30/07/2018 19:01
Mahasiswa Kukerta dan Kelompok DARLING Meranti Tanam Seribu Mangrove

30/07/2018 16:56
Polda Riau Amankan 3 Ton Kayu Ilegal Jenis Meranti

29/07/2018 14:26
Pondok Tahfidz Nurul Qur'an,
Alumninya Sudah Jadi Imam di Teluk Meranti hingga Kuliah di Yaman

27/07/2018 21:55
Habib Hamidi dan Sri Astuti Terpilih Sebagai Bujang Dara Meranti 2018

26/07/2018 22:12
Ribuan Masyarakat Saksikan Malam Grand Finalis Bujang Dara Meranti 2018

26/07/2018 16:52
Hadirkan Ustadz Abdul Somad,
Bupati dan Wabup Meranti Ajak Masyarakat Ramaikan Malam Tabligh Akbar 12 Agustus 2018

25/07/2018 19:44
Bupati Meranti Lantik 13 Pj Kades

24/07/2018 19:44
PT RAPP Sosialisasikan Pencegahan dan Bahaya Karhutla pada 54 Sekolah di Meranti

23/07/2018 15:43
Said Hasyim Lepas Pawai Ta'aruf dan Resmi Bazar MTQ X Kabupaten Kepulauan Meranti

23/07/2018 14:53
Kukerta di Meranti, Mahasiswa UR Olah Kelapa Jadi Nuget dan Sirup

  Selasa, 19 Desember 2017 17:37
Dituding Rusakan Kebun Karet,
PT SRL Dilaporkan Warga ke Satreskrim Polres Meranti


Riauterkini - SELATPANJANG- PT Sumatera Riang Lestari (SRL), Senin (18/12 /17) kemarin dilaporkan Ramli, Warga Desa Tanjung Kedabu, Kecamatan Ransang Pesisir ke Satreskrim Polres Kepulauan Meranti.

Dalam laporan tersebut Ramli 'menuding' pembangunan Kanal yang dilakukan perusahaan yang bergerak di sektor HTI itu mengakibatkan kerusakan pohon karet miliknya.

"Tanaman karet saya yang sudah memasuki usia 6 tahun itu rusak akibat pembangunan Kanal SRL, "tutur Ramli, Selasa (19/12 /17) siang ketika dihubungi wartawan di Selatpanjang.

Menurut Ramli, pohon karet yang sudah menjejaki usia 6 tahun itu mengalami kerusakan mecapai seluas 1,7 hektar dari 10 hektare luas lahan yang ditanaminya.

"Tanaman karet saya itu tumbang, patah dan ada pula yang tercabut akibat pembangunan kanal. Tanaman karet yang dirusak mencapai 1.939 batang, belum sempat saya sadap sudah dirusak,"ungkapnya.

Akibat kerusakan yang ditimbulkan pembangunan Kanal oleh PT SRL yang beroperasi diwilayah Pulau Rangsang, Kepulauan Meranti itu, Ramli mengaku mengalami kerugian hingga mencapai Rp 500 juta lebih.

"Sebab ribuan tanaman karet tersebut sudah memasuki masa panen, sudah berusia 6 tahun. Jika panen, ribuan batang tanaman karet yang rusak itu bisa menghasilkan 200 kilogram getah karet per hari," ungkap Ramli.

Ramli juga mengaku heran lantaran sebagian tanah yang ia dapatkan melalui kelompok tani Usaha Bersama sejak 1994 lalu diklaim masuk konsesi PT SRL. Padahal perusahaan HTI itu baru mengantongi izin operasi pada tahun 2009 lalu.

"15 tahun sebelum izin mereka ada, saya sudah mengelola lahan itu," ujar Ramli.

Kapolres Kepulauan Meranti, AKBP La Ode Proyek melalui Kasatreskrim, AKP Rusyandi Zuhri Siregar ketika dikonfirmasi riauterkini.com, membenarkan adanya laporan tersebut.

"Masih kita dalami laporan tersebut, kita akan turun kelapangan untuk mengeceknya, "kata Kasatreskrim.

Disamping itu Humas PT Sumatera Riang Lestari (SRL), Abdul Hadi ketika dihubungi Via WhatsApp menyebutkan, Lahan yang diklaim tersebut, masuk dalam konsesi PT SRL.

" Dari operasional awal. SRL untuk pembangunan infrastruktur sudah kita sosialisasikan ke yang bersangkutan dan dilakukan pemberian saguhati terhadap tanaman yang bersangkutan, namun sampai sekarang belum dibayarkan karena yang bersangkutan masih meminta harga yang sangat tinggi, "jelas Abdul Hadi.

Sementara penilaian pemberian sagu hati, Menurut Abdul Hadi, waktu itu ada standarnya dan diketahui oleh para pihak." Sekarang kalau ada laporan tehadap SRL kita ikuti aja prosesnya gimana, karena disatu sisi itu berada dalam kawasan hutan yang diberikan izin konsesi SRL, "ungkapnya. ***(rud)

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com