Tumpukan Arus weekend, Polisi Kerja Kerasa Urai Kemacetan di Jalur Lintas Duri - Dumai

Ahad, 21 Oktober 2018 16:40
Pemprov Riau dan Tim Transisi Kembali Bertemu Bahas Usulan Program Gubri Terpilih

Ahad, 21 Oktober 2018 15:54
Rebutkan Hadiah Mobil,
Seribuan Peserta Ikuti Lomba Memancing HUT TNI di Bengkalis


Ahad, 21 Oktober 2018 14:54
Trail Runners Pekanbaru Iringi Event Sepeda Nusantara Etape Pekanbaru

Ahad, 21 Oktober 2018 14:47
Dikepung Macet, Pagi Ini Antrean di Duri Capai 20 Kilometer


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 1 Agustus 2018 13:04
Poktan Mandiri Simpang Gaung, Inhil Buktikan Serius Wujudkan Kerjasama Normalisasi Parit

Muncul tudingan Kelompok Tani Mandiri Simpang Gaung, Inhil tak punya itikad baik wujudkan normalisasi parit. Dipastikan tudingan itu tak benar dan pengerjaannya sudah dibayar lebih dari cukup.

Riauterkini-TEMBILAHAN-Kelompok Tani (Poktan) Mandiri Simpang Kanan Parit 8 Dusun Sentosa, Desa Simpang Gaung, Kecamatan Gaung membantah tidak memiliki itikad baik dalam kegiatan normalisasi parit dengan Salman Ependi. Kegiatan ini murni swadaya masyarakat tanpa adanya keterlibatan pihak desa.

"Tidak benar kalau kami tidak memiliki itikad baik dalam kerjasama normalisasi parit dengan saudara Salman Ependi. Bahkan, kami sudah membayarkan melebihi dari galian yang sudah dikerjakan mereka, " tegas Ketua Kelompok Tani Mandiri, Masdianto didampingi pengurus lainnya M Ali, Selasa (31/7/18) saat berada Kantor Hukum Maryanto SH di Tembilahan.

Kegiatan normalisasi parit ini murni swadaya petani dengan pihak Salman Ependi dan tidak ada kaitannya dengan Kepala Desa Simpang Gaung dan perangkatnya, mereka hanya sekedar mengetahui adanya normalisasi ini. Sehingga kalau pun terjadi permasalahan di lapangan, sebagai aparatur pemerintah mereka hanya sebagai fasilitator penyelesaianya.

Dijelaskan, kesepakatan kegiatan normalisasi parit ini bermula sekira bulan Maret 2018 lalu, saat itu disepakati pihak kedua (Salman Ependi) akan mengerjakan galian parit sepanjang 3,5 kilometer dengan bayaran Rp 30.000 permeternya.

"Lahan yang akan dikerjakan ini merupakan milik warga yang tergabung dalam Kelompok Tani Mandiri yang telah dikelola sejak tahun 80-an, jadi bukan merupakan lahan sengketa, " ujarnya.

Namun, saat pengerjaan normalisasi baru sepanjang 1,7 kilometer atau sekira bulan Mei 2018, tiba-tiba sekelompok orang mengaku lahan yang sedang diakukan penggalian parit ini, milik mereka. Sehingga pengerjaan terhenti selama lebih kurang satu bulan, artinya penghentian ini dilakukan pihak lain dan diluar kehendak Kelompok Tani Mandiri.

"Jadi, tidak tepat kalau tiba-tiba secara sepihak ditekankan kami harus mengganti kerugian karena alat mereka tidak bekerja dan memang tidak ada kesepakatan tersebut," sebut Anto.

Padahal, selama dimulai pekerjaan sejak bulan Maret sampai Juni 2018 lalu, pihaknya selalu mengakomodir pinjaman uang yang diminta saudara Salman Ependi dengan total keseluruhan Rp 92.745.500. Artinya, jumlah pinjaman Salman Ependi melebihi dari hasil pekerjaan penggalian parit sepanjang 1,7 kilometer yakni sekira Rp 51.000.000.

"Jadi, sekali lagi selama ini kami selalu proaktif dan memenuhi keperluan selama alat berat tersebut bekerja. Bahkan, selama ini kami selalu menempuh cara kekeluargaan untuk permasalahan ini," imbuhnya.

Diakuinya, memang terjadi mediasi bersama Kades Simpang Gaung dan Kapolsek Gaung, petani pada prinsipnya bersedia menempuh cara kekeluargaan dan memberikan 'bantuan' sesuai kemampuan. Justru dalam hal ini pihak Salman Ependi sepertinya justru tidak punya itikad baik, tetap bersikukuh terhadap tuntutan mereka yang sangat memberatkan, dan tentunya tidak dapat diakomodir petani.***(mar).

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- Warga Langgam Temukan Limbah Pabrik Kelapa Sawit Mengalir ke Sungai Gondai
- Ditinggal Pergi ke Pekanbaru, Rumah Warga Pucuk Rantau Kuansing Dilalap Api
- Pretel-pretel, Ornamen Gerbang Main Stadium Bahayakan Pemotor
- Kadishub Keluhkan Tumpukan Sampah Di Depan Halte TMP
- Tiga Penyakit Bahaya Ini Harus Diwaspadai Pemilik Hewan di Bengkalis
- Buaya Muncul di Sungai Siak, Warga Sekitar Diimbau Tak Berenang
- Ribuan Rumah di Bonai Darussalam Terendam Banjir, Jalan Lintas Rohul-Duri Terganggu


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com