Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 23
 
 
Kementerian Kehutanan dan FAO luncurkan proyek Rp74,6 miliar untuk Lindungi Keanekaragaman Hayati Indonesia dari Jenis Asing Invasif



Riauterkini-BOGOR - Sebagai bagian dari upaya melindungi keanekaragaman hayati Indonesia, Kementerian Kehutanan dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) hari ini (12/3) meluncurkan proyek senilai Rp74,6 miliar (USD 4,4 juta) untuk memperkuat kapasitas Indonesia dalam mengendalikan jenis asing invasif dengan dukungan pendanaan dari Global Environment Facility (GEF).

Jenis asing invasif adalah hewan, tumbuhan, dan organisme lain yang secara sengaja atau tidak sengaja memasuki lingkungan alami di mana mereka biasanya tidak ditemukan, mengganggu ekosistem alami dan merugikan spesies asli.

Hal ini menjadikan jenis asing invasive sebagai salah satu pendorong terbesar hilangnya keanekaragaman hayati, berkontribusi hingga 60 persen dari kepunahan tumbuhan dan hewan global. Mereka juga menimbulkan ancaman bagi perekonomian, kesehatan manusia, dan ketahanan pangan, yang merugikan dunia lebih dari USD 423 miliar setiap tahunnya, menurut laporan tahun 2023 oleh Platform Antarpemerintah untuk Ilmu Pengetahuan dan Kebijakan tentang Keanekaragaman Hayati dan Jasa Ekosistem (IPBES).

Indonesia memiliki salah satu jumlah jenis asing invasif tertinggi di Asia Tenggara menurut data IUCN di tahun 2015. Peningkatan perdagangan, perjalanan, transportasi, serta perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim telah mendorong penyebaran tersebut di kepulauan Indonesia. Kawasan konservasi seperti taman nasional amat rentan, dengan dilaporkannya penemuan jenis asing invasif di lebih dari setengah dari 54 taman nasional yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan menurut data tahun 2021.

Proyek berjudul Penguatan Kapasitas untuk Pengelolaan Jenis Asing Invasif (SMIAS) di Indonesia ini akan berfokus pada dua kawasan konservasi di Indonesia yang merupakan rumah bagi spesies endemik penting: Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur dan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan, yang juga memiliki kawasan karst terbesar kedua di dunia.

”Proyek SMIAS menjadi ikhtiar strategis untuk memperkuat tata kelola, kapasitas, dan kolaborasi pengelolaan jenis asing invasif, dari tingkat kebijakan sampai tingkat tapak. Kedua kawasan memiliki kekhasan ekosistem dan nilai konservasi tinggi, sekaligus menghadapi tekanan yang dapat mempercepat penyebaran jenis asing invasif,” ujar Satyawan Pudyatmoko, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Kehutanan dalam sambutannya yang diwakili oleh Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Ahmad Munawir dalam lokakarya awal SMIAS pada hari Kamis di Bogor, Jawa Barat.

Intervensi dalam proyek ini akan memperkuat kebijakan, peraturan, institusi, koordinasi multi-sektoral, dan pembiayaan Indonesia untuk mengurangi, mengendalikan, dan memberantas jenis asing invasif, termasuk dengan menerapkan praktik berkelanjutan dalam kolaborasi erat dengan Masyarakat Adat dan masyarakat lokal, termasuk perempuan dan anak muda.

“Dengan melindungi kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, proyek ini bertujuan untuk juga memberikan manfaat bagi banyak warga Indonesia yang mata pencaharian dan ketahanan pangannya bergantung pada hutan, termasuk Masyarakat Adat. FAO siap memberikan dukungan pengawasan, membantu Indonesia mewujudkan produksi yang lebih baik, gizi yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan kehidupan yang lebih baik dengan tidak meninggalkan siapa pun,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.

Proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan ketahanan lebih dari 2.000 orang, khususnya Masyarakat Adat, berkat peningkatan kesehatan ekosistem secara keseluruhan melalui praktik berkelanjutan dan peningkatan ketersediaan, antara lain, produk hutan non-kayu, tanaman obat, dan pakan ternak.

Dengan begitu, proyek ini akan mendukung Indonesia dalam mencapai target nasional dan komitmen global, seperti Konvensi Keanekaragaman Hayati, Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Target tersebut mencakup pencegahan dan pengurangan masuknya serta penetapan jenis asing invasif setidaknya sebesar 50 persen pada tahun 2030.***(rls/yan)

Keterangan foto: Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan, rumah bagi kawasan karst terbesar kedua di dunia. (©️Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung)

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Selasa, 06 Oktober 2026

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru.

Galeri
Rabu, 19 Agustus 2026

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Advertorial
Jumat, 18 September 2026

Dampingi Kapolda Riau dan Pangdam TT, Bupati Inhu Tinjau Lokasi Karhutla

Bupati Inhu menerima menerima kunjungan Kapolda dan Pandang Tuanku Tambusai. Mendampingi meninjau kebakaran lahan.

Advertorial
Kamis, 10 September 2026

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School.

Galeri
Senin, 17 Agustus 2026

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Bacakan Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan ke-81 RI

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Mengikuti dan Baca Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan RI ke-81

Advertorial
Minggu, 06 September 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026.

Berita Lainnya

Rabu, 07 Oktober 2026

PHR Bagikan 18.750 Masker KN95 untuk Warga Terdampak Asap Karhutla di Riau


Rabu, 07 Oktober 2026

Tanpa Atap, Pedagang Keluhkan Kondisi Gedung Pasar Terubuk Bengkalis


Rabu, 07 Oktober 2026

Kabut Asap Makin Parah di Siak, Jarak Pandang Sangat Terbatas


Rabu, 07 Oktober 2026

BRK Syariah dan Kemenhaj Hadirkan Safari Haji dan Coaching Perhajian di Siak


Rabu, 07 Oktober 2026

Cegah Aksi Kriminalitas Malam Hari, Polsek Tanah Putih Sisir ATM dan Objek Vital


Rabu, 07 Oktober 2026

Zero Titik Hostpot Kabut Asap Kiriman Selimuti Inhil


Rabu, 07 Oktober 2026

Kabut Asap Kembali Pekat, PC PMII Pekanbaru Desak Pemerintah Serius Atasi Penyebabnya


Selasa, 06 Oktober 2026

Fraksi PAN Plus Dukung Pembentukan Kaukus Parlemen Hijau Riau, Kawal Regulasi Lingkungan


Selasa, 06 Oktober 2026

Warga Tanjung Medan Tuntut PT Agrinas Kembalikan Lahan Seluas 1.040 Hektar


Selasa, 06 Oktober 2026

Pilkades Serentak 2026 Pelalawan Dimulai, Polisi Lakukan Monitoring


Selasa, 06 Oktober 2026

Kuansing Dikukuhkan dalam Tim Tanggap Insiden Siber, Perkuat Benteng Digital Pemerintahan


Selasa, 06 Oktober 2026

Sinergi Lintas Sektorial Pengamanan Pelabuhan dan Mitigasi Dampak Kabut Asap di Perairan Tembilahan


Selasa, 06 Oktober 2026

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru


Selasa, 06 Oktober 2026

HUT TNI ke-81, TNI-Polri Tanah Putih Perkuat Sinergitas dan Tanam Pohon Bersama


Selasa, 06 Oktober 2026

HUT TNI ke-81, TNI-Polri Tanah Putih Perkuat Sinergitas dan Tanam Pohon Bersama


Selasa, 06 Oktober 2026

Babak Baru PWI Kuansing Dimulai, Panitia Konferkab VII Resmi Dibentuk


Selasa, 06 Oktober 2026

Diduga Dipicu Persoalan Buah Sawit, Perselisihan di PT. Adei Berujung Kerusakan


Selasa, 06 Oktober 2026

Diduga Terlibat Penipuan dan Penggelapan, Walikota Payakumbuh Dilaporkan ke Polda Riau


Selasa, 06 Oktober 2026

Kebakaran Ludeskan 7 Rumah Warga Rumbai, Pekanbaru


Senin, 05 Oktober 2026

DBH Migas Siak Anjlok, Bupati Afni Desak Kemenkeu Buka Data Perhitungan