Home > Politik >>
Berita Terhangat..
Selasa, 23 April 2019 17:03
133 Honorer Pemkab Bengkalis Lulus Seleksi P3K

Selasa, 23 April 2019 17:00
4 Kabupaten di Riau Ini Rawan Kecurangan Pemilu

Selasa, 23 April 2019 16:58
24 Petugas Pemilu di Riau Terkena Musibah Pada Proses Pemilu

Selasa, 23 April 2019 16:23
Baru Dua Kecamatan di Pelalawan Tuntas Gelar Rapat Pleno Pemilu

Selasa, 23 April 2019 16:19
‎Penetapan dan Penegasan Batas Desa di Kabupaten Rohul Baru di Tiga Kecamatan

Selasa, 23 April 2019 15:31
12.562 Pelajar SD Sederajat Bengkalis Ikuti USBN

Selasa, 23 April 2019 15:27
‎Pasca Pemilu 2019, Pansus DPRD Rohul Kembali Tancap Gas Bahas Tiga Ranperda

Selasa, 23 April 2019 14:09
Hari Kedua, Pelaksanaan UN Tingkat SMP di Pelalawan Lancar

Selasa, 23 April 2019 12:59
Berlangsung Lancar, Ketua DPRD Kuansing Apreasi Penyelenggara Pemilu 2019

Selasa, 23 April 2019 11:57
Dijadikan Lokasi Mesum Remaja, Pengamanan Kantor UPT Capilduk Mandau Harus Dibenahi

 
loading...

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 16 April 2019 11:21
Catatan Bagus Santoso,
Saatnya Rakyat Jadi Mengaum dan Bukan Mengembek


Pesta demokrasi tinggal sehari. Kedaulatan rakyat jadi penentu. Kini saatnya rakyat mengaum bagai macan, bukan mengembik.

TEORI demokrasi klasik yang mengatakan "demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat" menjadi trigger perjuangan rakyat seantero dunia menuntut perubahan sistem pemerintahan dari sistem otoritarianisme menjadi sistem demokrasi.

Karena secara teoritik dan konstitusi setakat ini, kita penghuni dunia bersepakat bahwasanya sistem pemerintahan demokrasi yang bisa menjamin persamaan hak dan kewajiban setiap warga negara dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu di negara demokrasi seperti negara kita Indonesia, posisi rakyat menjadi sangat penting dan mahal setiap memasuki musim pemilu.

Pada tahun politik seperti sekarang, rakyat tidak ubahnya seperti "gadis molek nan jelita” dikelilingi oleh jejaka-jejaka bernafsu tinggi, sedang antri menunggu kesempatan mencuri hatinya. Sang perjaka yang sedang jatuh cinta dengan segala macam dandanan (atribut partai) yang melekat pada dirinya selalu mencari simpatik menggoda sang gadis dengan berbagai macam harapan sampai buaian memabukkan digantungkan di lehernya.

Namun nampaknya menuju tanggal 17 April 2019, sang gadis tidak ingin lagi menjadi keledai yang berdamai dengan kejatuhan di lubang yang sama. Si jelita tidak ingin lagi melakukan kesalahan tergoda dengan rayuan, bualan jejaka-jejaka yang hobinya berternak janji dan membudidayakan kebohongan.

Sang gadis sudah sangat sadar, kalau jejaka-jejaka yang merayunya tidak memiliki konsistensi kesetiaan. Mereka hanya mendekat, merayu, ngegombal, dengan janji-janji manis mendongeng kesejahteraan, kedamaian dan kebahagiaan di musim pemilu. Setelah itu pergi entah kemana rimbanya membiarkan sang gadis menangisi nasibnya yang sudah menyerahkan keperawanannya. Jangankan memperhatikan, menengoknya saja tidak tidak lagi. Cukuplah pengalaman pemilu demi pemilu masa lalu menjadi sembilu - ya sudah sudahlah tamat alias tutup buku.

Dengan menggunakan analogi gadis cantik untuk menjelaskan bagaimana perasaan rakyat setiap jelang pemilu, tulisan ini ingin menyampaikan pesan bahwa dalam kehidupan rakyat biasa sekarang (red-walaupun sudah bekerja keras seharian baru cukup untuk tidak kelaparan esok harinya) itu terjadi proses pembelajaran dan pencerdasan politik secara alami. Pada teorinya parpol seharusnya yang paling bertanggung jawab mencerdaskan dan membuat melek politik meski kenyataan bertolak belakang.

Realitas kehidupan telah menjadi guru politik rakyat kecil yang mengajarkan bahwa kebenaran tidak boleh lagi disimpulkan dari harapan-harapan yang banyak bertebaran setiap musim pemilu. Rakyat sudah paham benar kalau kebenaran itu hanya bisa disimpulkan dari "fakta" bukan harapan. Sungguh Rakyat sekarang merasakan apa yang berlaku, mana janji mana bukti. Mana bualan kosong mana yang masuk akal sehat.

Dalam kesetiaan menjadi rakyat yang selalu berdamai dengan kemiskinan, yang akrab dengan kondisi papa kedana, sudah tidak terhitung lagi jumlahnya berapa kali rakyat harus kecewa dan gigit jari karena mengira kebenaran itu adalah harapan-harapan yang dijanjikan.

Namun faktanya jauh panggang dari api alias kena bengak berkepanjangan. Sekarang sadar benar, bahwa kebenaran itu bukan dari harapan, tapi dari fakta. Betapa tidak, Perut rakyat menjadi buncit dan meledak setiap musim pemilu kerana tergiur menu janji yang disediakan di atas meja harapan. Setelah pemilu perut buncit bukan kenyang nasi tetapi tumpukan sampah berjibun janji.

Sekarang bagaimana pun indahnya bentuk kemasan janji dan harapan yang disiapkan di ruang-ruang sejuk, rakyat nampaknya tidak akan ngiler lagi, rakyat tak akan tergiur lagi.

Karena itu, dalam detik-detik perjalanan sampai bilik suara tanggal 17 April 2019, rakyat tidak boleh lagi “mengembek” mengikuti sang gembala yang sudah dicucuk hidungnya dengan iming-iming jabatan.

Saatnya rakyat menjadi "macan" yang akan menerkam setiap pemimpin, politisi yang bermental dagang sapi dengan merendahkan derajat rakyat menebar "money politic" menyebar amplop, memasang jebakan maut dengan melempar sembako, berkolusi dengan aparat dan perangkat yang rela berkhianat.

Saatnya rakyat menjadi algojo mematikan, memancung, menghukum, menenggelamkan pemimpin, politisi yang berpenyakit obesitas janji mengganti dengan cara memilih pemimpin, politisi yang selama ini konsisten menjadikan rakyat sebagai satu-satunya majikan yang harus dilayani. Bukan bertameng dinasti dan berpura- pura dekat ustadz dan kyai. Salam pemilih cerdas dan selamat mencoblos.***

Bagus Santoso adalah Caleg DPR RI dapil Riau 1 dari Partai Amanat Nasional ( PAN ).

Loading...


Berita Politik lainnya..........
- 4 Kabupaten di Riau Ini Rawan Kecurangan Pemilu
- 24 Petugas Pemilu di Riau Terkena Musibah Pada Proses Pemilu
- Baru Dua Kecamatan di Pelalawan Tuntas Gelar Rapat Pleno Pemilu
- ‎Pasca Pemilu 2019, Pansus DPRD Rohul Kembali Tancap Gas Bahas Tiga Ranperda
- Berlangsung Lancar, Ketua DPRD Kuansing Apreasi Penyelenggara Pemilu 2019
- Bupati kuansing Sampaikan LKPj Tahun 2018 ke DPRD
- Didukung Kepala Daerah dan Sejumlah Tokoh Berpengaruh, Jokowi-Ma'aruf Amin Kalah di Kuansing
- PPK Mandau Akui Banyak Kekurangan di Pemilu 2019
- KPK Ingatkan Komitmen Pemprov Riau Cegah Korupsi
- Singingi Hilir Jadi Lumbung Suara Banteng untuk Pilpres
- Bawaslu : Otak atik Suara Peserta Pemilu, Bisa Dipidana
- Petugas Pemilu yang Berkorban
- PKS Riau Panen Kursi di Tiga Parlemen
- DPC Partai Demokrat Dumai Dikabarkan Dapat 5 Kursi Legislatif
- Bawaslu Riau Resmi Rokemendasikan 112 TPS PSU dan PSL
- Tentang PSU/PSL, KPU Belum Terima Rekomendasi Resmi
- Viral di Medsos Suara Prabowo Hilang 100,
KPU Dumai Akui Salah dan Minta Maaf

- Bawaslu Riau Rekomendasikan 98 TPS Gelar PSL dan PSU
- Melalui Teleconference, Bupati Kampar Laporkan Pemilu di Kampar Aman dan Lancar
- Teleconference Bersama Kemendagri,
Gubri Laporkan Situasi Pasca Pemilu Hingga Kekurangan Surat Suara



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com