Home > Sosial & Budaya >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 22 Juni 2018 22:49
Debat Kandidat, Cagubri Zaman Now Tetap Unggulkan Program Satu Desa Rp1 Miliar

Jum’at, 22 Juni 2018 22:39
‎Apel Siaga Jelang Pilgubri 2018,
Ribuan Kader Demokrat Rohul Diajak Menangkan Firli


Jum’at, 22 Juni 2018 22:35
Debat Kandidat, Cagubri Nomor Urut Satu Keluhkan Kualitas Mikrofon Tak Jernih

Jum’at, 22 Juni 2018 22:27
Debat Kandidat, Cagubri Zaman Now Kritisi Pengolahan Sagu Riau

Jum’at, 22 Juni 2018 21:57
‎4 SMA dan 4 SMK,
Pemprov Resmi Dirikan 8 Sekolah Baru di Riau


Jum’at, 22 Juni 2018 21:52
Debat Kandidat, Syamsuar-Edy Nasution Punya Program Gratis Biaya Sekolah

Jum’at, 22 Juni 2018 21:21
Segmen Pertama, 
Paslon 3 Kembangkan Budaya Melayu Paslon 4 Dorong Pembangunan Semua Pihak


Jum’at, 22 Juni 2018 20:52
Dibuka Ketua KPU Riau, Debat Kandidat, Diharapkan Berjalan Santun

Jum’at, 22 Juni 2018 20:21
Debat Belum Dimulai, Perang Yel-yel Antar Pendukung Cagubri Sudah Ramai

Jum’at, 22 Juni 2018 19:35
Polres Bengkalis dan Wartawan Berbagi Sembako

loading...


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 14 September 2017 18:53
Rumah Batik Andalan RAPP,
Pembatik Mengaku Membatik untuk Tingkatkan Ekonomi Keluarga


Rumah Batik Andalan binaan CD PT RAPP dapat meningkat perekonomian masyarakat. Bagi pelakunya, membatik dapat membantu perekonomian keluarga.

Riauterkini-PANGKALAN KERINCI - Menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi merupakan cita-cita dari warga Pangkalan Kerinci, Ni'mah (39). Ia memilih menjadi pembatik untuk membantu sang suami membiayai pendidikan keempat anaknya.

Ni'mah telah menjadi pembatik sejak tahun 2015 silam. Awalnya ia mengaku tidak bisa membatik. Namun, lewat Rumah Batik Andalan binaan Community Development (CD) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) ia bisa belajar membatik dan sekarang menjadi pembatik tetap.

"Saya dilatih oleh ibu-ibu pembatik di Rumah Batik Andalan PT RAPP. Karena kemauan saya yang besar untuk membatik, dalam 3 bulan saya bisa memproduksi batik. Alhamdulillah dari membatik yang punya rumah sendiri," ujarnya.

Ia masih ingat, penghasilan pertamanya sebanyak Rp 300 ribu dari membatik membuatnya senang. Ternyata dari penghasilan itu, membantu perekonomian keluarganya.

"Ternyata setelah saya tekuni, penghasilan itu bisa membantu suami saya yang bekerja secara serabutan. Menyekolahkan anak saya hingga perguruan tinggi. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur," ujar Ni'mah yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah ini.

Sebelumnya ia dan suami bekerja sebagai penjaga kebun sawit di Pangkalan Kerinci. Saat itu ia tinggal disebuah gubuk kayu yang tidak dialiri listrik. Selama 7 tahun ia hidup tanpa listrik di areal kebun sawit.

"Di tempat saya tinggal dulu cuma ada 7 keluarga. Tidak ada listrik, jalannya masih tanah. Kalau hujan becek. Saya kalau ke pasar harus jalan 5 kilometer. Alhamdulillah sekarang sudah beli rumah sendiri dan ada listrik," ujarnya.

Mulai dirintis pada 2013, Rumah Batik Andalan bertujuan untuk memberdayakan masyarakat di Kota Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Target utamanya adalah para istri pegawai serta petani perkebunan yang sebelumnya lebih sering menganggur ketika suaminya bekerja.

Mereka diajari cara membatik. Namun, langkah pertama tidak akan pernah mudah. Membatik bukan bagian dari keseharian warga di sana sejak dulu, sehingga mereka kesulitan.

“Setelah berlatih selama dua minggu, kami lantas vakum karena masih bingung batik ini mau dijadikan apa,” kata salah seorang pembatik, Siti Nurbaya.

Cara yang ditempuh RAPP dengan “menyekolahkan” para peserta ke sejumlah daerah pusat batik nasional seperti Pekalongan, Yogyakarta, maupun Solo untuk meningkatkan kemampuan para pembatik.

Motif batik pertama yang dilahirkan adalah Bono. Ini terinspirasi dari fenomena alam unik khas di Sungai Kampar dan Sungai Rokan yang berada di sekitar area mereka.

Bono sejatinya merupakan pertemuan arus ombak unik yang terjadi akibat pertemuan arus sungai dengan air laut yang hendak menuju ke sana akibat pasang. Ombaknya sangat tinggi, sehingga berbahaya bagi pelayaran. Namun, belakangan Bono malah populer dimanfaatkan sebagai sarana berselancar.

Bono sangatlah unik. Banyak peselancar kelas dunia yang akhirnya datang ke sana untuk menjajal menaiki ombak tersebut. Hal itulah yang akhirnya dituangkan sebagai motif mitra Rumah Batik Andalan. “Kami sampai melihat Bono langsung untuk membuat motif ini,” kata Siti.

Selain Bono, sejumlah motif lain juga dilahirkan oleh binaan Rumah Batik Andalan. Lagi-lagi semua terinspirasi dari kondisi alam di sana seperti motif daun eucalyptus, daun akasia, lakum, sebuah buah khas lokal yang mirip dengan anggur, serta timun suri.***(rls)

Loading...


Berita Sosial lainnya..........
- Polres Bengkalis dan Wartawan Berbagi Sembako
- Ribuan Warga Sunda Riau Hadiri Halal Bihalal Bersama Kapolda Riau
- Selama Libur Idul Fitri 2018,
Objek Wisata di Rohul Dikunjungi Puluhan Ribu Wisatawan

- Jatuh Tempo Liburan Idul Fitri, Samsat Bengkalis Hapus Denda Pajak Kendaraan Bermotor
- Siakkecil, Bengkalis Wakili Riau Program IVA Tes Kanker Serviks
- Wow, Direktur RSUD Mandau Dapat Tiga Mobil Dinas
- Pasca Cuti Lebaran,
Absen di Hari Pertama Kerja, Pemkab Kampar Potong Tunjangan ASN dan THL

- 14 Hari Operasi Ketupat Muara Takus, di Riau Terjadi 40 Kasus Kecelakaan
- Hari Pertama Kerja Pasca Lebaran, ASN Pemkab Bengkalis Diklaim Hadir 98 Persen
- Bersama BRI dan ATIOS, Pemko Pembahasan Finalisasi Percepatan Smart City
- Hari Pertama 'Ngantor', Bupati Harris Sidak di Sejumlah OPD
- Sidak ke RSUD Arifin Achmad, Plt Gubri Pastikan Pelayanan Kesehatan Normal
- Hari Pertama Kerja, ASN Pemko Pekanbaru Pakai Tanjak dan Baju Melayu
- Hari Pertama Pasca Libur Lebaran, Plt Gubri dan Sekdaprov Pimpin Halal bi Halal
- Bocah Penderita Jatung Asal Kampar Berobat ke Jakarta, Ortunya Minta Didoakan Kesumbuhan
- ASN Pemprov Riau yang Mau 'Disemprot' Plt Gubri, Silahkan Tambah Libur
- Seru, KPB Gelar Halal Bi Halal di Danau PLTA Koto Panjang
- Empat Ruko Terbakar di Pelalawan,
Satu Keluarga Selamat dari Kobaran Api

- Sekdaprov dan Kepala BPBD Riau Tinjau Lokasi Longsor di Tembilahan
- Dinas Perhubungan RIau Siap Lancarkan Arus Balik Lebaran Lewat Darat


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com