Home > Pendidikan >>
Berita Terhangat..
Kamis, 21 Maret 2019 17:58
Diguyur Hujan, Karhutla di Bengkalis Nyaris Padam Total

Kamis, 21 Maret 2019 17:55
Kerjasama Dinilai tak Menguntungkan, Anggota Koperasi Sawit Timur Jaya Kepenuhan Timur Gugat Perdata PT. AMR Rohul

Kamis, 21 Maret 2019 17:01
Apresiasi Keberadaan PT RAPP, Bupati Siak Ajak Warganya Dukung Keberadaan Investasi

Kamis, 21 Maret 2019 16:23
Titik Api Kembali Muncul, Dewan Nilai Pemprov Riau Sedang 'Terlena'

Kamis, 21 Maret 2019 16:20
BAZNas Bengkalis Hingga 'Curuk Kampung' Ajak Warga Berzakat

Kamis, 21 Maret 2019 15:46
Usulan Perampingan OPD, BP2D Nilai Tidak Begitu Penting

Kamis, 21 Maret 2019 15:38
Peringati HPSN DLH,
Bupati Kuansing Serta Seluruh OPD Komitmen Gunakan Pemakaian Tombler


Kamis, 21 Maret 2019 15:22
Tak Miliki IMB dan Sertifikat Halal, RM Saoenk Kito Pekanbaru Disegel

Kamis, 21 Maret 2019 15:20
Bhakti Kesehatan di Tambang, Wagubri Ajak Masyarakat Jaga Kekompakan

Kamis, 21 Maret 2019 15:17
Rampingkan OPD, Gubri Minta Dukungan DPRD


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 5 Pebruari 2019 19:22
Bergabung di Sekolah Lapang BRG, Badri Tuai Hasil Lebih Maksimal

Sekolah Lapang program Badan Restorasi Gambut atau BRG cukup memberikan manfaat bagi masyarakat. Seperti Badri yang berdomisili di desa Buatan Lestari, Kecamatan Bunga Raya, Siak.

Riauterkini - PEKANBARU - Badri adalah salah satu petani yang sebelumnya berkesempatan mendapatkan pelatihan khusus di Sekolah Lapang yang di programkan BRG. Dimana saat ini Dadri dapat mengembangkan berbagai teori pelatihan yang didapatkannya beberapa waktu lalu di program Demplot BRG.

"Alhamdulillah, saya bersama petani lain sudah dapat memaksimalkan lahan gambut untuk bercocok tanam tanaman holtikultura. Seperti yang saya tanam saat ini yakni cabai," katanya.

Dikatakan Badri, sebelumnya lahan seluas hampir 1 hektare yang jini ditanami cabai ini merupakan lahan gambut, yang kurang potensial untuk ditanami tanaman holtikultura seperti yang dia tanam. Namun, dengan pengolahan yang benar, kesuburan tanah meningkat dan membuahkan hasil yang cukup bagus.

"Banyak ilmu yang kita dapat dari Sekolah Lapang. Salah satunya yakni membuat tanah gambut lebih subur. Diantaranya menggunakan magnesium oksida atau menggunakan bahan organik seperti batang pisang, enceng gondok, jagung atau bahkan pelepah sawit untuk mengurangi zat asam pada lahan gambut," terangnya.

Hal ini telah diterapkannya di lahan yang kini ditumbuhi cabai dan siap panen. Dia menggunakan cacahan batang pisang yang ditebar di lahan sebelum dilakukan penenaman bibit cabai. Bahkan untuk melihat kesiapan lahan, Ia sebelumnya menanam sawi di lahan tersebut. Gunanya untuk melihat kadar zat asam di lahan gambut tersebut.

"Kalau sawinya gak tumbuh atau tumbuh tapi gak bagus berarti zat asamnya masih tinggi," terangnya.

Menurutnya, tidak ada kesulitan yang sangat berarti bagi Badri dan 14 rekannya sesama petani yang tergabung di kelompok tani Sumber Rezeki. Hanya memang membutuhkan alat untuk mencacah batang pisang. "Saat ini kira masih menggunakan cara manual. Tapi kalau lahannya semakin luas tentu semakin sulit tanpa peralatan," tuturnya.

Fasilitator Desa Peduli Gambut (DPG) Buatan Lestari, Sofia Ningsih menjelaskan keberhasilan kelompok tani Sumber Rezeki cukup menjadi contoh dan wadah belajar bagi petani lain. Tak sedikit, Ia bersama petani berdiskusi dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian.

"Adanya Demplot ini sendiri sangat bermanfaat bagi petani yang ada disini. Kita bisa berbagi pengalaman, berbagai ilmu khususnya dibidang pertanian tanaman holtikultura," katanya.

Lanjutnya, 15 orang petani dalam kelompok tani ini juga menanam tanaman yang berbeda. Seperti jagung, pare, kacang panjang, cabai, timun dan sebagainya. Dimana hasil pertanian ini dijual.

Sementara, Anderi Satya selaku Kepala Sub Kelompok Kerja Informasi BRG yang turut menyaksikan langsung hasil Demplot milik Badri, Senin (04/02/19) mengatakan sangat apresiasi kepada kelompok tani Sumber Rezeki ini. Menurutnya ini dapat menjadi contoh bagi petani yang berdiam di lahan gambut.

"Pak Badri ini adalah salah satu kader yang berhasil. Dimana sebelumnya memang Ia mengikuti bimbingan di Sekolah Lapang selama 1 minggu," katanya.

Dijelaskan, di Sekolah Lapang sendiri, BRG menghadirkan 9 bimbingan materi utama. Seperti pengelolaan assesmen, petani organik, pengolahan pupuk organik, pengolahan tanpa bahan kimia dan yang paling penting yakni pengolahan atau pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) di lahan gambut.

"Ini adalah upaya kita untuk membantu petani dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan gambut. Tentu juga dalam meningkatkan perekonomian mereka. Bukan hanya disini, program ini juga terlaksana di daerah lain," singkatnya.***(rul)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

loading...

Berita Pendidikan lainnya..........
- Soal Demo Guru SD dan SMP,
Kadisdik Pekanbaru: Ini Merugikan Diri Sendiri dan Siswa

- Soal Demo Guru SD dan SMP,
Dewan: Tak Berpihak, Perwako tentang Tunjangan Bisa Turunkan Kualitas Pendidik

- Di Hadapan Kadisdik Riau, Siswa Pemukul Kepsek di Inhu Berdamai
- 11 Miliar Lebih Dana BOS Pelalawan Sudah Dicairkan
- Raih Doktor di UMM, Dekan FIK UMRI Diselamati Ketua DPRD Riau
- Kepala BKD Minta Guru PPT Korban Penipuan Lapor Polisi
- Dewan Ambil Tindakan Menyoal Pungutan Uang Komite SMA di Riau


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com