Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 14 Desember 2019 16:16
Langkah Jitu Bupati Yopi Dongkrak Pajak Daerah Kabupaten Inhu

Sabtu, 14 Desember 2019 14:37
Seleksi Panwascam, Bawaslu Bengkalis Terima Tanggapan Masukan Masyarakat

Sabtu, 14 Desember 2019 12:07
Razia Kamar Napi Lapas Bengkalis, Petugas Gabungan Temukan Sajam

Sabtu, 14 Desember 2019 10:29
Ratusan Nelayan Bengkalis Terima Alat Keselamatan Pelayaran Dishub Riau

Sabtu, 14 Desember 2019 10:26
Ratusan Driver Riau Ojek Hadir dan Siap Layani Transportasi Masyarakat Pekanbaru

Sabtu, 14 Desember 2019 09:36
Pemuda Batak Kuansing Salurkan Bantuan pada Korban Banjir

Sabtu, 14 Desember 2019 07:22
Sanjayo Art Pertunjukan Pembuka Festival Teater Islam Dunia

Jum’at, 13 Desember 2019 20:40
Hadapi Pilkada, Bappeda Bengkalis Percepat Perencanaan TA 2021

Jum’at, 13 Desember 2019 20:29
173 Calon Panwascam Pilkada Bengkalis 2020 Ikuti Tes CAT dan Wawancara

Jum’at, 13 Desember 2019 20:16
Target Pertanian Bengkalis Maju, Mandiri dan Modern 2020


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 14 Mei 2019 07:04
Ngopi PWI Riau-KLHK Soroti Populasi Harimau dan Gajah di Sumatera

Jumlah satwa dilindungi seperti Gajah dan Harimau Sumatera tinggal sedikit. Banyak ancaman dan tekanan pada pelestarian alam dan satwa.

Riauterkini-PEKANBARU-Dari jumlah populasi gajah sumatera (elephas maximus sumatrae) di Indonesia sebanyak 1.659 ekor, 159-179 ekor ada di Riau. Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir Wiratno MSc,  pada acara Ngobrol Pintar (Ngopi) dan berbuka bersama yang ditaja PWI Riau, Senin (13/5/19).

Menurutnya, gajah gajah itu berada di 5 kantong habitat gajah di Riau. Yaitu di Mahato (perkiraan 3 ekor), Rohil (perkiraan 1 ekor), Petapahan/Minas (perkiraan 11 ekor), Balai Raja (perkiraan 6 ekor), Giam Siak Kecil (perkiraan 50-60 ekor), Tesso Nilo (perkiraan 88-98 ekor).

Sementara, jumlah populasi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di Indonesia hanya tersisa 603 ekor. 52 ekor diantaranya ada di Riau.

"Harimau sumatera di Riau tersebar di 8 kantong. Yaitu di Rimbo Panti (perkiraan 2 ekor), Rimbang Baling (perkiraan 22 ekor), SM Kerumutan (perkiraan 4 ekor), Sinepis (perkiraan 4 ekor), Giam Siak Kecil (perkiraan 9 ekor), Semenanjung Kampar (perkiraan 5 ekor), Tesso Nilo (perkiraan 2 ekor dan Bukit Tiga puluh (Perkiraan 4 ekor)," terangnya.

Wiratno juga menyebutkan, berbagai langkah telah dilakukan sehingga Indonesia berhasil meningkatkan jumlah populasi hewan atau tanaman langka. Gajah Sumatera di 2015 hanya sebanyak 611 ekor menjadi 693 ekor di tahun 2018. Harimau Sumatera dari jumlah 180 ekor di tahun 2015 menjadi 220 ekor di tahun 2018. 

Satwa satwa yang dilindung, termasuk kedua jenis binatang di lindungi tersebut berada di kawasan konservasi di Indonesia yang mencapai 27,14 juta hektare yang terbagi dalam berbagai zona. Yaitu Cagar alam 4,2 juta ha, suaka margasatwa 4,98 juta ha, Taman Wisata Alam, 829 ribu Ha, Tahura, 371 Ha, Taman Nasional, 16,2 juta Ha, Kawasan Suaka Alam, 306 ribu Ha.

Hanya saja, baik satwa di lindungi maupun kawasan konservasi itu memiliki berbagai macam tekanan dan ancaman yang terus meningkat. Direktur Pencegahan dan Pengamanan Hutan Ditjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir Sustyo Iriyono MSi menyatakan,  bahwa direktorat penegakan hukum di KLHK sudah menginventarisir berbagai kejahatan kehutanan yang menekan dan mengancam pelestarian hutan dan satwa liar yang dilindungi.

Beberapa contoh pelanggaran hukum di bidang lingkungan dan kehutanan menurutnya adalah menguasai hutan tanpa izin, pembalakan liar, pemalsuan dokumen, penyelundupan hewan atau tumbuhan langka dan  sebagainya.

"Pelakunya bisa individu, tergorganisir, oknum politisi, oknum aparat hukum hingga pelaku transnasional atau melibatkan pihak negara lain ," katanya.

Ia menambahkan, bahwa mereka sudah melakukan berbagai upaya baik pencegahan maupun penindakan secara tegas terhadap pelanggaran hukum terhadap lingkungan hidup dan kehutanan.  

"Personel juga dilengkapi bukan saja dari sisi jumlah tetapi juga kemampuan.  Kami lakukan kerja sama dengan seluruh instansi terkait seperti penegak hukum, dikdukcapil, perhubungan, BMKG, dan lain-lain yang semuanya terintegrasi ke dalam big data sehingga informasi yang kita butuhkan terhadap pencegahan dan penegakan hukum mudah dilakukan," ujarnya.

Sustyo menyadari bahwa dari berbagai kasus yang ada, banyak diantaranya yang masih belum selesai. Karenanya dia meminta dukungan semua pihak agar bisa menyelesaikan dengan perangkat dan personel yang ada.*(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Jejak Harimau Kian Banyak Muncul di Ujung Jalan Riau
- Berencana ke Siak, Waspadai Kerusakan Jalan Provinsi di Sejumlah Titik
- Karyawan PT RAPP dan Warga Kelola Lahan Kosong Jadi Kebun
- BBKSDA Riau Benarkan Ada Jejak Harimau di Tambang
- Polisi Rohil Ungkap Pelaku Maling Minyak Mentah
- Belasan Wartawan Ikuti Fieldtrip Chevron Jejak Minyak Bumi di Sumbar
- Kader HMI 25 Daerah Peduli Lingkungan di Bengkalis


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com