Home > Politik >>
Berita Terhangat..
Ahad, 22 Juli 2018 12:51
Dua Komunitas Pamer Hewan Kesayangan di RTH Putri Kaca Mayang

Ahad, 22 Juli 2018 11:53
Polsek Tambusai Utara, Rohul Tangkap 3 Remaja Doduga Bobol Rumah Warga

Ahad, 22 Juli 2018 11:48
Purna Diklatpim III Angkatan I Pemprov Riau Tanam Pohon di Kampus BPSDM

Ahad, 22 Juli 2018 09:40
BEM UR Gelar Aksi Malam Horor untuk Pertamina

Sabtu, 21 Juli 2018 21:32
Juara Umum MTQ Tingkat Kabupaten, Kafilah Kuantan Tengah Berhak Bonus dari Wabup Kuansing

Sabtu, 21 Juli 2018 21:25
Meriahkan HBA Ke-58, Bupati Sukiman Ramaikan Gerak Jalan Santai Kejari Rohul

Sabtu, 21 Juli 2018 18:27
IWARA Taja Program Jumat Berbagi

Sabtu, 21 Juli 2018 14:45
Pemkab Inhil Gandeng APMI Hadirkan Prof Wisnu Gardjito

Sabtu, 21 Juli 2018 14:01
Mahal, Warga Talukkuantan Tak Sanggup Beli Ayam

Sabtu, 21 Juli 2018 10:39
Cuaca Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Riau

 
loading...

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 9 Juli 2018 20:31
Dinilai Abaikan Aspirasi Masyarakat Tapung Raya, Mahasiswa Sayangkan Sikap DPRD Kampar

Suasana sempat memanas saat belasan mahasiswa datang ke DPRD Kampar. Aksi pukul meja dan keluar dari pertemuan dengan dewan merasa aspirasi masyarakat diabaikan.

BANGKINANG - Kedatangan belasan mahasiswa asal Tapung Raya di gedung DPRD Kampar, Senin (9/7/2018) sore mengejutkan sejumlah pegawai dan anggota DPRD Kampar. Aksi pukul meja dan keluar dari ruangan Badan Musyawarah (Banmus) DPRD mengakhiri pertemuan antara belasan aktivis dengan sejumlah anggota DPRD Kampar.

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Tapung Raya (IPMTR) Muhammad Dinil Mustopa kepada Riauterkini.com usai aksi unjuk rasa singkat di DPRD Kampar mengakui bahwa mereka selaku perwakilan mahasiswa se-Tapung Raya kecewa melihat kinerja semua anggota dewan Kampar.

"Ketika hari pertama kerja tidak ada dewan- dewan itu di kantor, ini sebuah kasus besar, dimana tanggungjawab para dewan. Di satu tahun periode mereka seakan-akan tidak peduli dengan tanggungjawab. Kasus seperti ini masyarakat banyak harus tau," tegas Dinil.

Mereka juga merasa aspirasi yang mereka sampaikan tentang keinginan pemekaran kecamatan hanya menjadi obrolan kedai kopi. "Tidak ada titik terang dan ini perlu kami mahasiswa sampaikan. Kalau seperti ini kerja para wakil rakyat mending 2019 seluruh dewan diganti," pungkas Dinil.**

Dari pantauan Riauterkini.com, kedatangan mahasiswa di gedung wakil rakyat itu bermula saat belasan mahasiswa langsung menerobos pintu utama gedung DPRD Kabupaten Kampar di Jalan Lingkar, Bangkinang. Mereka membunyikan sirine dari perangkat toa yang mereka bawa sambil sesekali berteriak menanyakan ke mana anggota dewan. Suasana gedung DPRD Kampar pada hari ini memang relatif sepi, hanya ada beberapa anggota dewan yang hadir.

Tak lama kemudian, mereka ke luar dari gedung DPRD Kampar dan berorasi secara bergantian. Ada tiga orang berorasi yakni Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Tapung Raya (IPMTR) Muhammad Dinil Mustopa, Koordinator Lapangan Rohmatul Syahdi dan Presiden Mahasiswa Ikatan Pelajar Mahasiswa Kampar (IPMK) Octeza.

Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Tapung Raya (IPMTR) Muhammad Dinil Mustopa dalam orasinya mengatakan, menurut rencana mereka hari ini akan menggelar aksi unjuk rasa untuk mempertanyakan sejaumana perkembangan proposal usulan pemekaran Kecamatan Kuala Tapung dan Tapung Kanan yang telah disampaikan beberapa kali sejak beberapa tahun lalu. Disamping itu mereka mempertanyakan kenapa Pemkab Kampar tidak menganggarkan dana untuk kebutuhan pemekaran kecamatan di Tapung dan meminta dianggarkan di APBD Perubahan 2018.

Namun mereka merasa kecewa karena mereka mendengar hari ini kehadiran anggota dewan apalagi yang berasal dari daerah pemilihan Tapung dan Tapung Hulu-Tapung Hilir sangat minim sehingga mereka menunda aksi unjuk rasa yang lebih besar.

"Kalau macam ini anggota dewan dari Tapung Raya kita ganti aja dewan dari Tapung tahun 2019 nanti," ujar Dinil disambut teriakan viralkan hastage#ganti dewan Tapung 2019.

Sementara itu Koordinator Lapangan Rohmatul Syahdi meminta keadilan untuk masyarakat Tapung Raya kepada Pemerintah Kabupaten Kampar. "Suara rakyat Tapung tak pernah didengar," teriaknya. Ia juga mengancam segel kantor DPRD Kampar.

Hanya beberapa menit mereka berorasi, rombongan aktivis Tapung ini kembali masuk ke gedung DPRD Kampar meski sempat dilarang petugas Satpol PP.

Mereka menyisir ruangan di dalam gedung DPRD Kampar. Sampai di ruangan Badan Musyawarah (Banmus), ternyata ada beberapa anggota DPRD Kampar sedang rapat dengan Kepala Bagian Hukum Setdakab Kampar. Rapat itu akhirnya terhenti dan anggota dewan yang merupakan anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah diantaranya Dwi Hadi Kasmon, Yuli Akmal, Muhammad Anshor, Efrinaldi dan Reni Santi. Mereka mempersilakan pengunjuk rasa masuk ke ruangan Banmus.

Setelah perkenalan dan penyampaian tujuan kedatangan mahasiswa oleh Ketua IPMTR Muhammad Dinil Mustopa dan penjelasan dari Yuli Akmal, salah seorang aktivis langsung menggebrak meja dan mengajak rekan-rekannya keluar dari ruangan Banmus karena menganggap tidak ada solusi dan keputusan yang bisa dibuat dari anggota DPRD yang ada di ruangan tersebut. Pengunjukrasa akhirnya keluar dari ruangan tersebut.

Yuli Akmal dalam pertemuan itu mengungkapkan bahwa mereka ikut prihatin dengan tingkat kehadiran anggota dewan. "Ini yang selalu datang ke DPRD Kampar. Kami ingin membuat kerangka aturan etika dan tata tertib DPRD Kampar walaupun masa tugas kami tinggal setahun lagi," beber politisi Hanura ini.

Mengenai aspirasi dari mahasiswa Tapung, ia mengaku bahwa inisiatif pemekaran kecamatan di Tapung justru bukan datang dari anggota dewan dari Tapung tetapi dari anggota dewan Dapil lain, termasuk dirinya dari Dapil I Tambang sekitarnya. Ia juga mengakui konsern melakukan pembahasan pemekaran kecamatan di Tapung.

Sementara itu, politisi Nasdem Efrinaldi mengatakan, ia merupakan antan Sekretaris Komisi I dan sudah berulangkali melakukan proses pembahasan pemekaran di Tapung.

"Inisiasi ini sudah beberapa kali pertemuan dengan pemerintah, cuma harus ada dorongan dari mahasiswa dan masyarakat di Tapung," kata Efrinaldi. Ia minta semua pihak harus dilibatkan dalam pemekaran ini.

Sedangkan Dwi Hadi Kasmon mengklaim ia orang yang termasuk pro dengan pemekaran di Tapung.*(man)

Loading...


Berita Politik lainnya..........
- Semua Parpol di Kampar Belum Penuhi Administrasi Bacaleg
- Sebanyak 487 Bacaleg di Kuansing Siap Bertarung di Pileg 2019
- Mensukseskan Akreditasi Puskesmas, A2K3 Kampar Taja Pelatihan K3 dan APAR
- Nyoblos 2 kali, Anggota KPPS Kampar Divonis 24 Bulan Penjara
- Partai garuda Daftarkan 11 Bacaleg ke KPU Bengkalis
- Pindah Partai,
Anggota DPRD Riau Muhammad Adil Ajukan Surat Pengunduran Diri ke Sekretariat DPRD Riau

- DPD Golkar Riau Belum Terima Surat Pengunduran Yopi
- Kecewa Usulan Bacaleg Hilang, Yopi Mundur dari Ketua Golkar Inhu
- Pelayanan Dikeluhkan Masyarakat, Ketua DPRD Pelalawan Sidak Diskes
- Komisi IV DPRD Riau Ingatkan Dinas PUPR Tuntaskan 5 Proyek Rp700 Miliar Seusai Jadwal
- Sidang Praperadilan, Hakim Pertegas Pengamanan Alat Berat Seorang Warga tak Dilengkapi Izin Penyitaan
- Partai PSI Tak Ikut Pileg di Inhu
- 658 Bacaleg dari 16 Parpol Daftar ke KPU Bengkalis
- Noviwaldy Jusman Temui Masyarakat Eks Transmigrasi di Siak
- Loncat Pagar, Kader Hanura Muhammad Adil Pilih Gabung PKB di Pileg 2109
- 605 Bacaleg Sudah Terdaftar,
Partai Berkarya Tutup‎ Pendaftaran Bacaleg di KPU Rohul

- Enam Parpol di Kampar Tak Penuhi Kuota Maksimal
- Serahkan Berkas Bacaleg,
16 Partai di Kuansing Dinyatakan Lolos Verifikasi KPU

- Besok, Gubri Konsultasi Soal Tim Transisi pada Kemendagri
- ‎Targetkan 6 Kursi di 4 Dapil, DPC Partai Hanura Rohul Daftarkan 36 Bacaleg ke KPU


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com