24/10/2017 16:14
Diduga Anak Polisi,
Seorang Penyalahguna Narkoba di Meranti Diciduk Aparat

22/10/2017 10:11
Tim Gabungan Padamkan Kebakaran Lahan 35 Hektar di Rangsang, Meranti

21/10/2017 17:51
RAPP Bantu Perbaiki Jalan Rusak di Teluk Meranti

20/10/2017 14:59
Termasuk Wakapolres, 11 Perwira Polres Meranti Dimutasikan

17/10/2017 19:52
Menuju Porprov Riau 2017, Kontingen Meranti Berangkat Naik KM Jelatik

17/10/2017 19:17
Bahas Perdagangan Lintas Batas, Bupati Meranti Rapat Bersama DPD RI

17/10/2017 19:03
Sidang KKEP Polri, Tiga Personil Polres Meranti di Pecat Tidak Dengan Hormat

27/09/2017 17:36
Dugaan Korupsi Penerimaan PTT Diskes,
Kejari Pelalawan Periksa Sekcam Teluk Meranti

26/09/2017 09:44
WO Dua Anggota tak Halangi DPRD Meranti Sahkan APBD-P 2017

20/09/2017 17:38
Terlibat Kriminal dan Sering Bolos, Dua Personil Polres Meranti Divonis Pecat

  Jum’at, 18 Agustus 2017 14:50
Tergerus Abrasi, Wisata Ombak Bono di Teluk Meranti Terancam Hilang

Riauterkini - PEKANBARU - Ombak Bono di Taluk Meranti, Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu pilihan wisata terbaik di Provinsi Riau. Hampir setiap tahun kawasan wisata tersebut didatangi oleh wisatawan baik lokal maupun mancanegara.

Bahkan, kedatangan musim ombak bono sangat ditunggu-tunggu wisatawan pasalnya ada sensasi tersendiri ketika sedang berselancar di tujuh gelombang bono. "Biasanya berselancar itu di pantai tapi di Teluk Meranti kita akan berselancar di Sungai Kampar. Inilah salah satu keajabian dunia di Indoneaia yang terletak di Riau tepatnya di Teluk Meranti," ungkap seorang warga Taluk Meranti, Muhammad Nasir atau lebih akrab disapa Bang Kenek.

Daya tarik Ombak Bono ini mendatangkan berkah tersendiri bagi seluruh masyarakat Teluk Meranti, banyaknya datang wisatawan ke daerah tersebut membuat roda perekonomian berputar kencang seiring juga pembangunan infrastruktur.

"Dulu, ada selogan dari kalangan masyarakat bahwa hanya "wisatawan gila" yang mau datang dan bermain dengan ombak bono ke sini. Karena akses jalan yang sangat buruk, tempat terpencil jauh dari fasilitas minim dan bahaya yang disebabkan oleh bono. Tapi kini situasinya sudah berubah akses jalan sudah mulai baik, fasilitas sudah memadai dan Ombak Bono adalah hal yang ditunggu tungu setiap tahunnya, " papar Bang Kenek sembari munjukkan lokasi Ombak itu muncul.

Dibalik keindahan dan keistimewaan wisata Ombak Bono itu muncul kekhawatiran bagi seluruh masyarakat Taluk Meranti. Hal itu disebabkan adanya ancaman abrasi oleh ombak Bono yang selalu menggerus pinggir bibir Sungai Kampar sedikit demi sedikit setiap tahunnya.

"Inilah yang selalu menghantui kami, abrasi membuat Sungai Kampar semakin luas dan pemukiman warga terbawa serta ditenggelamkan air," ungkap Bang Kenek lagi.

Diceritakannya, dulu tahun 90-an warga Teluk Meranti ini hidup dan tinggal di Desa Sungai Serkap namun akibat abrasi yang selalu terjadi setiap tahunnya Desa Sungai Serkap hilang seakan ditelan bumi.

"Sekarang kami sudah pindah ke kawasan Taluk Meranti, namun ancaman abrasi masih menghantui setiap warga. Karena berdasarkan pantauan setiap tahunnya abrasi selalu mengerus bibir sungai 120 meter setiap tahunnya," keluhnya.

Abrasi tersebut diperparah dengan maraknya penebangan pohon di hutan serta hadirnya HTI (hutan kawasan industri). Upaya dari masyarakat juga sudah sangat maksimal tapi abrasi selalu saja menggerus lahan disekitar bibir sungai hingga meruntuhkan perumahan warga satu demi satu.

Suarno seoeang warga di kampung Jawa kelurahan Teluk Meranti dinilai berhasil mengantisipasi gerusan abrasi itu, dengan menanam banyak pohon waru dilahan miliknya sepanjang pinggir sungai 300 meter terbukti bisa menahan abrasi.

"Saya sudah menanam pohon waru sejah tahun 2010, sekarang manfaatnya sudah terasa dan rumah saya terbebas dari abrasi. Saya berharap pemerintah mau menggalakkan penanaman pohon waru ini sehingga bisa mengantisipasi abrasi. Jika hanya bertumpu pada warga disini tentu hasilnya tidak akan maksimal, " ujar kakek berusia setengah abad ini.

Pria yang akrab dipanggil Pak de ini juga memprediksi dalam 25 tahun kedepan wisata Bono akan hilang jika abrasi tidak diatasi. Alasannya semakin luas sungai Kampar maka ombak Bono akan semakin kecil. Buktinya dulu waktu sungai Kampar selebar sungai Siak ombak Bono sangat besar dan tinggi, tapi setelah sungai Kampar melebar empat kali ukuran sebelumnya ombak Bono tidak besar seperti dulu lagi dan terjadi pendangkalan sungai.

"Harapan kami kepada Pemerintah, karena kawasan ini sudah ditetapkan sebagai Desa Wisata bisa memberikan perhatian lebih untuk kelangsungan desa ini. Jangan sampai pada zaman anak cucu kita nanti Ombak Bono hanya tinggal nama, " katanya. ***(dan)

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com