Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Senin, 5 Desember 2016 17:22
Bantu Tugas Kepolisian,
16 Personil dan 3 Warga Terima Penghargaan Kapolres Kampar


Senin, 5 Desember 2016 17:16
Tiga Bulan Buron,
Satu Tahanan Kabur Polsek Bukit Raya, Pekanbaru Berhasil Ditangkap


Senin, 5 Desember 2016 17:09
Polres Kampar Ungkap Perampokan Pedagang Emas di Rumbio

Senin, 5 Desember 2016 17:03
Terkait Pembayaran TPP RSUD AA,
Pemprov Sebut Hanya Melaksanakan Rekomendasi KPK dan BPKP


Senin, 5 Desember 2016 16:54
Sampai November 2016, Kunjungan Wisata di Rohul Meningkat Tajam

Senin, 5 Desember 2016 16:21
Pembangunan Jembatan Waterfront City,
‪Bupati Kampar Pastikan Selesai Tepat Waktu


Senin, 5 Desember 2016 16:18
Ayah dan Anak Tewas Menggenaskan di Jalintim Pelalawan

Senin, 5 Desember 2016 16:12
‪Jefry Noer: Akhiri Praktek Dualisme di Lima Desa

Senin, 5 Desember 2016 16:06
Diindikasi Politik Uang,
Masyarakat dan BPBD Desa Tangun, Rohul Tolak Hasil Pilkades


Senin, 5 Desember 2016 15:59
Difasilitasi Polresta Pekanbaru,
Besok, Pemprov-RSUD AA Bahas Pergub No.12/2016




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Ahad, 29 Mei 2011 18:03
Lounching Film “Batas”:
Potret Kehidupan Masyarakat Dayak di Perbatasan Malaysia


Sebuah film tentang kehidupan di wilayah perbatasan RI dengan Malaysia, berjudul “Batas” kini mulai diputar di bioskop Pekanbaru. Film ini mencoba memberikan alternatif tontonan di saat kerasnya gempuran film horor.

Riauterkini-PEKANBARU- Sebuah potret kehidupan masyarakat suku pedalaman Dayak di perbatasan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dengan negara jiran Malaysia diangkat ke layar lebar. Saat ini, film berjudul “Batas” itu sudah bisa dinikmati oleh masyarakat Pekanbaru.

Dalam lounching-nya di Hotel Pangeran, Ahad (29/5/11), sederet artis film BATAS diajak untuk mempromosikan film itu. Di antaranya aktor utama, Arifin Putra dan aktor kawakan Piet Pagau dan Jajang C Noer, serta aktor cilik Alifyandra. Sayangnya, artis utama wanita Marcella Zalianty berhalangan hadir karena kondisinya lagi tidak fit karena sedang hamil.

Aktor Piet Pagau saat sesi tanya jawab dengan wartawan, menyatakan dirinya selaku anak jati Dayak merasa tersanjung dilibatkan dalam produksi film yang disutradarai Rudi Soedjarwo. “Persoalan kehidupan di daerah atau pulau-pulau perbatasan memang hampir sama di setiap daerah. Saya rasa Kalbar dengan Riau hampir sama. Kalau di Kalbar ada Dayak, di sini juga ada Suku Terasing Sakai. Lewat film ini kita ingin sadarkan petinggi negeri ini, tolong lah daerah perbatasan diperhatikan. Jangan sampai dua pulau di perbatasan diklaim dan kini menjadi bagian negara tetangga,” tuturnya.

Sementara itu, Jajang C Noer lebih menyorot suka duka saat syuting di wilayah Entikong yang serba kekurangan dan infrastruktur yang sangat minim. Terlebih lagi, masyarakat di daerah perbatasan itu lebih mengenal budaya Malaysia ketimbang budaya tanah airnya, Indonesia.

“Di daerah itu. Kehidupannya sangat sulit. Sekolah hanya dua kali dalam sepekan itu pun dua jam belajar. Belum lagi lokasi sekolah yang sangat jauh dan mereka jalani dengan telanjang kaki. Yang lebih menyedihkan, kondisi jalan yang berbatuan dan harga satu liter bensin mencapai Rp25 ribu. Belum lagi minimnya air bersih,” tuturnya.

Terlepas soal itu, film ini bercerita tentang tokoh bernama Jaleswari (Marcella Zalianty) yang harus berdiri di antara batas keraguan, dilema, dan keinginan pribadi dengan keharusan untuk beradaptasi di lingkungan yang baru.

Jaleswari sangat memahami Adeus, seorang guru yang dipercaya menjalankan program pendidikan, kini menjadi pribadi pendiam, apatis karena sistem pendidikan yang diinginkan perusahaan di Jakarta tidak sesuai dengan keinginan masyarakat.

Di sisi lain, masyarakat lebih memillih untuk jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dijanjikan jadi kaya oleh penjual jasa bernama Otik. Ubuh menjadi korban Otik yang melarikan diri dari negeri tetangga. Oleh masyarakat Dayak, Ubuh tak hanya mendapat perlindungan namun juga kehangatan dan keramahan yang perlahan membuatnya berangsur pulih.

Tragedi kemanusiaan ini mengubah pemikiran Jaleswari. Semua peristiwa terjadi di depan matanya. Jiwanya tergoncang dan Kepala Adayak, Kepala Suku menuntunnya memahami ‘Bahasa Hutan’ yang mengetengahkan rasa hormat dan cinta untuk tidak merusak alam. Mampukah Jaleswari Bangkit?

Jawabannya saksikan saja film “Batas” yang kini diputar di bioskop-bioskop Pekanbaru!*** (son)

PROMO : Sederet artis film ternama seperti Arifin Putra, Piet Pagau, Jajang C Noer dan artis cilik pendatang baru Alifyandra mempromosikan flim terbaru mereka berjudul “Batas”. Louncing film tentang kehidupan daerah perbatasan Malaysia itu berlangsung di Hotel Pangeran Pekanbaru.






Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Sosial lainnya..........
- Bantu Tugas Kepolisian,
16 Personil dan 3 Warga Terima Penghargaan Kapolres Kampar

- Terkait Pembayaran TPP RSUD AA,
Pemprov Sebut Hanya Melaksanakan Rekomendasi KPK dan BPKP

- Pembangunan Jembatan Waterfront City,
‪Bupati Kampar Pastikan Selesai Tepat Waktu

- ‪Jefry Noer: Akhiri Praktek Dualisme di Lima Desa
- Difasilitasi Polresta Pekanbaru,
Besok, Pemprov-RSUD AA Bahas Pergub No.12/2016

- Puluhan Masyarakat Rumbio Datangi PN Bangkinang, Kampar
- Pemkab Bengkalis Sinkronkan Data Pertanian dan Peternakan


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.167.155.163
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com