Untitled Document
Rabu, 10 Sya'ban 1434 H |
Home > Luar >>

Berita Terhangat..
  Rabu, 19 Juni 2013 19:40
PD Riau Hadirkan 800 Bacaleg untuk Pemenangan Pilgubri

Rabu, 19 Juni 2013 19:32
Asap Semakin Tebal,
Disdik Pekanbaru Tunggu Intruksi Diskes Liburkan Sekolah


Rabu, 19 Juni 2013 19:26
Surau Putih Berumur 80 Tahun di Nuambai, Kampar

Rabu, 19 Juni 2013 19:04
Polsek Bangko Rohil Amankan 800 Liter Solar

Rabu, 19 Juni 2013 18:57
JE-MM Letakkan Batu Pertama PDTA Lubuk Batujaya

Rabu, 19 Juni 2013 18:50
60 PNS Rohul Segera Memasuki Masa Pensiun

Rabu, 19 Juni 2013 18:45
Bupati Bengkalis Lantik Kades Bukit Kerikil



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 23 Mei 2006 16:08
67 % Apotik Tak Gunakan Apoteker

Hasil survey yang digelar YLKI menyatakan 67 % apotik tidak penggunakan tenaga apoteker. Jadi hanya 33 Persen saja apotek yang menggunakan Apoteker.

Riauterkini-JAKARTA- Berdasarkan pengaduan pelanggan apotek tentang seringnya terjadi penggantian komposisi obat oleh petugas apotek atau pemberian obat yang melebihi dosis, YLKI pun bergerak. Survei digelar. Riset ini dilakukan terhadap pelayanan kefarmasian di 33 apotek di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan dengan melibatkan 110 responden. Agar hasilnya oke, survei dilakukan selama dua kali yakni periode Juni-September 2005 dan periode Maret-Mei 2006.

Dari hasil survei YLKI menemukan fakta bahwa beberapa apotek menolak memberikan obat keras karena konsumen harus membeli dengan resep. Padahal obat tersebut termasuk dalam daftar obat wajib apotek (DOA), yang memperingan kocek konsumen.

Yang menarik, hasil survei juga menunjukan hanya 33 persen apotek yang memiliki apoteker. 64 Persen apotek hanya mengandalkan petugas apotek, sedangkan 3 persen apotek hanya dilayani tenaga PKL alias magang. Hal ini jelas mempengaruhi kualitas pelayanan apotek.

"Kualitas pelayanan dengan apoteker akan lebih baik dibandingkan tanpa apoteker," kata staf riset YLKI, Ida Marlinda, dalam jumpa pers di Hotel Maharani, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (23/5).

YLKI juga menemukan satu apotek yang tidak menyediakan obat generik. "Masih ada petugas apotek yang mengatakan obat generik kerjanya lambat dan tidak semua apotek paham bahwa obat TBC untuk bulan kedua dapat dibeli tanpa resep dokter," beber Ida.

Hasil survei juga menunjukkan, ada 12 apotek yang petugasnya tidak mampu menjelaskan efek samping suatu obat. Petugas itu malah menyarankan pelanggan untuk bertanya kepada dokter.

"Tingkat kejelasan dalam memberi informasi hanya 64 persen, berarti sekitar 36 persen konsumen masih merasa kabur dalam menerima informasi di apotek. Maka tidak heran jika masih ada konsumen yang lari ke toko obat," ungkap Ida.***(Int.Net)



Beri tanggapan | Baca tanggapan

Berita Luar lainnya..........
- Dalam Dua Tahun Indonesia Akan Bayar Hutang Pada IMF
- Bocah Tujuh Tahun Berenang Dari Alcatraz ke San Francisco
- Jaksa Agung Beberkan Kasus Korupsi di DPD
- Bush dan Blair Bicarakan Percepatan Penarikan Pasukan dari Irak
- Capai Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Perlu Rp 918 Triliun
- 67 % Apotik Tak Gunakan Apoteker
- SBY Tegaskan Tidak Akan Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Australia


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 107.22.25.119
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com