24/06/2019 14:58
Masuk Tahap Pendaftaran Balon Kades,
Pilkades Serentak di Kabupaten Meranti Dilaksanakan 26 Agustus 2019 Mendatang

1/06/2019 17:26
Wabup Meranti Lepas Uji Coba RoRo Alai Insit Laut-Buton Siak, Ratusan Warga Meranti Serbu Pelabuhan

15/05/2019 07:36
PT RAPP serahkan Santunan Anak Yatim untuk Wilayah Meranti

14/05/2019 16:38
Buka Bersama dan Safari Ramadhan,
Gubernur Riau Kunjungi Kepulauan Meranti

14/05/2019 15:32
Gelapkan Dana Desa,
Hakim Vonis Mantan Kades di Meranti dan Tiga Stafnya Sesuai Tuntutan Jaksa

13/05/2019 20:52
Dianggap Cemarkan Nama Baik Bupati,
Tersebar di Facebook, Pemkab Meranti Laporkan Surat Terbuka Rita Mariana

7/05/2019 21:35
Janjikan Barang Saat Kampanye, Caleg Meranti Dipidana 3 Bulan Penjara

3/05/2019 17:28
Diduga Bagi-bagi Magic Com dan Drum,
Caleg PKB Meranti Dituntut Jaksa 3 Bulan Penjara

3/05/2019 16:41
Pleno Dapil I Meranti Selesai,
Tengku Zulkenedi Yusuf Diprediksi Akan Menjadi Anggota DPRD Termuda se-Riau

2/05/2019 09:51
Klaim Berdasar C1, Caleg PKS Optimis Lolos dari Dapil I Meranti

  Selasa, 16 April 2019 12:05
Korupsi Dana KUR, Pegawai BRI Teluk Belitung, Meranti Dituntut 7 Tahun Penjara

Pegawai BRI Teluk Belitung, Meranti dituntut hukuman 7 tahun penjara. Ia dianggap bersalah dalam perkara korupsi.

Riauterkini-PEKANBARU-Delvi Hartanto, terdakwa korupsi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) fiktif di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Teluk Belitung, Kecamatan Merbau, Kepulauan Meranti. Tampak pasrah begitu dijatuhi tuntutan hukuman tinggi kepada dirinya.

Delvi yang merupakan seorang mantri (surveyor)‎ di bank milik pemerintah itu, dituntut hukuman 7 tahun penjara oleh jaksa penuntut Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Meranti.

Dalam amar tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muhammad Ulinnuha SH pada sidang tipikor di Pengadikan Negeri (PN) Pekanbaru, Selasa (16/4/19) pagi itu. Delvi terbukti melanggar pasal 2 ayat 1 jo pasal 18 UU RI n 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tipikor sebagaimana diubah dengan UU RI nomor 20 tahun 2001 tentang tipikor.

" Menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 7 tahun dan hukuman denda sebesar Rp 300 juta, atau subsider selama 6 bulan kurungan," tegas Ulinnuha, dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Dahlia Panjaitan SH.

Selain hukuman penjara, terdakwa juga diwajibkan mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 800 juta lebih. Jika tidak dibayar dalam waktu 1 bulan, maka harta bendanya disita atau dapat diganti (subsider) dengan kurungan badan selama 3 tahun 6 bulan," jelasnya.

Tuntutan jaksa tersebut, terdakwa akan mengajukan pledoi pada sidang pekan depan.

Perbuatan tindak pidana korupsi penyaluran kredit yang dilakukan terdakwa Delvi Hartanto itu, terjadi tahun 2015-2016 lalu, saat terdakwa memberikan atau menyalurkan pinjaman kredit usaha kepada warga masyarakat.

Perbuatan yang dilakukan terdakwa secara bersama sama dengan rekan kerjanya FD (DPO). Diketahui telah menyalahgunakan kewenangan dalam menganalisa permohonan kredit.

Dalam permohonan kredit nasabah. terdakwa bersama FD, membuat dokumen anggunan palsu. Surat Keterangan Usaha, KTP nasabah dibuat seakan akan asli. Selain itu, permohonan dokumen itu tanpa diketahui nasabah itu sendiri.

KTP nasabah digunakan sebagai pengaju kredit, namun setelah cair dinikmati oleh terdakwa dan FD.

Selain penerimanya fiktif, ada juga yang benar-benar menjadi nasabah dan menerima KUR. Tetapi angsuran tiap bulan tidak disetorkan tersangka ke Bank tempat ia bekerja.

Berdasarkan hasil audit, terdakwa menikmati kredit nasabah sekitar Rp 926,782,543, dan tersangka FD menerima sekitar Rp 842,267,378. Sehingga total kerugian negara sebesar Rp 1,782,062,261.***(har)

 
PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI © 2017
Home  |  Website Resmi  |  Riauterkini.com