Home > Pendidikan >>
Berita Terhangat..
Senin, 18 Maret 2019 20:31
Deadline 31 Maret, Pejabat Belum Laporkan LHKPN tak Berhak Terima Single Salary

Senin, 18 Maret 2019 20:12
Tiga Caleg Golkar Berkampanye di Pangkalan Kerinci

Senin, 18 Maret 2019 17:43
KPU Kota Pekanbaru Tuntaskan Verifikasi Faktual Temuan Data BPN 02

Senin, 18 Maret 2019 17:38
Asik Main Judi Leng, 5 Pekerja PT. Torganda Rantau Kasai Diringkus Polisi Rohul

Senin, 18 Maret 2019 17:34
Soal Ketum PPP Ditangkap KPK, ini Tanggapan DPW PPP Riau

Senin, 18 Maret 2019 17:29
Dumai Diselimuti Asap, Jarak Pandang Hanya 5 Km

Senin, 18 Maret 2019 17:15
Bawaslu Inhu Temukan 68.000 Lebih Surat Suara Dapil 4 Rusak

Senin, 18 Maret 2019 16:40
Peringati HPSN, DLH Kuansing Siapkan Berbagai Door Prize

Senin, 18 Maret 2019 16:35
Ribuan Hektar Lahan PT BAG di Rohul Diduga Dikuasai Tengkulak Selama 16 Tahun

Senin, 18 Maret 2019 16:12
Bupati Bengkalis Imbau Masyarakat Waspada Karhutla


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 12 Desember 2018 16:23
Penerima King Faisal Prize Irwandi Jaswir Tampil di Pekanbaru

Penerima penghargaan Internasional King Faisal Prize Prof. Dr. H. Irwandi Jaswir tampil dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi "Integrasi Halal Science and Technology" yang ditaja oleh Universitas Abdurrrab.

Riauterkini-PEKANBARU - Penerima penghargaan Internasional King Faisal Prize Prof. Dr. H. Irwandi Jaswir tampil dalam Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi "Integrasi Halal Science and Technology" yang ditaja oleh Universitas Abdurrrab di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (12/12/2018).

Selain Irwandi, juga tampil dua pakar lain yakni dr. Fariz Nurwidya, Ph.D, (FKUI) dan Dr. Syamsuddin Arif, MA dari Universitas Darussalam, Jakarta. Mereka membahas industri halal yang belakangan makin berkembang dan kaitannya dengan perkembangan Islam.

Menurut Irwandi Jaswir yang sehari-hari Deputi INHART Internasional Islamic University Malaysia (IIUM) ini, industri halal saat ini mengelola sekitar tiga triliun dolar. Sayangnya kita kurang peduli dengan potensi itu. Kita lebih fokus kepada sertifikasi.

Padahal, kata putra asal Bukittinggi itu, seharusnya Indonesia lebih fokus kepada industri halal ini. Sebab, Indonesia merupakan negara muslim terbesar. ''Bicara halal kan bicara Islam,'' katanya.

Sehingga yang memanfaatkan industri halal ini lebih banyak negara non muslim seperti Brazil, Jepang dan Korea. Mereka tidak hanya melakukan riset halal tapi juga memproduksi produk halal.

Korea, misalnya, memproduksi sekitar 2000 produk kosmetik. Produk itu mereka pasarkan ke negara-negara Asia Tengara, termasuk Indonesia. Suatu kali, kata Irwandi, dia pernah tampil di depan 200 produsen kosmetik Korea yang bertemu 500 pemasaran kosmetik Indonesia.

Menurut Irwandi, dari sekarang kita harus mengembangkan industri halal. Tidak hanya produk halal, tapi juga pengembangan jasanya. Seperti pariwisata halal. Misalnya, hotel yang ramah terhadap muslim dll.

Untuk itu, katanya, perlu political will dari kita semua, terutama pemerintah dan stakeholder lainnya. Semua komponen harus dilibatkan dalam pengembangan halal. ''Harus ada ekosistem halal itu, sehingga terlibat untuk itu,'' ujarnya. (rls)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita Pendidikan lainnya..........
- 11 Miliar Lebih Dana BOS Pelalawan Sudah Dicairkan
- Raih Doktor di UMM, Dekan FIK UMRI Diselamati Ketua DPRD Riau
- Kepala BKD Minta Guru PPT Korban Penipuan Lapor Polisi
- Dewan Ambil Tindakan Menyoal Pungutan Uang Komite SMA di Riau
- PT. CPI Tanda Tangani MoU dengan Empat Universitas Terkemuka di Riau
- Dewan Sarankan Pemkab Sudah Terapkan Sekolah Berbasis ITE di Kuansing
- UNBK SMA Sederjat Tahun Ini Belum 100 Persen


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com