|
|
|
Senin, 2 Juli 2012 21:40 Press Corner Masyarakat Masih Sulit Dapatkan Kredit UKM Perbankan
Masyarakat Riau terutama yang bermukim di pedesaan, hingga kini masih sulit mendapatkan kredit UKM perbankan. Hal ini terungkap dalam diskusi wartawan atau Press Corner; “Menakar Kontribusi Perbankan, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Riau”.
Riauterkini-PEKANBARU- Sebagian masyarakat Riau terutama di pedesaan masih sulit mendapatkan kredit Usaha Kecil Menengah (UKM) dari pihak perbankan. Birokrasi untuk mendapatkan modal usaha dari bank itu terkesan berbelit-belit. Sementara ada kredit dari pihak non bank yang prosedurnya sederhana, tetapi bunga sangat mencekik kreditur.
Hal itu terungkap dalam diskusi wartawan atau Press Corner yang dgelar Tribun Pekanbaru di ruang Mahyong, Hotel Grand Elit, Senin (2/7/12). Diskusi kali ini mengambil tema : “Menakar Kontribusi Perbankan, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Riau”.
Dalam diskusi kali pihak panitia mengundang beberapa narasumber, seperti Wakil Ketua Umum Bidang Ekonomi dan Kerjasama Internasional KADIN Daerah Riau, Viator Butarbutar, pengamat ekonomi Edyanus Herman Halim, Kepala Tim Pengawasan Bank Indonesia (BI) regional Riau, Indra Krisna, dan beberapa pimpinan cabang bank lainnya.
Menurut Viator, saat ini masih banyak masyarakat Riau yang ingin mengembangkan usaha kecil dan menengahnya terkendala tidak dapat pinjaman dari bank. Bahkan pihak Bank Indonesia sebagai induk dari perbankan dinilai belum dapat mengakomondir persolan ini dengan baik.
"BI sekarang tidak sama dengan BI dulu. Bisa dikatakan tugasnya sekarang cuma satu, yaitu menjaga inflansi,” tukasnya.
Pernyataan ini dibenarkan oleh seorang peserta diskusi, Parlindungan. Menurutnya, pengalaman sulitnya mendapatkan kredit usaha kecil itu dialami langsung oleh orangtuanya. Waktu itu, segala persyaratan sudah dipenuhi termasuk agunan berupa sertifikat tanah di lahan satu haktar.
“Setelah menunggu begitu lama, yang kami peroleh jawabannya dari bank bersangkutan. Mohon maaf kami tak punya dana. Padahal kredit yang diajukan Mamak (Ibu, Red) kami tidak labih Rp15 juta dengan agunan lahan satu hektar berserfikat,” ujarnya.
Menanggapi masalah itu, Kepala Tim Pengawasan Bank Indonesia (BI) regional Riau, Indra Krisna mengaku, kunci dari perbankan itu adalah kepercayaan. Sebelum mengucurkan kredit UKM itu, pihak perbankan mesti melakukan peninjauan, analisa, dan mempelajari apakah pinjaman bisa diberikan atau tidak. Karena kalau hasil analisanya kredit akan macet, maka juga akan berimbas pada masyarakat.
"Kita tentu saja ingin menyalurkan dana tersebut, karena pada dasarnya dana tersebut berasal dari masyarakat juga, bukan dana bank atau pemerintah. Tapi kita tentu harus melakukan survei terlebih dulu. Karena di antara pengusaha UKM, masih ada yang memiliki manajemen yang kacau. Imbasnya tentu masyarakat juga," kilahnya.***(son)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
banker betul tu...... kadang memang sgt sulit mau pinjam duit dibank, pa lagi masy kecil
pegawai bank tu, bersikap macam duit bapak nenek moyang dia yg mau kita pinjam
sulit nya minta ampun
|
|