Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Rabu, 22 Mei 2019 22:37
PT RAPP Salurkan Bantuan Untuk Anak Yatim, Dhuafa dan Mesjid di Siak

Rabu, 22 Mei 2019 22:31
Sehari Gubri di Siak, Rp 880 Juta Lebih Zakat Terkumpul

Rabu, 22 Mei 2019 20:05
Delapan Jabatan Perwira Disertijab, Kasat Lantas dan Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Diganti

Rabu, 22 Mei 2019 18:58
Antisipasi Lonjakan Traffic, Smartfren Tingkatkan Beragam Layanan

Rabu, 22 Mei 2019 18:08
PBSI Dinilai Teledor, Pemberian Bonus Atlet Bulutangkis Dituding Tidak Tepat Sasaran

Rabu, 22 Mei 2019 17:35
Datangi Polda Riau, Puluhan Massa HMI-MPO Pertanyakan Buruknya Komitmen Penegakan Hukum

Rabu, 22 Mei 2019 17:28
Gubri Serahkan Zakat Sebesar Rp25 Juta di Siak

Rabu, 22 Mei 2019 16:35
Pemprov Riau Segera Perbaiki Kerusakan Ruas Jalan Provinsi di Rohul Jelang Idul Fitri

Rabu, 22 Mei 2019 16:30
Sebelum Berubah BPNT, Bulog Bengkalis Salurkan Beras Otonom 700 Ton

Rabu, 22 Mei 2019 16:12
Dinas PU-PR Pelalawan Segera Lelang 67 Paket Proyek


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 14 Mei 2019 07:04
Ngopi PWI Riau-KLHK Soroti Populasi Harimau dan Gajah di Sumatera

Jumlah satwa dilindungi seperti Gajah dan Harimau Sumatera tinggal sedikit. Banyak ancaman dan tekanan pada pelestarian alam dan satwa.

Riauterkini-PEKANBARU-Dari jumlah populasi gajah sumatera (elephas maximus sumatrae) di Indonesia sebanyak 1.659 ekor, 159-179 ekor ada di Riau. Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir Wiratno MSc,  pada acara Ngobrol Pintar (Ngopi) dan berbuka bersama yang ditaja PWI Riau, Senin (13/5/19).

Menurutnya, gajah gajah itu berada di 5 kantong habitat gajah di Riau. Yaitu di Mahato (perkiraan 3 ekor), Rohil (perkiraan 1 ekor), Petapahan/Minas (perkiraan 11 ekor), Balai Raja (perkiraan 6 ekor), Giam Siak Kecil (perkiraan 50-60 ekor), Tesso Nilo (perkiraan 88-98 ekor).

Sementara, jumlah populasi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di Indonesia hanya tersisa 603 ekor. 52 ekor diantaranya ada di Riau.

"Harimau sumatera di Riau tersebar di 8 kantong. Yaitu di Rimbo Panti (perkiraan 2 ekor), Rimbang Baling (perkiraan 22 ekor), SM Kerumutan (perkiraan 4 ekor), Sinepis (perkiraan 4 ekor), Giam Siak Kecil (perkiraan 9 ekor), Semenanjung Kampar (perkiraan 5 ekor), Tesso Nilo (perkiraan 2 ekor dan Bukit Tiga puluh (Perkiraan 4 ekor)," terangnya.

Wiratno juga menyebutkan, berbagai langkah telah dilakukan sehingga Indonesia berhasil meningkatkan jumlah populasi hewan atau tanaman langka. Gajah Sumatera di 2015 hanya sebanyak 611 ekor menjadi 693 ekor di tahun 2018. Harimau Sumatera dari jumlah 180 ekor di tahun 2015 menjadi 220 ekor di tahun 2018. 

Satwa satwa yang dilindung, termasuk kedua jenis binatang di lindungi tersebut berada di kawasan konservasi di Indonesia yang mencapai 27,14 juta hektare yang terbagi dalam berbagai zona. Yaitu Cagar alam 4,2 juta ha, suaka margasatwa 4,98 juta ha, Taman Wisata Alam, 829 ribu Ha, Tahura, 371 Ha, Taman Nasional, 16,2 juta Ha, Kawasan Suaka Alam, 306 ribu Ha.

Hanya saja, baik satwa di lindungi maupun kawasan konservasi itu memiliki berbagai macam tekanan dan ancaman yang terus meningkat. Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Sustyo Iriyono MSi menyatakan,  bahwa direktorat penegakan hukum di KLHK sudah menginventarisir berbagai kejahatan kehutanan yang menekan dan mengancam pelestarian hutan dan satwa liar yang dilindungi.

Beberapa contoh pelanggaran hukum di bidang lingkungan dan kehutanan menurutnya adalah menguasai hutan tanpa izin, pembalakan liar, pemalsuan dokumen, penyelundupan hewan atau tumbuhan langka dan  sebagainya.

"Pelakunya bisa individu, tergorganisir, oknum politisi, oknum aparat hukum hingga pelaku transnasional atau melibatkan pihak negara lain ," katanya.

Ia menambahkan, bahwa mereka sudah melakukan berbagai upaya baik pencegahan maupun penindakan secara tegas terhadap pelanggaran hukum terhadap lingkungan hidup dan kehutanan.  

"Personel juga dilengkapi bukan saja dari sisi jumlah tetapi juga kemampuan.  Kami lakukan kerja sama dengan seluruh instansi terkait seperti penegak hukum, dikdukcapil, perhubungan, BMKG, dan lain-lain yang semuanya terintegrasi ke dalam big data sehingga informasi yang kita butuhkan terhadap pencegahan dan penegakan hukum mudah dilakukan," ujarnya.

Sustyo menyadari bahwa dari berbagai kasus yang ada, banyak diantaranya yang masih belum selesai. Karenanya dia meminta dukungan semua pihak agar bisa menyelesaikan dengan perangkat dan personel yang ada.*(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Tim BBKSDA Riau Musnahkan Sawit di GSK
- Madu Asli Masih Bisa Ditemukan di Kuansing
- Tim Verifikasi KLA Sambangi Pekanbaru, Walikota Expos Visi dan Misi Smart City Madani
- Restorasi Ekosistem Riau Sukses jaga Habitat Satwa Dilindungi
- RAPP Paparkan Kesuksesan RER, Lestarikan Kawasan Gambut dan Cegah Karlahut
- Basarnas Kerahkan Penyelam, Cari Pelajar Rohul Hilang di Sungai
- Ngopi PWI Riau-KLHK Soroti Populasi Harimau dan Gajah di Sumatera


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com