Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 6 Desember 2019 17:30
Dikerjakan Swakelola bersama PT BOS, PSR Bencah Kesuma Dinilai Berhasil Dirjenbun dan DPR RI

Jum’at, 6 Desember 2019 17:20
Libur Natal dan Tahun Baru 2020,
Telkomsel Pastikan Perkuat Layanan Jaringan Untuk Semua Masyarakat


Jum’at, 6 Desember 2019 17:16
Manjakan Pelanggannya, Rabbani Hadirkan Diskon 50 Persen Untuk Semua Produk

Jum’at, 6 Desember 2019 16:57
Tampung Aspirasi, Anggota DPRD Bengkalis Ini Bagi Beras dan Mesin Air di Kembung Luar

Jum’at, 6 Desember 2019 15:50
Molor Karena Lahan, Wagubri Cek Langsung Pekerjaan Jembatan Sail

Jum’at, 6 Desember 2019 15:28
Ganti Tiang Lapuk, Besok 7 Jam Listrik Padam di Wilayah Utara Timur Pulau Bengkalis 

Jum’at, 6 Desember 2019 14:34
Ketika PGN jadi Energi Baru Peningkatan Taraf Ekonomi Masyarakat Dumai

Jum’at, 6 Desember 2019 14:13
Pemprov Cuma Anggarkan Rp2 Miliar, Kebutuhan Perbaikan Stadion Utama Capai Rp40 Miliar

Jum’at, 6 Desember 2019 09:46
Sekretariat DPRD Kuansing Taja Rapat Mekanisme Reses

Jum’at, 6 Desember 2019 09:14
Kongres Budaya Banjar V Hasilkan Penyempurnaan AD/ART KBB


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 14 Agustus 2019 08:08
Hulu Bandar, Sungai Peninggalan Kerajaan Pelallawan, Nestapamu Kini

Sungai Hulu Bandar adalah bagian dari sejarah Kerajaan Pelalawan, namun kini nestapa. Kian dangkal dan menyempit.

Riauterkini-PANGKALANKERINCI- Sungai Hulu Bandar yang berada di Kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan memiliki nilai sejarah patut untuk dilestarikan. Kenapa tidak dulu kala sungai ini, merupakan tempat berlabuhnya para saudagar kaya, hingga membentuk pusat kerajaan Pelalawan. Hanya saja, kondisi sungai saat ini dilaporkan memprihatinkan sekali.

Hal tersebut menyusul airnya, sudah tak mengalir mulai dangkal dan mengering. Tidak itu saja, bahkan sungai dulunya, indah kini justru tak berbentuk lagi ditutupi oleh rerumputan. Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Pelalawan Fahrullazi angkat bicara terkait Sungai Bandar yang mulai sangat memprihatinkan ini.

Ia meminta kepada pihak perusahaan yang beroperasi dikecamatan Pelalawan dalam menjalani usahanya, diharapkan senantiasa memperhatikan masalah lingkungan dan aspek lainnya termasuk jejak jejak sejarah yang berada di lokasi mereka berusaha.

"Kita berharap perusahaan mempertimbangkan hal hal yang bernilai bulan saja secara materi terapi juga nilai history dan aspek kehidupan lainnya," ujar Fahrullazi, Rabu (14/8/19) menanggapi tertutupnya sungai Hulu Bandar oleh rerumput dan tidak mengalirnya air di sungai tersebut akibat terjadinya penutupan di hulu sungai oleh perusahaan hutan tanaman industri (HTI).

Sebagaimana beredar informasi dan sempat menjadi perbincangan hangat di masyarakat termasuk melalui media sosial bahwa Sungai Hulubandar yang berada di kelurahan Pelalawan, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, kondisinya hari ini begitu memperihatinkan sebab selain sudah di penuhi rerumputan sungai yang lebarnya hampir 25 meter itu kini juga sudah tidak mengalir airnya karena pada bagian hulu sungai sudah di tutup untuk kepentingan Perusahaan.

Lebih lanjut Fahrullazi mengatakan sungai tersebut sesungguhnya memiliki sejarah penting bagi kerajaan Pelalawan, di samping tentunya sebagai sumber penghidupan.

"Karena itu kita benar benar berharap perusahaan tidak bertindak semena mena dengan mengabaikan aspek sejarah di tengah masyaraka," ujarnya.

Sungai Hulu Bandar dulunya adalah sebagai pusat pemukiman dan Kerajaan Pelalawan, Sungai ini dan juga Sungai Selempaya merupakan bukti penting bagi keberadaan Kerajaan Pelalawan, karena itu bagaimanapun sungai ini harus di jaga kelestariannya.

Konteks lain yang patut diketahui bahwa Sungai ini begitu banyak menyimpan benda benda sejarah tentang kerajaan Pelalawan yang hingga saat ini belum pernah dilakukan penggalian sejarahnya oleh pemerintah.

"Karena itu perdoalan ini menurut saya tidak bisa di pandang enteng, " tambahnya.

Fahrullazi juga mengharapkan pihak pihak yang berwenang seperti lurah setempat, camat, dinas instansi terkait mesti secepatnya mengambil langkah langkah agar kawasan yang dapat dijadikan situs sejarah tersebut terjaga kelestariannya.

"Menurut saya ini tak dapat diukur dengan uang semata, karena Sungai ini adalah salah satu titik penting bagi keberadaan kerajaan Pelalawan sejak hampiri 10 abad yang lalu. Perlu sama sama di sadari bahwa sejarah kerajaan Pelalawan selama ini belum tergali sama sekali, sehingga perkiraan atau rekaan yang ada hari ini baru bersumberkan tulisan dan bukan bukti bukti sejarah," tuturnya. Lebih lanjut ia mengatakan,

"Salah satu kawasan yang menyimpan bukti sejarah itu adalah Sungai Hulubandar dan Sungai Sekempayo, bagai mana kalau titik bukti sejarah ini sudah hancur, sementara penggalian sejarah belum dilakukan? " tanyanya.

Sepatutnya sebagai bangsa yang berperadaban kita harus menghargai sejarah, memelihara dan merawatnya bukan justru mumunahkannya," tandasnya.***(feb)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Kader HMI 25 Daerah Peduli Lingkungan di Bengkalis
- Eksplorasi Keindahan Mangrove Solop, Disparporabud dan ISSI Inhil Bersiap Taja JES 2019
- Selain Timbun Limbah, Status Lahan PT Bukara Diluar Kawasan PT Kawasan Industri Dumai
- Pengabdi dan Penyelamat Lingkungan, Dua Warga Bengkalis Raih Penghargaan Setia Lestari Bumi
- BBKSDA Riau Jalin Kerjasama Kemitraan Konservasi
- Diguyur Hujan Deras, Kelurahan Duri Timur Dikepung Air
- Dispar Riau Tingkatkan Sumber Daya Pariwisata di Kabupaten‎ Rohul


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com