|
| |
Senin, 25 Juni 2012 16:57 APBN Siap Akomodir Proyek Teknopolitan Pelalawan Rp 47 T
Riauterkini-PANGKALANKERINCI- Bupati Pelalawan HM Harris menegaskan, untuk pembangunan Teknopolitan di Kecamatan Langgam ditanggung oleh dana APBN bukan bersumber dari APBD Pelalawan. Tak tanggung-tanggung untuk pembangunan kawasan ini, dibutuhkan 47 trilyun dimulai tahun anggaran 2012 ini.
"Seluruh, biaya pembangunan Teknopolitan sebesar Rp 47 Triliun itu ditanggung APBN bukan dari APBD Pelalawan. Dan itu dimulai dari tahun 2012 sampai tahun 2025 mendatang," terang Bupati Pelalawan HM Harris, Senin kepada awak media, Senin (25/6/12).
Ditegaskannya, untuk merealisasikan program pembangunan teknopolitan di daerah ini maka saat ini pemerintah pusat telah membuat desainnya termasuk disain pembangunan kawasan objek wisata Bono di Teluk Meranti tersebut. Dan untuk hal itu, maka akan dipersiapkan segala sarana dan prasarana penunjang terkait hal itu.
"Jadi untuk Bono, misalnya, akan ada perbaikan sarana dan prasarananya termasuk infrasturktur jalannya. Itu semua dananya berasal dari APBN, termasuk jalan nasional di lintas Bono sepanjang 53 Km yang akan dibangun dari APBN," katanya.
Sedangkan khusus untuk biaya pembangunan program MP3EI untuk koridor Sumatera dipusatkan di Kabupaten Pelalawan melalui pembangunan kawasan teknopolitan seperti pembangunan Industri Hilir Kebun Sawit, pembangunan Perguruan Tinggi Teknologi dan pembangunan kawasan Riset di daerah ini, sambungnya, dengan total dana yang dibutuhkan untuk mendanai pengimplementasikan program tersebut sekitar Rp 47 Triliyun digelontorkan semuanya dari APBN.
"Sedang Pemkab Pelalawan sendiri hanya berperan sebagai penyedia lahan untuk lokasi pembangunan kawasan Teknopolitan tersebut seluas 2000 hektar. Sementara untuk pengembangan kawasan Bono sendiri, kita sudah menyiapkan lahan sleuas 600 hektare," ujarnya.
Jika program teknopolitan itu berhasil diwujudkan pemerintah pusat untuk wilayah sumatera yang dipusatkan di Pelalawan ini, lanjutnya, maka Kabupaten Pelalawan bukan bersaing dengan kabupaten/kota atau provinsi yang ada di negara ini tapi akan bersaing dengan antar negara nantinya.
"Tapi jika pemerintah pusat gagal dalam melaksanakan program MP3EI-nya untuk koridor Sumatera ini, maka yang gagal itu bukan Pemkab Pelalawan sendiri tapi yang gagal itu adalah para pakar yang ada di Indonesia yang merancang program pembangunan teknopolitan tersebut. Dan tentu para pakar jelas tak mau program yang dirancangnya itu gagal di tengah jalan dalam realisasinya meskipun lokasi pelaksanaannya di daerah kita," tegasnya.
Disinggung soal realisasi nyata dari program MP3EI ini sendiri, Harrris mengatakan bahwa tahun 2012 ini akan dofokuskan pada Masterplan dari pihak-pihak terkait untuk pengembangan teknopolitan dan pengembangan wisata Bono itu. Jika tak ada aral melintang, maka tahun 2013, kawasan teknopolitan itu akan mulai berjalan.
"Tidak ada kesempatan yang datang dua kali, karena itu, momentum ini harus benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin," tegasnya seraya mengatakan bahwa untuk pembangunan model Perguruan Tinggi Teknologi di daerah ini akan meniru model Perguruan tinggi teknologi yang ada di Jerman, sedang konsultannya juga diambil dari pakar pakar yang ada di Jerman untuk mendesain perguruan tinggi tersebut.
Ditambahkannya, dengan model perguruan tinggi teknologi seperti itu maka akan langsung disediakan lapangan kerja bagi para mahasiswa yang telah tamat. Sehingga para mahasiswa yang telah tamat tidak ada yang akan menganggur nantinya.
"Jadi model perguruan tinggi teknologi yang kita dirikan itu langsung disain untuk mengatasi terjadinya pengangguran di daerah ini. Dengan kata lain, dengan adanya kawasan teknopolitan ini maka diharapkan kita tak lagi jadi penontonnya," pungkasnya.***(feb)
| |
|
|