Home > Sosial & Budaya >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 14 Desember 2018 23:14
SBY Berikan Pesan Kepada Warga Pacitan di Riau

Jum’at, 14 Desember 2018 22:38
RAPP Beri Bantuan untuk Korban Banjir di Pelalawan

Jum’at, 14 Desember 2018 22:24
Gubernur Riau Sambut Kedatangan Jokowi dan Iriana

Jum’at, 14 Desember 2018 22:17
Gerakan Taat Pajak, Perdana Bupati Bengkalis Berikan Penghargaan 25 Perusahaan

Jum’at, 14 Desember 2018 19:30
Pengusaha Sawit Terjerat Kasus Pemalsuan Sertifikat Lahan Jalani Sidang Perdana

Jum’at, 14 Desember 2018 19:26
Chevron Dukung Pelestarian Lingkungan dan  Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB 

Jum’at, 14 Desember 2018 19:14
Bupati Sukiman Serahkan Bantuan ke Pasien Kurang Mampu di RSUD Rohul

Jum’at, 14 Desember 2018 19:05
Peringati Hari Korupsi Internasional, Pegawai Kejari Rohul Bagi-bagi ini di Jalan

Jum’at, 14 Desember 2018 18:58
Bawaslu Meranti Gelar Rakor Peningkatan SDM

Jum’at, 14 Desember 2018 17:13
Kelola Sumur Tua,
Pertamina EP Asset 1 Lirik Field Inhu Tetap Berkontribusi di CSR Terpadu


loading...


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 9 Oktober 2018 09:59
Mengenang Elang Pulai, Legenda Pasukan Berbenteng tak Berwujud dari Pangean

Sebutlah nama Elang Pulai, maka masyarakat Kuansing akan memaklumi sebagai legenga. Pasukan berbenteng tak berwujud dari Pangean.

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Sebelum TNI resmi dibentuk pada masa perang dunia ke II, Nusantara sudah memilki pasukan geriliyah yang berjuang melawan penjajah untuk menghalau dari bumi Pertiwi.

Saat itu Nusantara, masih menjadi bagian-bagian dan para pejuang hanya menghalau penjajah dari daerah masing-masing untuk mempertahankan kedaulatan.

Di Pangean, tersebut lah pasukan geriliyah Elang Pulai. Pasukan ini berjuang untuk mempertahankan kedaulatannya.

Sebagai pejuang, mereka juga memiliki benteng pertahanan. Namun, benteng yang mereka miliki ini tidak biasa, sebab tak kasat mata oleh pasukan belanda.

Sehingga pasukan Elang Pulai ini, sulit untuk dibasmi oleh penjajah, karena mereka selalu berlindung di benteng Elang Pulai, ketika mereka terdesak melakukan perlawanan.

Hingga kini, benteng pertahanan ini, masih ada. Namun, sudah dijadikan hutan larangan oleh masyarakat, sebagai bentuk untuk mengenang pejuang dimasa lalu.

Benteng ini berada di desa Pembatang Kecamatan Pangean Kabupaten Kuansing, dari pusat desa setempat titik benteng ini tampak jelas, karena pohon pulai ini masih berdiri kokoh menjulang ke atas.

Dinamakan Pasukan Elang Pulai, Pulai ini adalah sejenis pohon yang mempunyai ketahan serat kuat, masyarakat dimasa lalu banyak memanfaatkan kayu ini sebagai bahan untuk pembangunan rumah.

Pohon ini juga diyakini, memiliki kekuatan gaib yang tidak bisa dijelaskan secara akal sehat, sebab pohon ini tumbuh tidak disembarang tempat.

Sedangkan Elang, adalah burung elang konon katanya, elang ini bukan elang sembarangan dimulutnya terpasang rantai dan rantai ini juga diyakini memiliki kekuatan gaib.

Berdasarkan cerita orang tua-tua, elang ini juga banyak membantu perjuangan pasukan Elang Pulai, disaat penjajah akan menyerbu, Elang ini akan memberi tanda dengan cara terbang mengitari pohon pulai tersebut, yang berarti ada musuh.

Hingga kini Elang Pulai ini, oleh masyarakat desa Padang Kunyit Pangean, diabadikan menjadi nama jalur Olang Barantai, yang diambil dari kisah tersebut. Hal ini juga bentuk mengenang pasukan ini.

Dari keterangan orang tua-tua, burung Elang ini sesekali masih ada menampakkan diri dengan rantai yang bergelayut dimulutnya. Elang ini menurut cerita yang pernah melihatnya, cukup besar. Namun, ia tidak mengganggu.

Kemudian untuk mengenang sejarah perjuangan pasukan Elang Pulai ini, didirikan prasasti Tugu Elang Pulai di desa Pasar Baru, dusun Penghijauan tepat berada di tepi jalan lintas arah Rengat.

Dari keterangan orang tua di Pangean, anggota pasukan ini sudah banyak yang meninggal. "Kalaupun ada yang hidup paling tak beberapa orang," terang Yasmin (88) orang tua di Pangean, Selasa (9/10/2018) pagi.*** (Jok)

Loading...


Berita Sosial lainnya..........
- RAPP Beri Bantuan untuk Korban Banjir di Pelalawan
- Gubernur Riau Sambut Kedatangan Jokowi dan Iriana
- Peringati Hari Korupsi Internasional, Pegawai Kejari Rohul Bagi-bagi ini di Jalan
- Keempat Kali, Hera Tri Wahyuni Terpilih sebagai Ketua GOW Kabupaten Bengkalis
- Kominfotik Bengkalis Serahkan e-Mail Sanapati 11 Kecamatan
- BAZNas Rohul Gelontorkan Rp 50 Juta untuk Bantu 100 Pasien Kategori Miskin di RSUD
- Bupati Rohul Resmikan Gerai Pelayanan Publik di Kantor Kecamatan Rambah Hilir
- Dibalut Seni dan Budaya, Ayo Hadiri CFN Selatbaru, Bengkalis 
- Bayi Ditemukan Dalam Kantong Plastik di Bengkalis Diserahkan ke Ortu Asuh
- Independent School Riau Chevron Sumbang 2.585 Buku Untuk Perpustakaan Pekanbaru Untuk kali kedua, ISR Chevron menyumbangkan buku untuk Dinas Perpustakaandan Kearsipan Pekanbaru. Jumlahnya, 2.585 buku. Riauterkini-PRKANBARU-Bantu program pendidikan ser
- Pawai Ta'aruf MTQ ke 37 Riau, Kuansing Tampilkan Tema "Mengantar Anak Pancar oleh Induak Bako"
- Jalan Lintas Mumpa-Pekan Heran di Rengat, Inhu Putus
- Kabupaten Peduli HAM,
Bupati Inhil Terima Penghargaan Kemenkumham RI

- Sekdakab Dianto Mampanini Lepas Kafilah Kuansing ke MTQ ke-37 Riau di Pekanbaru
- Jelang Akhir Tahun Program EVP Beri Manfaat Untuk Warga
- Gubri Lepas Pawai Taaruf, Pemprov Siapkan Bonus Pemenang MTQ Riau ke-37
- Pemkab Kuansing Bantu 30 Ton Beras pada Korban Banjir
- Pelantikan PWI Bengkalis Bakal Dihadiri Ketum Pusat
- Kabupaten Peduli HAM, Bupati Bengkalis Terima Penghargaan Kemenkum HAM RI
- DLH Kuansing Serahkan Sebanyak 247 Kartu BPJS Kepada PHL


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com