16/08/2017 18:55
Terlibat Narkoba,
Anggota Polres Meranti Briptu TH Dipecat Tidak Hormat

16/08/2017 14:47
Jelajah Produk Anak Negeri,
Inilah Karya Masdi untuk Taluk Meranti

16/08/2017 07:32
ICCO Coorperation dan Scale Up Taja Ekapedisi Jelajah Produk Asal Riau di Teluk Meranti

15/08/2017 22:51
Jelajah Produk Asal Riau,
ICCO Cooperation Bersama Scale Up Kunjungi Teluk Meranti, Pelalawan

15/08/2017 18:09
BRK Sebagai Pengelola Kas Titipan di Selat Panjang, Meranti

15/08/2017 14:41
BI Sosialisasikan Rupiah Asli ke SMAN 1 Tebing Tinggi, Meranti

15/08/2017 11:51
Kerjasama BI-Bank Riau Kepri, Kantor Kas Titipan Selatpanjang Diresmikan Bupati Meranti

14/08/2017 21:55
Kronologis Penangkapan 1,6kg Sabu dan Oknum Polisi di Meranti

14/08/2017 20:51
Koramil 02 Tebing Tinggi, Meranti Gagalkan Transaksi 1,6 Kg Sabu

12/08/2017 15:32
Miliki Narkoba 0,30 Gram, Tukang Servis Elektronik di Meranti ini Dibekuk

  Rabu, 16 Agustus 2017 07:32
ICCO Coorperation dan Scale Up Taja Ekapedisi Jelajah Produk Asal Riau di Teluk Meranti

Riauterkini - PEKANBARU - Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Semenanjung Kampar. Teluk Meranti terletak di Kabupaten Pelelawan dan luasnya 135, 477 hektar.

Daerah ini didominasi oleh rawa gambut. Masyarakat Teluk Meranti juga memiliki kehidupan sosial ekonomi yang unik. Sebelum adanya aturan tentang Ilegal Logging dan konsesi Hutan Tanaman Industri (HTI) pada tahun 2004, masyarakat biasa melakukan pemanfatan hutan untuk mencari kayu dan mengolahnya jadi papan.

Selain itu masyarakat juga mayoritas menjadi nelayan serta petani padi dan jagung. Bahkan tahun 90-an masyarakat Teluk Meranti bisa mengekspor kayu ke Malaysia dan Singapura serta masyarakat juga memanfaatkannya untuk kebutuhan sehari-hari seperti membuat rumah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

"Namun sejak adanya pelarangan ilegal logging dan masuknya HTI kehidupan masyarakat khususnya di Teluk Meranti membuat warga pribumi menjadi serba kesulitan, bahkan untuk membangun rumah sendiri masyarakat tidak bisa karena hutan tidak bisa dimanfaatkan lagi, kegiatan pertanian selalu gagal karena hama yang tak terkendali dan aktifitas nelayan jadi sangat terbatas," ungkap Lurah Teluk Meranti Kecamatan Taluk Meranti Kabupaten Pelalawan, Mursidi, Selasa (15/8/17).

Untuk bertahan hidup masyarakat Teluk Meranti terpaksa melakukan berbagai inovasi mulai dari membangun penangkaran burung walet, tambak ikan, mengelola hutan kehidupan (plasma) dan bekerja di perusahaan HTI.

Untuk mengenal lebih jauh serta mempelajari pola hubungan sosial ekonomi masyarakat-korporasi di Teluk Meranti, ICCO Cooperation dan Scale Up melakukan ekspedisi ke daerah tersebut. Ekspedisi ini dilakukan mulai dari 15-17 Agustus 2017.

Ekspedisi ini juga diikuti oleh sejumlah wartawan, fotografer, LSM serta perwakilan dari beberapa korporasi. Melalui kegiatan ekspedisi selama beberapa hari di Teluk Meranti, Mursidi beharap masyarakat dan tim ekspedisi bisa saling bertukar pikiran.

"Kita ingin agar masyarakat di sini yang masih tradisional bisa mendapatkan masukan. Karena selama ini masyarakat berada di posisi yang merugi dibanding sebelum adanya HTI," sebutnya.

Program Officer ICCO, Kiswara Santi Pro Ihandini menyatakan bahwa pihaknya ingin mempelajari seperti apa pola sosial ekonomi yang ada di Teluk Meranti.

Ia ingin mengetahui seperti apa penerapan hak dan kewajiban dalam hubungan masyarakat setempat dengan korporasi.

"Di samping itu kita juga ingin melihat kawasan wisata Bono dan juga Sungai Kampar," ungkap Kiswara.

Selama kegiatan tersebut peserta ekspedisi akan melakukan pengunjungan ke rumah penduduk setempat dan juga lokasi usaha perekonomiannya. Peserta juga akan melakukan penelusuran di Sungai Kampar melihat seperti apa masyarakat menangani Ombak Bono. ***(dan)

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com