Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Kamis, 27 Juli 2017 23:02
Ada Fakta, Bupati Bengkalis Minta Masyarakat Laporkan ASN yang Minta Setoran Proyek

Kamis, 27 Juli 2017 23:01
Korban Puting Beliung di Rohul Terima Bantuan Sembako dan Paket Kesehatan

Kamis, 27 Juli 2017 22:58
Kabag Humas Pemkab Bengkalis Bantah Kediaman Bupati sebagai Tempat Nego Proyek

Kamis, 27 Juli 2017 21:15
Bupati Rohul Kunjungan ke Pu‎skesmas Rambah Samo II dan Desa Masda Makmur

Kamis, 27 Juli 2017 21:03
Jelang Pilgubri,
Kepala Daerah Dilarang Lakukan Mutasi Enam Bulan Terhitung Penetapan Paslon


Kamis, 27 Juli 2017 20:32
Pansus RTRW Riau Usulkan Pemutihan 410 Ribu Hektar Lahan ke Kementerian LHK

Kamis, 27 Juli 2017 20:27
Pemkab Kuansing Studi Banding Soal BLUD ke Kabupaten Gunung Kidul

Kamis, 27 Juli 2017 19:10
Di Sungai Kerumutan,
Legislator Pelalawan Sayangkan Arogansi PT MAS Larang Warga Pasang Perangkap Ikan


Kamis, 27 Juli 2017 18:01
Begini Cerita Wabup Kuansing Saat Melihat Kemolekan Hutan Pinus di Bantul

Kamis, 27 Juli 2017 17:51
Dipimpin Presiden Jokowi, Gubri Hadiri Rakornas TPID di Jakarta



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.

Jum’at, 10 Oktober 2008 15:07
Dari Pertemuan IUCN di Bercelona,
Gubernur se-Sumatera Tegaskan Komitmen Selamatkan Ekosistem


Gubernur Riau Wan Abubakar bersama gubernur lain di Sumatera menegaskan komitmennya melestarikan ekosistem Sumatera dalam pertemuan IUCN yang berlangsung di Barcelona, Spanyol.

Riauterkini-BARCELONA- Pemerintah Indonesian hari ini mengumumkan komitmennya mengenai penyelamatan ekosistem pulau Sumatera melalui penataan ruang berbasis ekosistem, restorasi kawasan kritis, dan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi di Sumatera. Komitmen tersebut disampaikan hari ini dalam forum internasional Kongres Konservasi Dunia (World Conservation Congress) IUCN di Barcelona, Spanyol yang berlangsung dari 6 -17 Oktober 2008.

Komitmen penyelamatan ekosistem Pulau Sumatera tersebut sebelumnya telah disepakati dan ditandangani oleh Gubernur se-Sumatera dalam Rapat Gubernur Sumatera yang diadakan di Jakarta pada 18 September 200, dan didukung oleh Menteri Dalam Negeri, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Kehutanan. Implementasi dari kesepakatan ini diharapkan dapat menjadi model pembangunan di Indonesia yang menerapkan penataan ruang berbasiskan ekosistem sebagai landasan pembangunan berkelanjutan di masa sekarang dan yang akan datang.

"Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan ini, para gubernur se-Sumatera akan menyiapkan dokumen strategis dan operasional pendukung guna merealisasikan penyelamatan ekosistem di Pulau Sumatera," kata Hermien Rosita, Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementrian Negara Lingkungan Hidup. "Meskipun model ini dimulai di Pulau Sumatera, implementasi kesepakatan ini juga diharapkan dapat dibangun dan diterapkan di pulau-pulau yang lain".

Sumatra adalah satu-satunya Pulau di dunia dimana empat satwa kunci (flagship species) harimau, gajah, orangutan dan badak Sumatera ditemukan keberadaannya dalam satu pulau. Hutan-hutan di Sumatera juga merupakan daerah resapan air, penyimpan cadangan karbon, gudang tanaman obat, serta sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat sekitarnya CI, FFI, WCS, WWF dan sejumlah organisasi konservasi lainnya di Sumatera yang bergabung didalam Forum Tata Ruang Pulau Sumatera (FORTRUST), telah sepakat untuk membantu terlaksananya implementasi komitmen politis tersebut demi terciptanya keseimbangan ekologis dan terlindunginya hutan dan kekayaan alam lainnya yang tersisa di Sumatera. Pulau Sumatera telah kehilangan 48 persen hutan alamnya sejak 1985. "WWF memberikan apresiasi yang tinggi terhadap komitmen ini dan siap membantu mewujudkan komitmen tersebut di lapangan," kataMubariq Ahmad, Direktur Eksekutif WWF-Indonesia.

Lebih dari 13 persen hutan yang tersisa di Sumatra merupakan hutan gambut. Sebagian diantaranya merupakan hutan gambut dalam dunia dengan kedalaman hinggamencapai 10 meter. Pembukaan hutan-hutan gambut tersebut dapat menyebabkan terjadinya emisi karbon yang merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim. "Dengan menyelamatkan hutan alam yang tersisa, maka Sumatera telah berkontribusi secara signifikan dalam memitigasi perubahan iklim global," kata Marlis Rahman, Wakil Gubernur Sumatra Barat.

"Ada banyak tantangan di hadapan kita untuk memastikan keberhasilan pelaksanaan komitmen ini", kata Noor Hidayat, Direktur Konservasi Kawasan, Departemen Kehutanan. "Kerjasama yang baik antara pemerintah daerah dan pusat serta instansi terkait lainnya, termasuk lembaga finansial, LSM, dan masyarakat daerah maupun komunitas internasional merupakan faktor penting dalam implementasi komitmen ini agar menjadi kenyataan." "Kami mengundang masyarakat internasional untuk mendukung kami dalam implementasi kesepakatan ini di lapangan," kata Noor Hidayat.***(rls)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita lainnya..........
- Korban Puting Beliung di Rohul Terima Bantuan Sembako dan Paket Kesehatan
- Riau Masuk Sebagai Provinsi Siaga Darurat Karlahut
- KLHK Tuding PT RRP Sengaja Bakar Lahan
- Hot Spot Terus Meningkat, Riau dan Empat Provinsi Tetapkan Siaga Darurat Karhutla
- Januari-Juli, 548 Ha Lahan di Riau Terbakar
- Diterjang Puting Beliung, Puluhan Rumah di Desa Boncah Kesuma Rohul Rusak
- 15 Hektare Gambut Terbakar,
Petugas Gabungan di Duri Bertungkus Lumus Padamkan Api



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.224.108.189
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com