|
|
|
Jum’at, 22 Juni 2012 15:03 28 Desa di Rohul Masuk Kawasan Rawan Bencana Alam
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Rohul telah membuat peta kawasan rawan bencana alam. Terdapat 28 desa di 12 kecamatan yang mendapat perhatian serius.
Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Kabupaten Rokan Hulu memiliki luas wilayah
7.449.85 kilometer persegi, terdiri dari 85 persen daratan dan perbukitan,
serta 15 persen daerah perairan dan rawa. Dari 16 kecamatan, 12 kecamatan,
dan 28 desa diantaranya dinyatakan sebagai daerah berpotensi bencana alam,
seperti banjir, longsor, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), puting
beliung, serta kekeringan.
Dua sungai besar yang membelah kawasan Rohul, Sungai Rokan Kanan dan Rokan
Kiri, serta sungai-sungai kecil diantaranya cukup berpotensi bencana banjir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rohul, Aceng
Herdiana, mengungkapkan, kawasan Rohul berada di ketinggian sekitar 1
sampai 150 meter di atas permukaan laut (dpl) cukup berpotensi bencana alam.
Data BPBD Rohul menunjukkan, daerah-daerah potensial yang sering dilanda
bencana alam banjir, seperti Kecamatan Rambah, Bonaidarussalam, Ujungbatu,
Tambusai, dan Kepenuhan. Sementara daerah berpotensi bencana longsor,
seperti Kecamatan Ujungbatu, Tambusai, Bangunpurba.
Daerah rawan bencana Karhutla, seperti Kecamatan Tambusai, Tambusai Utara,
Rokan IV Koto, Bonaidarussalam, Kepenuhan, dan Rambahsamo, “Rata-rata
bencana alam di Rohul adalah bencana banjir. Setiap tahun bencana itu
terjadi, sudah seperti tradisi. Masyarakat sudah paham kapan bencana
datang,” ungkapnya kepada riauterkini.com di Pasirpangaraian, Jumat
(22/6/12).
Aceng mengaku dalam waktu dekat akan mengikuti sosialisasi di Provinsi
Jambi, untuk mengetahui trik menghadapi segala bencana alam secara
signifikan. Dia janji akan terus berupaya memanimilisir dengan preventif
agar bencana dapat diantisipasi sedini mungkin.
Masyarakat bermukim di 12 kecamatan dan 28 desa diintruksikannya agar sigap
dan waspada, baik pada musim penghujan, dan musim kemarau yang merupakan
kebalikan musim penghujan.
“Ini baru sebatas pendataan. Sudah dua hari anggota turun melakukan survey
pemetaan bencana, sebab sejauh ini kita belum memiliki pemetaan bencana
alam,” ungkapnya.
Pada 2012, BPBD Rohul kata Aceng hanya menerima bantuan dari APBD Rohul
sekitar Rp1,2 miliar. Menurutnya, masih butuh peningkatan, sebab dana baru
sebatas untuk mobiler dan operasional. “Saat ini kita lebih banyak
berkoordinasi dengan provinsi dan pusat,” ujarnya.
Menanggapi rawan bencana, M Hasibuan, salah seorang warga Desa Rambah
Tengah Hulu, Rambah, berharap pemerintah membangun turap di sepanjang
bantaran Sungai Pawan.
Hasibuan mengaku 5 tahun sekali, setengah desanya direndam air bah. Bahkan
pada 2010 silam, banjir bandang pernah melanda desa nya, serta desa
tetangga dan menyebabkan kerugian material di masyarakat.
“Sebelum ada korban jiwa, kami berharap pemerintah segera membangun turap
di bantaran Sungai Pawan dekat pemukiman warga, sebab banjir sering
merendam rumah warga sekitar,” harapnya.***(zal)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
|
|
|