|
|
|
Kamis, 28 Juni 2012 07:17 Tajaan Tanoto Foundation & RGE, 10 Jurnalis Indonesia Ikuti Pelatihan di Singapura
Sebanyak 10 jurnalis dari Pekabaru dan Jakarta mengikuti pelatihan sosial media di NTU Singapura. Kegitan ini ditaja Tanoto Foundation dan Raja Garuda Emas (RGE).
Riauterkini-SINGAPURA- Perkembangan teknologi telah menciptakan kelompok media baru yang lazim disebut dengan sosial media. Keberadaan media jenis ini, jika tidak disikapi dengan baik, bisa menjadi ancaman bagi media konfesional, terutama media cetak. Dalam rangka memahami potensi media sosial sebagai penompang media konfesional, sebanyak 10 orang wartawan dari media cetak dan online di Jakarta dan Pekanbaru, Riau mengikuti Social Media Trends and News Management Workshop di Singapura. Workshop yang menghadirkan sejumlah pembicara internasional di bidang media.
Kegiatan yang pelaksanaanya diserahkan kepada Asian Media Information and Comunication (AMIC) Nanyang Technological University (NTU) Singapura tersebut ditaja Tanonoto Foundation bersama Raja Garuda Emas (RGE). Para jurnalis akan mendapat pembekalan mulai Rabu (27/6/12) hingga Jumat (29/6/16) mendatang. Setelah pelatihan ini, diharpakan para peserta mampu menyikapi trend sosial media dan bagaimana memanfaatkannya untuk perkembangan media cetak dan online.
Salah satu pembicara pertama Keith Lin, Regional Editorial Lead MSN, mengatakan, saat ini pertumbuhan social media dunia, khususnya di Asia, meningkat tajam. Bahkan posisi pengguna Facebook di Indonesia di dunia, digeser India, dari posisi ketiga dunia menjadi keempat. Di dunia, saat ini pengguna Facebook terbesar United States (Amerika Serikat) sebanyak 158, 03 juta dlm tiga bulan terakhir. Disusul Brasil 51, 17 juta, India 49, 81 juta dan Indonesia 43,83 juta-an.
Namun Facebook tak bisa menguasai semua pasar di dunia. Di China misalnya, pertumbuhan Qzone, media sosial lokal lebih tinggi dengan pengguna 531 juta, begitu juga Mixi di Jepang 14,5 juta dan Zing di Vietnam 15 juta.
"Ini disebabkan faktor budaya dan bahasa di sana yang tak terlalu berkiblat ke Barat serta Bahasa Inggris yang hanya menjadi bahasa kedua di sana," kata Keith.
Sedangkan pembicara lain Felix Soh, Head of Digital Media Singapore Press Holdings, menilai keberadaan citizen journalism (jurnalisme warga), bukanlah sebuah ancaman bagi media massa mainstream. Apalagi citizen journalism baru eksis setelah internet dikomersilkan pada tahun 1990-an. Sedangkan media massa mainstream sudah ada sejak lebih 500 tahun lalu.
"Malah, citizen journalism itu saat ini memperkaya konten media massa mainstream," tuturnya.
Saat ini di Asia, katanya, citizen jornalism memang makin tumbuh dan berkembang. Seperti di Korea Selatan dengan situs Ohmynews dan di Singapura dengan Stomp dan Razor TV.
"Para pengguna mobile phone, memanfaatkan perangkat yang mereka miliki untuk mengambil foto dan mengirimkannya beserta naskah ke sejumlah media sosial, termasuk media massa mainstream," ungkap Felix Soh.
Bahkan untuk website Stomp, katanya, warga cukup mengaktifkan fitur di smartphone berbasis Android atau iPhone untuk Stomp, lalu mereka bisa langsung mengambil foto, memberi naskah/keterangan foto dan meng-upload-nya secara langsung ke Stomp.com.sg.
Sebanyak 10 orang wartawan dari media cetak dan online di Jakarta dan Pekanbaru, Riau, Rabu (27/6/2012), mengikuti Social Media Trends and News Management Workshop di Singapura. Workshop yang menghadirkan sejumlah pembicara internasional di bidang media akan digelar hingga Jumat (30/6/2012), di Nanyang Technological University (NTU).
Pada hari pertama, saat membuka workshop, Lau Joon-Nie dari NTU, mengatakan, workshop ini sengaja didesain khusus untuk wartawan oleh AMIC, NTU dan Tanonoto Foundation, menyikapi trend sosial media dan bagaimana memanfaatkannya untuk perkembangan media cetak dan online.***(mad)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
Ucok Panam Bana Serius Muko Doni Nan paliang Tuo, Macam nak Ke Baliakpapan bisuak....hahahah Iduik Doni,mantap don.....Wang na Piro da?
Chairul Rizky BAgaimana wartawan bisa independen kalau sudah kena suap melancong ke SIngapura diajak PT RAPP. Kasihan rakyat Riau yang diakal akali wartawan yang katanya peduli lingkungan. Mari kita boikot mereka
Awak Tanoto Foundation alah buto yo?...macam tak ado lagi wartawan di Pekanbaru diikutsertakan dalam program ini...Amek, apolah hebatnyo...
Temen Amek Besar tuh uang saku, bagi lah mek.
eri bos nya riauterkini.com ditengah ye...
|
|