Untitled Document
Selasa, 11 Rajab 1434 H |
Home > Lingkungan >>

Berita Terhangat..
Selasa, 21 Mei 2013 19:40
Ahmi Septari Nahkodai Perindo Riau

Selasa, 21 Mei 2013 19:39
Bagai Film Laga, Warga Pelalawan Halau Kawanan Rampok

Selasa, 21 Mei 2013 19:37
Genreasi Ketiga All New Picanto Tampil Lebih Elegan dan Sporty

Selasa, 21 Mei 2013 19:35
JCH Inhu Kembali Gunakan Sky Aviation ke Batam

Selasa, 21 Mei 2013 19:34
Pemprov Riau tak Dapat Deviden Kawasan Wisata Lagoi dan Bintan

Selasa, 21 Mei 2013 19:33
Dishut Dumai Temukan 10 Titik Api

Selasa, 21 Mei 2013 19:29
Dari Perss Corner,
Program Pariwisata di Riau Banyak Kebohongan




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 26 Juli 2012 17:42
DBPTH Kemenhut Puji Konsep Pembibitan RAPP

Direktur Bina Pembenihan Tanaman Hutan (DBPTH) Kementeri Kehutanan Lamris Sitompul mengunjungi KCN PT RAPP. Secara umum, konsep pembibitan yang diterapkan sudah ideal.

Riauterkini-PELALAWAN - Saat ini, wacana Pengelolaan Hutan Lestari atau lebih dikenal dengan Sustainable Forest Management tengah gencar-gencarnya diterapkan di negara ini. Dan pada prinsipnya, manajemen hutan lestari merupakan konsep pengelolaan hutan lestari yang menyimbangkan antara fungsi ekologis dan fungsi ekonomis hutan dengan pelibatan masyarakat di dalamnya.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Bina Perbenihan Tanaman Hutan dari Kementerian Kehutanan RI, Ir Lamris Sitompul, saat berkunjung ke Kerinci Central Nursery (KCN) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Kamis (26/7). Menurutnya, pengelolaan hutan berkelanjutan harus memiliki tujuan sosial, ekonomi dan lingkungan yang sangat luas.

"Dan pengelolaan hutan lestari yang kini tengah diterapkan itu dimulai dari benih yang berkualitas. Soalnya, dengan mempersiapkan serta memiliki benih yang bagus maka secara otomatis akan menghasilkan kualitas pohon yang bagus pula," katanya.

Lamris menjelaskan bahwa pengelolaan hutan dapat dikatakan lestari jika memenuhi tiga (3) kriteria utama yakni kelestarian produksi, dimana maksudnya terjaminnya keberlangsungan pemanfaatan hasil hutan dan usahanya. Kemudian adanya kelestarian ekologi atau lingkungan, dan ini merupakan salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang dapat menjamin terpeliharanya fungsi ekosistem beserta komponennya dalam jangka panjang.

"Dan kriteria ketiga yaitu adanya kelestarian sosial dan budaya. Ini adalah salah satu dimensi hasil pengelolaan hutan lestari yang menjamin kesejahteraan dan integrasi sosial melalui pelaksanaan jaminan akses dan kontrol komunitas atau masyarakat terhadap sumberdaya hutan, pengendalian dampak pengusahaan hutan terhadap komunitas, dan hubungan ketenagakerjaan yang harmonis antara unit manajemen dan pekerja," bebernya.

Sebelum mengunjungi KCN, Lamris yang datang bersama Toni Kartinan selaku Kepala Balai Perbenihan Tanaman Hutan Wilayah Sumatera di Palembang beserta staff lainnya, berkesempatan mengunjungi Laboratorium Research and Development pembenihan milik perusahaan kayu yang berbasis di Pangkalan Kerinci itu.

Pada kesempatan tersebut, rombongan mendapat penjelasan secara detail dari salah satu Research and Development, Rosmalonin, didampingi Seed Management Manager RAPP, Hero Dien, terkait soal bibit-bibit kayu yang ada di perusahaan tersebut. Dijelaskannya, bahwa untuk mendapatkan benih yang bagus maka dilakukan proses seleksi benih yang dilakukan oleh beberapa orang.

"Dari situ, kemudian benih-benih yang telah melalui proses seleksi itu berlanjut ke tahap berikutnya," katanya.

Disinggung soal hasil tinjauan yang telah dilakukan ke PT RAPP sendiri, baik Lamris maupun Toni mengatakan bahwa perusahaan ini telah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan hutan lestari. Hal ini bisa dilihat dari mulai tingkat penyiapan benih sampai ke proses-proses selanjutnya telah dilakukan secara profesional dengan menerapkan best practices atau praktek-praktek terbaik.

"Bahkan bagusnya di sini, pembibitan itu tak mengenal musim. Sehingga regenerasi tanaman itu akan terus bergulir, apalagi dengan memakai konsep pengelolaan seperti ini," kata Toni saat berbincang-bincang dengan media ini. Menurutnya, secara sederhana pengelolaan hutan lestari dapat digambarkan sebagai pencapaian keseimbangan-keseimbangan antara tuntutan masyarakat yang semakin meningkat untuk produk hutan, manfaat, dan pelestarian kesehatan hutan dan keanekaragaman hayati. Keberlanjutan ini sangat penting untuk kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat yang bergantung pada hutan.

"Intinya, pengelolaan hutan berkelanjutan berarti melakukan upaya yang nyata untuk memastikan agar manfaat dan produktifitas hutan yang dapat dinikmati pada saat ini akan sama atau bahkan dapat ditingkatkan di masa depan," tandasnya.

Ditanya soal penerapan pembenihan ini apakah juga telah diterapkan di perusahaan-perusahaan lain, Lamris mengakui bahwa sepanjang pengetahuannya memang beberapa perusahaan kayu seperti di Jambi, Sumatera telah menerapkan hal yang sama. Namun untuk pola-pola perlakuannya sendiri, diakui, bahwa PT RAPP memiliki kelebihan lain dengan penerapan perlakukan yang profesional.

"Pengelolaan-pengelolaan seperti ini alangkah bagusnya jika diketahui oleh masyarakat luas, sehingga mereka tak keburu apriori soal peran dan kewajiban perusahaan dalam pengelolaan hutan lestari," tutupnya. (andy)

Sementara itu, Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Mulia Nauli saat dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk menghasilkan bibit yang berkualitas terbaik untuk Hutan Tanaman Industri (HTI). Bibit tersebut dihasilkan dari sarana pembibitan (nursery) yang menerapkan teknologi pembibitan kehutanan dengan didukung oleh kegiatan Penelitian dan Pengembangan yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Saat ini, kami memiliki Pusat Pembibitan yang berada di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Baserah dan satelite nursery yang dapat menghasilkan 200 juta bibit setiap tahunnya. Perusahaan juga menanam 500.000 pohon setiap harinya atau setara dengan 150 juta pohon setiap tahun," ujarnya.

Ditambahkannya, dan untuk mendukung peningkatan produktivitas dan kualitas serat kayu maka perusahaan melakukan berbagai upaya. Diantaranya berupa intergrasi perbaikan genetik tanaman, sifat kayu yang diinginkan, penyebaran bahan genetik terbaik, praktek silvikultur yang tepat untuk lahan dan spesies serta meminimalkan penurunan kualitas karena hama dan penyakit.

"Perusahaan juga sudah berkolaborasi dengan berbagai lembaga penelitian baik nasional maupun internasional untuk pengembangan teknologi kehutanan dan teknologi pulp dan kertas. Saat ini, RAPP didukung beberapa laboratorium seperti Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Tanah & Pupuk, Laboratorium Kayu serta Laboratorium Hama & Penyakit," tutupnya.***(rls)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Cik Puan
Betol sekali pak Atan. Ujung2nye duet. Kenape tak ditanye, darimane mike dapat coco peat untuk mendukung pembibitan? Apakah coco peat yg mike pakai dari Riau?

Atan
Ngapelah mike Ni... Bisenye cuma memuji org lain .... Kerje mike mane ??? Nanti dah mike cakap pulak .. INILAH HASIL PEMBINAAN KAMI ????? Padahal mike datang nak mintak duit ....


Berita lainnya..........
- Dishut Dumai Temukan 10 Titik Api
- BPMP2T Siak Wajibkan Pengusaha Galian C "Kantongi" Izin
- Pemko Anggaran Rp 100 Miliar untuk Pembebasan Lahan RTH
- Tahun Depan, Pemko Pekanbaru Gandeng Swasta Atasi Sampah
- RAPP Gelar Kompetisi Ketangkasan Memadamkan Api
- Pemko Dumai Bakal Kelola 1000 Hektare dari Chevron
- Pemko Dumai Mulai Bahas Penetapan UMK 2014


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 107.22.156.205
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com