Berita Terhangat.. |
Jum’at, 24 Mei 2013 19:36 Dibuka Ketua KONI Rohul, 630 Karatedo Ikut Kejurda FORKI Riau ke-7 di Pasirpangaraian
Jum’at, 24 Mei 2013 19:34 Prihatin, KPU tak Diundang Paripurna Pelantikan 5 PAW DPRD Riau
Jum’at, 24 Mei 2013 19:32 Didukung 4 Parpol, Zainal Abidin Optimis Maju di Pilkada Inhil
Jum’at, 24 Mei 2013 17:29 RAPP Bakti Sosial Bersama Warga Desa Kuala Terusan
Jum’at, 24 Mei 2013 17:12 Dua Pengedar Sabu Melawan Saat Ditangkap Aparat
Jum’at, 24 Mei 2013 17:09 Jago Demokrat di Pilgubri Diharap Tuntas Awal Pekan
Jum’at, 24 Mei 2013 16:47 Pemko Programkan Pasar Higinis
|
|
|
|
Jum’at, 17 Agustus 2012 19:23 Harga Anjlok, Petani Getah Karet Pulau Bengkalis “Menjerit”
Petani getah karet di Pulau Bengkalis “menjarit” menyusul anjloknya harga komuditi ini sejak dua pekan terakhir. Bahkan penurunan harganya melebihi 50 persen dari harga sebelumnya.
Riauterkini-BENGKALIS- Harga getah karet atau ojol terus mengalami penurunan sejak dua pekan terakhir. Bahkan, kini sudah melebihi 50 persen dari biasanya. Kondisi ini para petani perkebunan di Pulau Bengkalis mulai “menjerit”.
Bagaimana tidak?, harga getah karet sebelumnya mampu berkisar Rp 13 ribu per kilogram, saat ini hanya dipatok kalangan tengkulak Rp 7 ribu untuk per kilogram atau turun mencapai 53 persen.
Seperti dituturkan petani perkebunan karet dari Desa Selatbaru,
Kecamatan Bantan, Kabupaten Bengkalis Rapi (45) kepada
riauterkini.com, Jum’at (17/8/12). Dirinya tidak menyangka akan
terjadi penurunan harga hasil perkebunan ini yang terus menerus.
Sebelumnya harga jual mampu Rp 13 ribu per kilogram, terus turun ke Rp
12 ribu dan selanjutnya turun Rp 10 ribu-an dan sekarang hanya Rp 7
ribu per kilo.
“Ya tentu saja kita mulai risau dengan harga ojol yang terus
turun. Selama ini, kita memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
mengandalkan dari menoreh pokok Getah, sementara penghasilan yang lain
tidak tentu,” tuturnya.
Ditambahkan Rapi, dengan harga getah karet turun ini, dirinya juga
sudah mulai kebingungan. Sebelumnya selain mengandalkan dengan hasil
getah karet, dirinya juga menyambi dengan pekerjaan lain seperti
kegiatan proyek-proyek pemerintah. Namun, saat ini kegiatan tersebut
sama sekali belum banyak yang berjalan. Sehingga mau tidak mau
terpaksa hanya mengandalkan dari hasil tanaman getak karet
ini.
“Tahun kemarin masih bisa juga kita tutupi dengan kegiatan lain
seperti mengupah pada kegiatan proyek pemerintah. Sekarang proyek kan
banyak yang belum jalan, jadi tetap kita handalkan dari nyadap karet,”
ujarnya.
Demikian halnya yang diutarakan penyadap karet dari Desa Jangkang,
Kecamatan Bantan Boinah (23). Dengan kondisi harga getah karet yang
di jual terus turun, dirinya juga mulai khawatir karena penghasilan
dari menakik pohon getah adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia berharap harga getah karet yang selama ini bisa dihandalkan
memenuhi kebutuhan hidup itu, harganya dapat kembali bangkit.
“Ya mudah-mudahan harga kembali naik. Selama ini penghasilan kita
hanya dari menoreh getah kalau terus turun bagaimana nanti. Harga jual
getah karet turun sementara harga kebutuhan untuk makan di warung naik
dan tak penah turun,” keluhnya.***(dik)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
|
|
|