Home > Hukum >>

Berita Terhangat..
  Ahad, 29 Mei 2016 20:18
Sambut Ramadhan,
Masyarakat Tapung Pekanbaru Gelar Silaturahmi Akbar dan Pelantikan IKTS


Ahad, 29 Mei 2016 19:41
Empat Nama Gugur,
Besok Pagi, Pansel Umumkan Tiga Nama Calon Sekdaprov Riau


Ahad, 29 Mei 2016 19:04
Sabet Juara II Tahun Lalu,
Modifikator Ryan Fadhlan Optimis Juara Lagi di HMC 2016 Pekanbaru


Ahad, 29 Mei 2016 18:48
Selamatkan Generasi Rohul dari Narkoba, Polsek Tandun Bentuk GRANT

Ahad, 29 Mei 2016 18:41
Bupati Kampar Hadiri Syukuran Listrik Masuk Desa Sungai Agung

Ahad, 29 Mei 2016 18:37
Gila Keseringan Hisap Lem dan Ganja,
Pengangguran di Lima Puluh Pekanbaru Nekat Gantung Diri


Ahad, 29 Mei 2016 18:30
Dirawat di RSUD Arifin Achmad,
Bayi Penderita Atresia Bilier Asal Inhil Harus Dirujuk ke RSCM Jakarta




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Ahad, 29 Mei 2011 18:03
Lounching Film “Batas”:
Potret Kehidupan Masyarakat Dayak di Perbatasan Malaysia


Sebuah film tentang kehidupan di wilayah perbatasan RI dengan Malaysia, berjudul “Batas” kini mulai diputar di bioskop Pekanbaru. Film ini mencoba memberikan alternatif tontonan di saat kerasnya gempuran film horor.

Riauterkini-PEKANBARU- Sebuah potret kehidupan masyarakat suku pedalaman Dayak di perbatasan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dengan negara jiran Malaysia diangkat ke layar lebar. Saat ini, film berjudul “Batas” itu sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Pekanbaru.

Dalam lounching-nya di Hotel Pangeran, Ahad (29/5/11), sederet artis film BATAS diajak untuk mempromosikan film itu. Di antaranya aktor utama, Arifin Putra dan aktor kawakan Piet Pagau dan Jajang C Noer, serta aktor cilik Alifyandra. Sayangnya, artis utama wanita Marcella Zalianty berhalangan hadir karena kondisinya lagi tidak fit karena sedang hamil.

Aktor Piet Pagau saat sesi tanya jawab dengan wartawan, menyatakan dirinya selaku anak jati Dayak merasa tersanjung dilibatkan dalam produksi film yang disutradarai Rudi Soedjarwo. “Persoalan kehidupan di daerah atau pulau-pulau perbatasan memang hampir sama di setiap daerah. Saya rasa Kalbar dengan Riau hampir sama. Kalau di Kalbar ada Dayak, di sini juga ada Suku Terasing Sakai. Lewat film ini kita ingin sadarkan petinggi negeri ini, tolong lah daerah perbatasan diperhatikan. Jangan sampai dua pulau di perbatasan diklaim dan kini menjadi bagian negara tetangga,” tuturnya.

Sementara itu, Jajang C Noer lebih menyorot suka duka saat syuting di wilayah Entikong yang serba kekurangan dan infrastruktur yang sangat minim. Terlebih lagi, masyarakat di daerah perbatasan itu lebih mengenal budaya Malaysia ketimbang budaya tanah airnya, Indonesia.

“Di daerah itu. Kehidupannya sangat sulit. Sekolah hanya dua kali dalam sepekan itu pun dua jam belajar. Belum lagi lokasi sekolah yang sangat jauh dan mereka jalani dengan telanjang kaki. Yang lebih menyedihkan, kondisi jalan yang berbatuan dan harga satu liter bensin mencapai Rp25 ribu. Belum lagi minimnya air bersih,” tuturnya.

Terlepas soal itu, film ini bercerita tentang tokoh bernama Jaleswari (Marcella Zalianty) yang harus berdiri di antara batas keraguan, dilema, dan keinginan pribadi dengan keharusan untuk beradaptasi di lingkungan yang baru.

Jaleswari sangat memahami Adeus, seorang guru yang dipercaya menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam, apatis karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta tidak sesuai dengan keinginan masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat lebih memillih untuk jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama Otik. Ubuh menjadi korban Otik yang melarikan diri dari negeri tetangga. Oleh masyarakat Dayak, Ubuh tak hanya mendapat perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih.

Tragedi kemanusiaan ini mengubah pemikiran Jaleswari. Semua peristiwa terjadi di depan matanya. Jiwanya tergoncang dan Kepala Adayak, Kepala Suku menuntunnya memahami ‘Bahasa Hutan’ yang mengetengahkan rasa hormat dan cinta untuk tidak merusak alam. Mampukah Jaleswari Bangkit?

Jawabannya saksikan saja film “Batas” yang kini diputar di bioskop-bioskop Pekanbaru!*** (son)

PROMO : Sederet artis film ternama seperti Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer dan artis cilik pendatang baru Alifyandra mempromosikan flim terbaru mereka berjudul “Batas”. Louncing film tentang kehidupan daerah perbatasan Malaysia itu berlangsung di Hotel Pangeran Pekanbaru.






Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Sosial lainnya..........
- Sambut Ramadhan,
Masyarakat Tapung Pekanbaru Gelar Silaturahmi Akbar dan Pelantikan IKTS

- Dirawat di RSUD Arifin Achmad,
Bayi Penderita Atresia Bilier Asal Inhil Harus Dirujuk ke RSCM Jakarta

- Bupati Jefry Donor Darah di Baksos Tzu Chi Region Kampar
- Sambut Ramadhan, Bupati Harris Hadiri Tabligh Akbar di Langgam
- Sempena HUT Bhayangkara ke-70,
Komunitas Motor Pelalawan Gelar Berbagai Kegiatan 'Edukasi'

- 60 Persen Tera Timbangan di PKS Bermasalah,
Diskoperindag Rohul Baru Bisa Tertibkan Oktober 2016

- Padamkan Arus, PLN Duri Lakukan Perawatan GI Jelang Ramadhan dan Syawal


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.166.218.152
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com