Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 23
 
 
Ketika Wahid dan SF Saling Berbantah di Persidangan

Riauterkini-PEKANBARU - Dua tokoh Sentral di Provinsi Riau, Gibrnrur Riau nonaktif Abdul Wahid dan wakilnya yang kini Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto bertemu untuk kali pertama setelah penangkapan Wahid oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 3 November 2025 lalu. Keduanya bertemu di sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu,(3/6/2026) .

Dalam persidangan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, hadir sebagai saksi. Jalannya sidang berlangsung cukup menegangkan dan memunculkan dialog langsung dengan terdakwa terkait perjalanan politik hingga hubungan keduanya yang belakangan merenggang.

"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," ujar Abdul Wahid mengawali pembicaraan.

Wahid kemudian mengungkit proses pencalonan dirinya bersama SF Hariyanto dalam kontestasi Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.

"Apakah saya meminta jadi gubernur?" tanya Abdul Wahid kepada saksi. Pertanyaan itu sempat mendapat perhatian majelis hakim yang menanyakan relevansi dengan perkara yang sedang disidangkan. Namun hakim tetap meminta saksi memberikan jawaban.

Atas pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan, bahwa pada awalnya dirinya enggan maju karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, kata SF, mantan Gubernur Riau, Syamsuar, masih berkeinginan maju dalam kontestasi politik.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.

Menurutnya, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, ia justru meminta Abdul Wahid yang maju sebagai calon gubernur. "Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju. Ya majulah, kata dia waktu itu" kata SF menirukan jawaban saat itu.

SF juga mengungkapkan bahwa skema yang kemudian disepakati adalah Abdul Wahid sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur. "Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid juga menyinggung hubungan keduanya setelah terpilih. Ia menyebut SF Hariyanto sempat enggan dipanggil sebagai wakil gubernur.

"Semua sudah saya rasakan. Mulia hati bapak," kata Abdul Wahid kepada saksi.

Namun SF menanggapi singkat. "Biasa saja, Pak," jawabnya.

Persidangan kemudian berlanjut pada pembahasan hubungan pribadi keduanya yang mulai merenggang setelah pelantikan.

Abdul Wahid mengaku masih mengingat momen saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto berkeinginan bertemu dengannya.

"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," ujar Wahid.

Namun menurutnya, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang. Pembahasan kemudian bergeser ke persoalan rekaman pemeriksaan Komisi Pemberantasan KPK (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF kepada sejumlah pihak.

Abdul Wahid menyebut SF pernah menunjukkan rekaman pemeriksaan dirinya di KPK dan menyampaikan sejumlah pernyataan yang dinilai sensitif.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.

Ia juga menyinggung adanya ucapan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimiliki hingga ke KPK.

"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan pernyataan tersebut.

Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu. "Tidak benar saya ucapkan itu," jawab SF.

Abdul Wahid kembali melanjutkan pertanyaannya dengan menyinggung pernyataan lain yang menurutnya pernah diucapkan saksi.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.

"Tidak pernah," Bantah SF singkat.

Suasana persidangan semakin tegang ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto. "Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.

Mendengar pertanyaan tersebut, SF langsung bereaksi. "Siapa bapak kiranya?" jawab SF.

Abdul Wahid kemudian mengungkit peristiwa saat Kapolda Riau mempertemukan keduanya untuk berdamai.

"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," kata Wahid.

Namun kembali SF membantah. "Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.

Dalam persidangan itu, Abdul Wahid juga menepis anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.

Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.

"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.

Wahid kemudian mempertanyakan alasan kemarahan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan. "Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.

Namun SF memilih menyerahkan penilaian tersebut kepada Abdul Wahid sendiri. "Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.

Menurut SF, selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai pengambilan keputusan pemerintahan.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.

Tak berhenti di situ, Abdul Wahid juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau yang disebut pernah disampaikan kepada ulama kondang, Abdul Somad.

"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid. SF kembali membantah.

"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.

Menutup rangkaian pertanyaan, Abdul Wahid menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.

"Bukan alasan saya itu," jawab SF.

Ia juga menegaskan bahwa proses demosi atau mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.

"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto di hadapan majelis hakim.

Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya membuka sejumlah fakta mengenai hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto yang sebelumnya jarang terungkap ke publik.***(har/mad)

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Selasa, 06 Oktober 2026

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru.

Galeri
Rabu, 19 Agustus 2026

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Advertorial
Jumat, 18 September 2026

Dampingi Kapolda Riau dan Pangdam TT, Bupati Inhu Tinjau Lokasi Karhutla

Bupati Inhu menerima menerima kunjungan Kapolda dan Pandang Tuanku Tambusai. Mendampingi meninjau kebakaran lahan.

Advertorial
Kamis, 10 September 2026

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School.

Galeri
Senin, 17 Agustus 2026

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Bacakan Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan ke-81 RI

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Mengikuti dan Baca Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan RI ke-81

Advertorial
Minggu, 06 September 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026.

Berita Lainnya

Selasa, 13 Oktober 2026

Aksi Mahasiswa Demo Penanganan Kabut Asap Hingga Beasiswa di Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Puji Keramahan Muklisin dan Istri, Bupati Bengkalis Apresiasi Porseni IGTK Riau di Kuansingy


Selasa, 13 Oktober 2026

Unggul Telak! Ahmad Fadli Raih 53 Suara, Resmi Terpilih Rektor Unri


Selasa, 13 Oktober 2026

FAO dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan Luncurkan Program Hibah Kecil Global Environment Facility, Dukung Inisiatif Lokal Indonesia


Selasa, 13 Oktober 2026

Mengharukan, Tiga Warga Binaan Lapas Bengkalis Ucapkan Dua Kalimat Syahadat


Selasa, 13 Oktober 2026

Kapolres Kampar AKBP Boby Langsung Minta Lakukan Rehabilitasi Usai Melihat Kondisi Rumah Nenek Ini


Selasa, 13 Oktober 2026

Terima LAMR, Kemenbud Apresiasi HKN di Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Tak Sekadar CSR, BRK Syariah Ikut Mengukuhkan Identitas Melayu di Kampus Universitas Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Cegah Kemacetan dan Kecelakaan, Polsek Ukui Gelar Penjagaan Pagi


Selasa, 13 Oktober 2026

Jaga Standar Pelayanan, RSUD Arifin Achmad Kembali Ikuti Survei Akreditasi


Selasa, 13 Oktober 2026

Perkuat Sinergitas Polri dan Pers, Kapolres Bengkalis Sidak PWI


Selasa, 13 Oktober 2026

Semarak HUT ke 27 Kuansing, Plt Bupati Buka Batik Carnival


Selasa, 13 Oktober 2026

Siaga Karhutla, Kapolsek Tanah Putih Pastikan Peralatan Pemadam Berfungsi Baik


Selasa, 13 Oktober 2026

31 Tahun Citra Plaza Pekanbaru, Tutup dan Jadi Gedung Kosong


Selasa, 13 Oktober 2026

Indonesia Unjuk Inovasi Pertanian dalam Pameran Global FAO di Roma


Selasa, 13 Oktober 2026

Wali Band Hibur Belasan Ribu Pengunjung di Puncak Hari Jadi ke-27 Pelalawan


Selasa, 13 Oktober 2026

Jarak Pandang 100 Meter, Asap Pekat Ganggu Jadwal Pesawat di Bandara SSK II Pekanbaru


Senin, 12 Oktober 2026

Digerebek Bareskrim Polri, 54 Orang di MP Club Pekanbaru Positif Narkoba


Senin, 12 Oktober 2026

Diskes Riau Terima 20 Ribu Masker Medis dari BPJS Kesehatan


Senin, 12 Oktober 2026

Beli Mobil di Arista Expo 2026 Pekanbaru, Konsumen Bisa Dapat Libur Cicilan 6 Bulan dari Maybank