Home > Advertorial >>
Berita Terhangat..
Kamis, 24 September 2020 20:09
Cegah Penyebaran Covid 19, Satgas Gaklin Prokes Covid 19 Inhil Kembali Gelar Patroli

Kamis, 24 September 2020 19:57
KPU Dumai Tetapkan Nomor Urut Paslon Peserta Pilkada Serentak

Kamis, 24 September 2020 18:58
Mandiri Syariah Raih Penghargaan The Asset Triple A Islamic Finance Awards 2020

Kamis, 24 September 2020 18:52
Kasdim 0314/Inhil Hadiri Gerakan Kegiatan Tanam Bersama Dinas PTPHP

Kamis, 24 September 2020 17:39
Ini Pendapat Tiga Paslon Bupati dan Wabup Rohul dengan Nomor Urutnya

Kamis, 24 September 2020 17:29
Satu Lagi Dokter di Riau Meninggal Karena Covid-19

Kamis, 24 September 2020 17:03
Ketua FKS Inhil Menginstruksikan Para Pengurus Mematangkan Program

Kamis, 24 September 2020 16:57
Berikut Hasil Pengundian Nomor Urut Pilkada Pelalawan

Kamis, 24 September 2020 15:44
Tewas di Hotel di Pekanbaru, Wanita Asal Pelalawan Dibunuh karena Menolak Digauli

Kamis, 24 September 2020 15:40
BNNP Riau Musnahkan 11,8 Kilogram Sabu dan 498 Butir Ekstasi

Kamis, 24 September 2020 15:19
Berikut Nomor Urut Tiga Paslon Pilbup dan Wabup Rohul 2020

Kamis, 24 September 2020 15:12
Serbu BRI Bathin Solapan Jelang Tengah Hari, 4 Rampok Larikan Ratusan Juta Rupiah

Kamis, 24 September 2020 14:00
Gubri Pastikan Besok Jokowi Resmikan Tol Permai Secara Virtual

Kamis, 24 September 2020 13:56
M Harris Mundur, Ketua Tim Pemenangan Adi Sukemi-M.Rais Dijabat H Zakri

Kamis, 24 September 2020 13:52
KPU Tetapkan Nomor Urut Lima Pasangan Peaerta Pilkada Inhu



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 13 September 2019 17:18
Program Kemitraan Dinkes,
Bidan, Dukun Bayi dan Lintas Sektoral di Bengkalis Komit Tekan AKI dan AKB

Tingginya angka kematian ibu dan bayi mendorong Dinas Kesehatan Bengkalis menggalakkan Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di kabupaten itu.

Riauterkini-BENGKALIS- Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih cukup tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis mencatat terdapat 7 kematian ibu, dan kematian bayi lahir mati 32 orang, neonatal (0-28 hari) 28 orang, 29 hari-11 bulan 3 orang, balita (12-59 bulan) 2 orang.

Masih terdapat kelahiran yang ditolong Dukun Bayi sebanyak 71 orang sejak Januari sampai dengan Juli 2019. Hingga saat ini jumlah Dukun Bayi di Kabupaten Bengkalis masih cukup banyak, yakni 340 orang sementara Bidan berjumlah 206 orang. Sementara itu, keberadaan Dukun Bayi di masyarakat masih sangat dihormati.

Dinkes Kabupaten Bengkalis melaksanakan Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di Kabupaten Bengkalis ini menjadi salah satu terobosan yang bermuara untuk menurunkan AKI dan AKB. Metode yang dilakukan adalah melalui pendekatan holistik, lintas sektoral, lintas program, dan multidisiplin. Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi juga merupakan metode yang tepat karena permasalahan kesehatan merupakan permasalahan yang multi dimensi.

Kemudian, program kesehatan bisa berjalan tanpa harus meninggalkan unsur kebudayaan setempat atau dengan pendekatan kearifan lokal, peran Dukun Bayi yang masih dipercayai oleh masyarakat dan dengan Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi ini memiliki peran masing-masing peran, yaitu Bidan sebagai penolong persalinan dan Dukun Bayi sebagai pendamping.

Demikian disampaikan Kepala Dinkes Kabupaten Bengkalis, dr. Ersan Saputra TH melalui Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Eji Marlina, S.Psi, M.Si, M.Psi, didampingi Staf Kesmas Ardiana, Amd.Keb, SKM, Kamis (13/9/19) siang.

Dijelaskan Ardiana, Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi adalah bentuk kerja sama yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya menyelamatkan ibu dan bayi.

Menyukseskan Program Kemitraan ini di masyarakat harus memperoleh dukungan dari lintas sektoral atau kelompok pendukung seperti pemerintahan desa (Pemdes), tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), Tim Penggerak PKK, karena juga memegang peranan penting, mengingat basis program tersebut berada langsung di tengah-tengah masyarakat.

"Tujuannya adalah untuk meningkatkan persalinan dan perawatan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan melalui kemitraan Bidan dan Dukun Bayi. Sehingga setiap ibu bersalin dan bayi baru lahir memperoleh pelayanan serta pertolongan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dalam persalinan. Seluruh Dukun Bayi yang ada dilibatkan dalam satu bentuk kerja sama dan menandatangani kesepakatan atau setuju bermitra yang saling menguntungkan antara Bidan dengan Dukun Bayi," terangnya.

Direalisasikannya Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi tersebut, Dinkes Kabupaten Bengkalis juga memberikan bantuan biaya transportasi kepada Dukun Bayi yang telah melakukan pendampingan ibu bersalin menuju fasilitas kesehatan (Faskes), antara lain ke Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), atau ke Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) atau ke rumah sakit.

Dukun Bayi juga memiliki peran seperti memandikan setelah persalinan, perawatan bayi, membantu sang ibu nifas, melakukan pemijatan, sementara jika terjadi kasus imergensi Dukun Bayi tidak memiliki keahlian yang cukup. Sehingga memang harus ada kerja sama yang baik antara Bidan dan Dukun Bayi dalam rangka menurunkan AKI dan AKB itu.

"Namun setelah dicermati tidak hanya mengandalkan Bidan dan Dukun Bayi saja dalam menekan AKI maupun AKB ini tetapi kita juga harus melibatkan semua lintas sektoral. Dinkes tidak bisa berjalan sendiri dalam menekan AKI dan AKB tanpa ada dukungan dan komitmen dari seluruh pihak karena harus disampaikan bahwa program ini penting bagi masyarakat," katanya lagi.

Pelaksanaan kegiatan Program Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi setiap tahun terus dilaksanakan, hingga pekan kedua September 2019 ini, kegiatan kemitraan sudah digelar ke 12 Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas wilayah kerja Dinkes Kabupaten Bengkalis dari 18 yang ada. Sedangkan kegiatan Kemitraan Bidan dan Dukun Bayi di enam wilayah UPT Puskesmas lainnya, ditargetkan akan dilaksanakan pada Oktober 2019 mendatang.

Kegiatan Program Kemitraan seperti dilaksanakan pada 9 September 2019 di Kantor Kepala Desa Suka Maju atau untuk wilayah UPT Puskesmas Teluk Pambang. Pelaksanaan diikuti Dukun Bayi 22 orang, sembilan kepala desa (Kades), pengurus TP PKK, Bidan di Puskesmas dan Bidan yang bertugas di desa.

Kegiatan kemitraan juga dilanjutkan 11 September 2019, berlangsung di Aula Kantor Desa Selatbaru untuk wilayah UPT Puskesmas Selatbaru. Diikuti 36 orang Dukun Bayi, 14 Kades, pengurus TP PKK, Bidan Puskesmas serta Bidan yang bertugas di desa

Berikut adalah jumlah Dukun Bayi berdasarkan data bersumber dari Dinkes Kabupaten Bengkalis untuk masing-masing wilayah kerja di UPT 18 Puskesmas. UPT. Puskesmas Bengkalis berjumlah 45 orang, Puskesmas Pematang Duku 19 orang, Puskesmas Selatbaru 36 orang, Puskesmas Teluk Pambang 22 orang, Puskesmas Sungai Pakning 12 orang.

Selanjutnya wilayah kerja UPT. Puskesmas Tenggayun berjumlah 23 orang Dukun Bayi, Puskesmas Muda 15 orang, Puskesmas Sadar Jaya 12 orang Dukun Bayi.

UPT. Puskesmas Duri Kota berjumlah 25 orang, Puskesmas Pematang Pudu 6 orang, Puskesmas Balai Makam 11 orang Dukun Bayi, Puskesmas Sebangar 17 orang, Puskesmas Sebanga 9 orang, UPT. Puskesmas Muara Basung 3 orang, Puskesmas Serai Wangi 28 orang.

Jumlah Dukun Bayi di wilayah kerja UPT. Puskesmas Batu Panjang berjumlah 19 orang, Puskesmas Teluk Lecah 19 orang dan UPT. Puskesmas Tanjung Medang berjumlah 19 orang.

Informasi tambahan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga merelease, kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, tekanan darah yang tinggi saat hamil (eklampsia), infeksi, persalinan macet dan komplikasi keguguran. Sedangkan penyebab langsung kematian bayi adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kekurangan oksigen (asfiksia). Penyebab tidak langsung kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya. Kondisi geografi serta keadaan sarana pelayanan yang kurang siap ikut memperberat permasalahan ini. Beberapa hal tersebut mengakibatkan kondisi tiga terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat pelayanan dan terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat) dan empat terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu rapat jarak kelahiran).

Keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga dapat dihindari apabila ibu dan keluarga mengetahui tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta tindakan yang perlu dilakukan untuk mengatasinya di tingkat keluarga.

Salah satu upaya terobosan dan terbukti mampu meningkatkan indikator proksi (persalinan oleh tenaga kesehatan) dalam penurunan AKI dan AKB.

Mendorong ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan, bersalin, pemeriksaan nifas dan bayi yang dilahirkan oleh tenaga kesehatan terampil termasuk skrining status imunisasi tetanus lengkap pada setiap ibu hamil. Kaum ibu juga didorong untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dilanjutkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.

Upaya yang telah dilakukan akan lebih optimal apabila semua pihak berperan aktif, mendukung dan melaksanakan semua program percepatan penurunan AKI dan AKB. ***(dik/advertorial)

Loading...


Berita lainnya..........
- Tahun Ini Anggaran Dana Desa Meningkat
- Bahas Masalah Infrastruktur, Gubri Gelar Pertemuan dengan Komisi V DPR RI
- Singapura Miliki Nilai Investasi PMA Terbesar di Riau
- Gubri Umumkan Status Siaga Darurat Karhutla Hingga 31 Oktober
- SAKIP Pemprov Riau 2019 Nilai B, Gubri Harapkan Terus Lakukan Perbaikan
- DPRD Kampar Gelar Paripurna Istimewa HUT ke 70 Kabupaten
- Usai Ikuti Program VOTED Tajaan PT CPI,
Rangga: Kini Saya Tak Lagi Bebani Orang Tua

- Keuletan Warga Sakai Menjadi Mandiri
- Program Kemitraan PT CPI dengan Universitas di Riau,
Dosen Unri ke Jepang, Mahasiswa UIR ke Korea Selatan, Jepang dan Vietnam

- Saat Mitra Bicara Cara Kerja PT CPI


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com