23/01/2019 11:42
Korupsi KUR BRI Meranti Segera Disidangkan di Pekanbaru

21/01/2019 07:24
Ketua PSSI Meranti Sebut Turnamen Futsal Sago Old Star 2019 Bergengsi

21/01/2019 07:19
Tim Polres Meranti Juara di Turnamen Futsal Sago Old Star 2019

18/01/2019 16:54
BPH Migas Beri Lampu Hijau, Meranti Bisa Jadi Kota Jargas

7/01/2019 15:33
Apel Pertama 2019, Sekda Meranti Ajak ASN Tingkatkan Kinerja

27/12/2018 09:54
Sempena Hari Jadi Kepulauan Meranti, Sekda Buka Turnamen Sepak Bola Kuala Merbau Cup I

17/12/2018 06:47
Ribuan Warga Antusias Ikuti Jalan Santai Hari Jadi Kabupaten Meranti

15/12/2018 16:15
Jelang Akhir Tahun 2018,
Management Grand Meranti Hotel dan Paragon Sambangi Panti Asuhan

14/12/2018 18:58
Bawaslu Meranti Gelar Rakor Peningkatan SDM

14/12/2018 10:33
Polres Meranti Akan Dirikan Pospam dan Posyan Jelang Perayaan Natal dan Tahun Baru

  Kamis, 31 Mei 2018 18:18
Tidak Terbukti Terlibat Narkoba, PN Bengkalis Vonis Bebas Anggota Polres Meranti

Hakim PN Bengkalis nyatakan personel Polres Meranti Bripka Richie Fernando Pasaribu tidak bersalah. Ia divonis bebas terbukti tidak terlibat narkoba.

Riauterkini-BENGKALIS- Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Bengkalis vonis bebas terdakwa merupakan salah seorang personel Kepolisian Resor (Polres) Meranti, dari Satuan Narkoba, Bripka Richie Fernando Pasaribu pada sidang di Ruang Cakra, Kamis (31/5/18) petang.

Menurut Majelis Hakim dipimpin Dame P. Pandiangan, SH didampingi dua hakim anggota Annisa Sitawati, SH dan Mohd. Rizki Musmar, SH bahwa Bripka Richie tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menguasai, memiliki sebagaimana dalam tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Meranti diatur dalam Pasal 112 UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika.

Meskipun dalam putusan tersebut tidak pendapat hakim seluruhnya, atas putusan ini, Bripka Richie bebas dari segala tuntutan yang ditujukan kepada dirinya. Richie tidak terbukti menguasai kepemilikan sabu satu paket yang ditemukan dalam CPU dengan berat kurang lebih 1,6 gram.

Putusan majelis hakim ini mengabaikan tuntutan JPU yang meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman kepada Richie dengan hukuman selama 8 tahun pidana penjara.

Syamsu Yoni, SH JPU Kejari Meranti ketika dimintai tanggapannya mengatakan, akan melakukan upaya Kasasi di Mahkamah Agung RI. Namun pihaknya terlebih dahulu akan melakukan koordinasi dan menunggu arahan dari pimpinan.

"Karena ini bebas, kita akan melakukan upaya hukum Kasasi sepertinya. Namun, tentu menunggu arahan dan koordinasi terlebih dahulu bersama pimpinan," ungkapnya ditemui usai sidang.

Pasca sidang vonis bebas ditutup ketua majelis hakim, ruang sidang berubah haru. Luahan kebahagiaan disertai tangisan keluarga terdakwa pecah dan membuat suasana menjadi riuh.

Keluarga memuji keputusan hakim yang sudah menegakkan keadilan.

Bripka Richie ketika ditemui usai divonis bebas mengaku senang walaupun dirinya tetap merasakan imbas dari kasus yang melilitnya itu.

Seraya tidak tahan meluahkan emosi, dengan terbata-bata mengucapkan terima kasih kepada keluarga yang telah memberikan dukungan moral. Dan kepada majelis hakim yang sudah memberikan keputusan adil terhadap dirinya.

"Terima kasih kepada majelis hakim yang sudah netral dan menegakkan keadilan terhadap diri saya," ucapnya.

Sebelumnya Bripka Richie melalui Kuasa Hukum-nya, Roland Pangaribuan, SH didampingi Zulfikri, SH menyatakan, bahwa kasus yang dituduhkan terhadap dirinya itu diduga unsur sengaja untuk 'mengada-ada' dan sarat rekayasa atau 'kriminalisasi'. Hal itu terjadi setelah Bripka Richie bertugas di Sat Narkoba Polres Meranti mengantarkan CPU kerjanya ke sebuah toko servis komputer. Saat mengantarkan CPU tersebut Richie di dampingi dua orang rekannya.

"CPU tersebut diantara ke toko milik seorang bernama Abun. Kemudian karena di servis CPU tersebut di tinggal di toko," ungkap Roland.

Saat melakukan servis, pemilik toko membongkar CPU. Setelah dibongkar ditemukan paket sabu ukuran kecil. Namun, saat membongkar CPU tersebut Abun pemilik toko sendirian. Kemudian memanggil abangnya Asen untuk melihat temuannya itu.

"Kita merasa ada kejanggalan setelah penemuan narkoba itu. Abun tidak melaporkan langsung ke Sat Narkoba Polres Meranti. Melainkan mengadukan laporan tersebut ke salah satu personil Polres Meranti Iptu Wisnu yang bertugas di Sarpras Polres Meranti. Wisnu ini yang langsung melaporkan ke Kapolres Meranti yang saat itu dijabat AKBP Barliansyah. Menerima laporan ini Richie di panggil Kapolres Meranti," terang Roland.

Berdasarkan dari kronologi itu, menurut Roland, kasus ditujukan kepada kliennya Bripka Richie diduga tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP). Kejanggalan lain, penemuan Narkoba pada 10 Agustus 2017 lalu, sementara kejadian tersebut baru dilaporkan secara resmi pada tanggal 13 September 2017.

"Selain itu kasus ini ditangani Reskrim Polres Meranti, ini yang tidak sesuai SOP. Seharusnya perkara Narkoba ditangani Sat Narkoba. Hal ini terjadi karena pembekuan Sat Narkoba Polres Meranti saat kasus ini bergulir," katanya lagi.

Tambah Roland, keanehan pada saat persidangan ketika di konfrontir, Bripka Richie tidak diikutkan. Hanya Iptu Wisnu, Asen dan Abun yang dimintai keterangan secara bersamaan. Bahkan, pihak kliennya tidak pernah melihat apa bentuk sabu dan berapa beratnya juga bungkusnya seperti apa. Baru saat pelimpahan di kejaksaan baru melihat barang bukti tersebut.

Dari fakta persidangan tidak ada bukti pendukung yang kuat untuk menyalahkan Bripka Richie.

"Untuk itu, kita meminta kepada Polda Riau memperhatikan kasus ini. Agar dapat menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki dugaan upaya kriminalisasi ini. Sebulan sebelum kejadian ini, Bripka Richie berhasil menangkap tersangka sabu dengan barang bukti sekitar 1,5 kilogram lebih sabu dan obat obatan. Kita minta keadilan," tandasnya.***(dik)

Foto : Suasana haru vonis bebas Bripka Richie di PN Bengkalis, Kamis (31/5/18)

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com