|
|
|
Kamis, 26 Juli 2012 17:42 DBPTH Kemenhut Puji Konsep Pembibitan RAPP
Direktur Bina Pembenihan Tanaman Hutan (DBPTH) Kementeri Kehutanan Lamris Sitompul mengunjungi KCN PT RAPP. Secara umum, konsep pembibitan yang diterapkan sudah ideal.
Riauterkini-PELALAWAN - Saat ini, wacana Pengelolaan Hutan Lestari atau lebih dikenal
dengan Sustainable Forest Management tengah gencar-gencarnya diterapkan di
negara ini. Dan pada prinsipnya, manajemen hutan lestari merupakan konsep
pengelolaan hutan lestari yang menyimbangkan antara fungsi ekologis dan
fungsi ekonomis hutan dengan pelibatan masyarakat di dalamnya.
Hal ini diungkapkan oleh Direktur Bina Perbenihan Tanaman Hutan dari
Kementerian Kehutanan RI, Ir Lamris Sitompul, saat berkunjung ke Kerinci
Central Nursery (KCN) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Kamis (26/7).
Menurutnya, pengelolaan hutan berkelanjutan harus memiliki tujuan sosial,
ekonomi dan lingkungan yang sangat luas.
"Dan pengelolaan hutan lestari yang kini tengah diterapkan itu dimulai dari
benih yang berkualitas. Soalnya, dengan mempersiapkan serta memiliki benih
yang bagus maka secara otomatis akan menghasilkan kualitas pohon yang bagus
pula," katanya.
Lamris menjelaskan bahwa pengelolaan hutan dapat dikatakan lestari jika
memenuhi tiga (3) kriteria utama yakni kelestarian produksi, dimana
maksudnya terjaminnya keberlangsungan pemanfaatan hasil hutan dan usahanya.
Kemudian adanya kelestarian ekologi atau lingkungan, dan ini merupakan
salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang dapat menjamin
terpeliharanya fungsi ekosistem beserta komponennya dalam jangka panjang.
"Dan kriteria ketiga yaitu adanya kelestarian sosial dan budaya. Ini adalah
salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang menjamin
kesejahteraan dan integrasi sosial melalui pelaksanaan jaminan akses dan
kontrol komunitas atau masyarakat terhadap sumberdaya hutan, pengendalian
dampak pengusahaan hutan terhadap komunitas, dan hubungan ketenagakerjaan
yang harmonis antara unit manajemen dan pekerja," bebernya.
Sebelum mengunjungi KCN, Lamris yang datang bersama Toni Kartinan selaku
Kepala Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah Sumatera di Palembang beserta
staff lainnya, berkesempatan mengunjungi Laboratorium Research and
Development pembenihan milik perusahaan kayu yang berbasis di Pangkalan
Kerinci itu.
Pada kesempatan tersebut, rombongan mendapat penjelasan secara detail dari
salah satu Research and Development, Rosmalonin, didampingi Seed Management
Manager RAPP, Hero Dien, terkait soal bibit-bibit kayu yang ada di
perusahaan tersebut. Dijelaskannya, bahwa untuk mendapatkan benih yang
bagus maka dilakukan proses seleksi benih yang dilakukan oleh beberapa
orang.
"Dari situ, kemudian benih-benih yang telah melalui proses seleksi itu
berlanjut ke tahap berikutnya," katanya.
Disinggung soal hasil tinjauan yang telah dilakukan ke PT RAPP sendiri,
baik Lamris maupun Toni mengatakan bahwa perusahaan ini telah menerapkan
prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari. Hal ini bisa dilihat dari mulai
tingkat penyiapan benih sampai ke proses-proses selanjutnya telah dilakukan
secara profesional dengan menerapkan best practices atau praktek-praktek
terbaik.
"Bahkan bagusnya di sini, pembibitan itu tak mengenal musim. Sehingga
regenerasi tanaman itu akan terus bergulir, apalagi dengan memakai konsep
pengelolaan seperti ini," kata Toni saat berbincang-bincang dengan media
ini. Menurutnya, secara sederhana pengelolaan hutan lestari dapat
digambarkan sebagai pencapaian keseimbangan-keseimbangan antara tuntutan
masyarakat yang semakin meningkat untuk produk hutan, manfaat, dan
pelestarian kesehatan hutan dan keanekaragaman hayati. Keberlanjutan ini
sangat penting untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat yang
bergantung pada hutan.
"Intinya, pengelolaan hutan berkelanjutan berarti melakukan upaya yang
nyata untuk memastikan agar manfaat dan produktifitas hutan yang dapat
dinikmati pada saat ini akan sama atau bahkan dapat ditingkatkan di masa
depan," tandasnya.
Ditanya soal penerapan pembenihan ini apakah juga telah diterapkan di
perusahaan-perusahaan lain, Lamris mengakui bahwa sepanjang pengetahuannya
memang beberapa perusahaan kayu seperti di Jambi, Sumatera telah menerapkan
hal yang sama. Namun untuk pola-pola perlakuannya sendiri, diakui, bahwa PT
RAPP memiliki kelebihan lain dengan penerapan perlakukan yang profesional.
"Pengelolaan-pengelolaan seperti ini alangkah bagusnya jika diketahui oleh
masyarakat luas, sehingga mereka tak keburu apriori soal peran dan
kewajiban perusahaan dalam pengelolaan hutan lestari," tutupnya. (andy)
Sementara itu, Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Mulia Nauli
saat dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan bahwa perusahaan berkomitmen
untuk menghasilkan bibit yang berkualitas terbaik untuk Hutan Tanaman
Industri (HTI). Bibit tersebut dihasilkan dari sarana pembibitan (nursery)
yang menerapkan teknologi pembibitan kehutanan dengan didukung oleh
kegiatan Penelitian dan Pengembangan yang dilakukan secara berkelanjutan.
"Saat ini, kami memiliki Pusat Pembibitan yang berada di Pangkalan Kerinci,
Pelalawan, Baserah dan satelite nursery yang dapat menghasilkan 200 juta
bibit setiap tahunnya. Perusahaan juga menanam 500.000 pohon setiap harinya
atau setara dengan 150 juta pohon setiap tahun," ujarnya.
Ditambahkannya, dan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas
serat kayu maka perusahaan melakukan berbagai upaya. Diantaranya berupa
intergrasi perbaikan genetik tanaman, sifat kayu yang diinginkan,
penyebaran bahan genetik terbaik, praktek silvikultur yang tepat untuk
lahan dan spesies serta meminimalkan penurunan kualitas karena hama dan
penyakit.
"Perusahaan juga sudah berkolaborasi dengan berbagai lembaga penelitian
baik nasional maupun internasional untuk pengembangan teknologi kehutanan
dan teknologi pulp dan kertas. Saat ini, RAPP didukung beberapa
laboratorium seperti Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Tanah &
Pupuk, Laboratorium Kayu serta Laboratorium Hama & Penyakit," tutupnya.***(rls)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
Cik Puan Betol sekali pak Atan. Ujung2nye duet. Kenape tak ditanye, darimane mike dapat coco peat untuk mendukung pembibitan? Apakah coco peat yg mike pakai dari Riau?
Atan Ngapelah mike Ni... Bisenye cuma memuji org lain .... Kerje mike mane ??? Nanti dah mike cakap pulak .. INILAH HASIL PEMBINAAN KAMI ????? Padahal mike datang nak mintak duit ....
|
|