24/10/2017 16:14
Diduga Anak Polisi,
Seorang Penyalahguna Narkoba di Meranti Diciduk Aparat

22/10/2017 10:11
Tim Gabungan Padamkan Kebakaran Lahan 35 Hektar di Rangsang, Meranti

21/10/2017 17:51
RAPP Bantu Perbaiki Jalan Rusak di Teluk Meranti

20/10/2017 14:59
Termasuk Wakapolres, 11 Perwira Polres Meranti Dimutasikan

17/10/2017 19:52
Menuju Porprov Riau 2017, Kontingen Meranti Berangkat Naik KM Jelatik

17/10/2017 19:17
Bahas Perdagangan Lintas Batas, Bupati Meranti Rapat Bersama DPD RI

17/10/2017 19:03
Sidang KKEP Polri, Tiga Personil Polres Meranti di Pecat Tidak Dengan Hormat

27/09/2017 17:36
Dugaan Korupsi Penerimaan PTT Diskes,
Kejari Pelalawan Periksa Sekcam Teluk Meranti

26/09/2017 09:44
WO Dua Anggota tak Halangi DPRD Meranti Sahkan APBD-P 2017

20/09/2017 17:38
Terlibat Kriminal dan Sering Bolos, Dua Personil Polres Meranti Divonis Pecat

  Selasa, 15 Agustus 2017 22:51
Jelajah Produk Asal Riau,
ICCO Cooperation Bersama Scale Up Kunjungi Teluk Meranti, Pelalawan


Riauterkini - PEKANBARU - Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Semenanjung Kampar. Teluk Meranti terletak di Kabupaten Pelelawan dan luasnya 135, 477 hektar. Daerah ini didominasi oleh rawa gambut.

Masyarakat Teluk Meranti juga memiliki kehidupan sosial ekonomi yang unik. Sebelum adanya aturan tentang Ilegal Logging dan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) pada tahun 2004, masyarakat biasa melakukan pemanfatan hutan untuk mencari kayu dan mengolahnya jadi papan. Selain itu masyarakat juga mayoritas menjadi nelayan serta petani padi dan jagung.

Bahkan tahun 90-an masyarakat Teluk Meranti bisa mengekspor kayu ke Malaysia dan Singapura serta masyarakat juga memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari seperti membuat rumah,  tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

"Namun sejak adanya pelarangan ilegal logging dan masuknya HTI kehidupan masyarakat khususnya di Teluk Meranti membuat warga pribumi menjadi serba kesulitan, bahkan untuk membangun rumah sendiri masyarakat tidak bisa karena hutan tidak bisa dimanfaatkan lagi, kegiatan pertanian selalu gagal karena hama yang tak terkendali dan aktifitas nelayan jadi sangat terbatas," ungkap Lurah Teluk Meranti Kecamatan Taluk Meranti Kabupaten Pelalawan,  Mursidi,  Selasa (15/8).

Untuk bertahan hidup masyarakat Teluk Meranti terpaksa melakukan berbagai inovasi mulai dari membangun penangkaran burung walet, tambak ikan, mengelola hutan kehidupan (plasma) dan bekerja di perusahaan HTI.

Untuk mengenal lebih jauh serta mempelajari pola hubungan sosial ekonomi masyarakat-korporasi di Teluk Meranti, ICCO Cooperation dan Scale Up melakukan ekspedisi ke daerah tersebut. Ekspedisi ini dilakukan mulai dari 15-17 Agustus 2017. Ekspedisi ini juga diikuti oleh sejumlah wartawan, fotografer, LSM serta perwakilan dari beberapa korporasi.

Melalui kegiatan ekspedisi selama beberapa hari di Teluk Meranti, Mursidi beharap masyarakat dan tim ekspedisi bisa saling bertukar pikiran. "Kita ingin agar masyarakat di sini yang masih tradisional bisa mendapatkan masukan. Karena selama ini masyarakat berada di posisi yang merugi dibanding sebelum adanya HTI," sebutnya.

Program Officer ICCO, Kiswara Santi Pro

Ihandini menyatakan bahwa pihaknya ingin mempelajari seperti apa pola sosial ekonomi yang ada di Teluk Meranti. Ia ingin mengetahui seperti apa penerapan hak dan kewajiban dalam hubungan masyarakat setempat dengan korporasi.

"Di samping itu kita juga ingin melihat kawasan wisata Bono dan juga Sungai Kampar," ungkap Kiswara.

Selama kegiatan tersebut peserta ekspedisi akan melakukan pengunjungan ke rumah penduduk setempat dan juga lokasi usaha perekonomiannya. Peserta juga akan melakukan penelusuran di Sungai Kampar melihat seperti apa masyarakat menangani Ombak Bono. *(dan).

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com