Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Ahad, 26 Januari 2020 21:29
Kasus Corona, RSUD Arifien Achmad Jadi RS Rujukan

Ahad, 26 Januari 2020 19:44
Speedboat TKI Tenggelam di Rupat,
Dipastikan Hanya Angkut 18 Orang, 3 Korban Masih Hilang


Ahad, 26 Januari 2020 15:44
Virus Corona, Tiga Pelabuhan di Bengkalis Sasaran Survei Ketat

Ahad, 26 Januari 2020 14:34
Diduga Pelaku Karla Puluhan Hektar, Oknum ASN di Bengkalis Dijebloskan ke Penjara

Ahad, 26 Januari 2020 14:08
Warga Antusias, Pemilihan RW di Mandau Rasa Pilkada

Ahad, 26 Januari 2020 09:32
Terpilih Aklamasi, Nono Patria Pratama Nakhodai PDK Kosgoro 1957 Riau

Ahad, 26 Januari 2020 05:11
Tuntut Kekompakan, Agung Laksono Buka Musda III Kosgoro Riau

Sabtu, 25 Januari 2020 22:23
Dihadapan Agung Laksono, Kader Kosgoro Maju Pilkada Serentak Diperkenalkan

Sabtu, 25 Januari 2020 20:45
Merasa Dirugikan EDRG, Kapolres Inhu Himbau Masyarakat Segera Lapor

Sabtu, 25 Januari 2020 20:44
Bupati Bengkalis Panen Raya Padi di Desa Harapan Baru Mandau


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 19 September 2019 08:33
Warga Diminta Waspada 5 Penyakit Terdampak Kabut Asap

Waspadalah, ada 5 penyakit mengintai terdampak kabut asap. Salah satunya jantung.

Riauterkini-PEKANBARU- Paramedis RS Tabrani, dr Susiana Tabrani, Kamis (19/9/19) menyebutkan bahwa kabut asap di Riau hasil dari karlahut memiliki partikel besar dan kecil. Partikel berukuran besar akan tertahan pada saluran pernafasan atas, sedangkan partikel kecil (inhalable) akan masuk ke paru-paru dan bertahan di dalam tubuh dalam waktu yang lama.

"Partikel inhalable adalah partikel dengan diameter di bawah 10 μm (PM10). PM10 diketahui dapat meningkatkan angka kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan pernafasan. Pada konsentrasi 140 μg/m3 dapat menurunkan fungsi paru-paru pada anak-anak, sementara pada konsentrasi 350 μg/m3 dapat memperparah kondisi penderita bronkhitis," terangnya.

Ada sejumlah penyakit yang mengintai akibat paparan kabut asap karhutla berdasarkan Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan. Pertama adalah Infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Walau penyebabnya adalah virus, paparan kabut asap yang intens dapat melemahkan kemampuan paru dan saluran pernapasan untuk melawan infeksi. Sehingga meningkatkan risiko seseorang terkena ISPA, terutama anak-anak dan lansia.

Kedua adalah Asma. Salah satu penyebab asma ialah buruknya kualitas udara. Kabut asap akibat karhutla membawa partikel berukuran kecil yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan mengganggu sistem pernapasan. Partikel itu dapat membuat asma muncul atau bertambah parah.

Ketiga adalah Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) PPOK merupakan penyakit radang paru, salah satu jenisnya ialah bronkitis. Kabut asap dapat memperburuk kinerja paru-paru dan dalam jangka panjang dapat memunculkan PPOK.

Keempat adalah Penyakit jantung. Kabut asap mengandung partikel mini yang dikenal dengan PM2,5. Saking kecilnya, partikel ini bisa masuk ke saluran pernapasan. Jika terus-terusan terpapar, penelitian menunjukkan seseorang dapat mengembangkan risiko penyakit jantung dan stroke.

Penyakit ke-lima adalah iritasi. Tak perlu waktu lama, paparan kabut asap dapat berpengaruh langsung dan menyebabkan iritasi pada mata, tenggorokan, hidung. Termasuk memicu timbulnya sakit kepala hingga alergi. Iritasi ditandai dengan kemerahan, gatal, kering, hingga radang.*( H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Kasus Corona, RSUD Arifien Achmad Jadi RS Rujukan
- Jalan Amblas di Jalir Prkanbaru-Lipat Kain, Polres Kampar Terapkan Buka-tutup
- Gajah TWA Buluh China Hamil
- Kembali Muncul Jejak Harimau di Tapung, BBKSDA Bentuk GPKS
- Beruang Madu Berkeliaran di Dumai, BBKSDA Riau Pasang Perangkap
- Kembali Dilanda Banjir, Petani Padi Kuansing Khawatir Gagal Panen lagi
- EoF: Peputra Supra Jaya Turut Hancurkan Hutan Riau


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com