Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Selasa, 19 Oktober 2021 11:44
10 Bulan, PN Bengkalis Tangani 719 Perkara Pidana

Selasa, 19 Oktober 2021 10:22
Pemprov Riau Lakukan Penilaian Kecamatan Berkinerja Baik

Selasa, 19 Oktober 2021 10:17
Target 2024, Listrik Pulau Bengkalis Terkoneksi dengan Jaringan Bawah Laut dari Sumatera

Selasa, 19 Oktober 2021 09:58
Hasil Dinekrosi, Harimau Terjerat di Bengkalis Mati Kelaparan

Selasa, 19 Oktober 2021 09:52
Berita dan Video,
Tim KPK Geledah Kantor dan Rumah Bupati Kuansing


Selasa, 19 Oktober 2021 09:29
KPK Membenarkan Bupati Kuansing Kena OTT

Selasa, 19 Oktober 2021 07:18
Kabarnya, Bupati Kuansing Terjaring OTT KPK

Senin, 18 Oktober 2021 23:29
Raungan Sirine Iringi Pembukaan MTQ XLVI Kecamatan Mandau

Senin, 18 Oktober 2021 22:45
Selain Bupati Walikota, Gubri Buat Surat Untuk BPN dan Polres

Senin, 18 Oktober 2021 22:39
Belasan Santri Tiga Pesantren Jalani Vaksinasi Massal


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 17 Juli 2021 17:24
SKK Migas-Chevron Dukung RSF Rintis Penerapan Sistem Agroforestri Ramah Gajah

Sistem Agroforestri Ramah Gajah dirintis RSF didukung Chevron-SKK Migas. Usai ditandatangani, akan segera diterapkan.

Riauterkini-PEKANBARU-Rimba Satwa Foundation (RSF) didukung SKK Migas-PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) merintis penerapan sistem agroforestri ramah gajah di Kabupaten Bengkalis, Riau. Hal itu termaktub dalam “Peta Usulan Ruang Gajah - Manusia di Desa Balai Raja dan Desa Pinggir” yang di tandatangani bersama antara Kepala BBKSDA Riau Suharyono bersama para pemangku kepentingan di Desa Balai Raja, Pinggir, Jumat kemarin.

Demikian diungkapkan Kepala BBKSDA Riau, Suharyono Sabtu (17/7/21). Ia mengharapkan sistem ini menjadi salah satu solusi mitigasi konflik gajah dan manusia dengan cara memilih jenis tanaman agroforestri yang tidak disukai gajah, namun tetap bernilai manfaat ekonomi bagi masyarakat. 

“Inisiatif ini adalah bentuk inovasi dalam penanganan konflik gajah dan manusia, sekaligus mendukung kami dalam upaya mendorong koeksistensi gajah dan  manusia sesuai arahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Inisiatif ini juga menyentuh masyarakat karena berkaitan dengan peningkatan ekonomi dan ketahanan pangan,” kata Suharyono. 

Acara yang berlangsung semi virtual diikuti Kasie Perlindungan, KSDAE, dan Pemberdayaan Masyarakat KPH Mandau Pahrurrozi, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus dan GM Government Affairs PT CPI Fandi Bangsawan. 

Fandi Bangsawan mengatakan, peta tersebut merupakan hasil workshop partisipatif pada April 2021 lalu yang melibatkan masyarakat dari kedua desa tersebut. Sebagai pelopor, sebanyak 14 warga bersedia lahan mereka dijadikan lahan agroforestri. Total lahannya seluas 21 hektar. Warga tersebut juga mendapatkan bibit tanaman kopi, jengkol, petai, alpukat dan gaharu. 

“Dukungan dari SKK Migas dan PT CPI diharapkan dapat bersinergi dengan upaya konservasi satwa liar, terutama yang berdekatan dengan area kerja kami. Program konservasi gajah tahun ini memfokuskan pada pemulihan habitat gajah Sumatra dan memitigasi konflik gajah dan manusia,” kata Fandi. 

Melalui program pengembangan masyarakat SKK Migas dan PT CPI di bidang lingkungan, tambahnya, kegiatan tahun 2021 ini dilaksanakan melalui pendanaan cost recovery dan bekerjasama langsung dengan Rimba Satwa Foundation (RSF) yang didukung oleh BBKSDA Riau.  

"Pada tahun lalu, SKK Migas-PT CPI bekerja sama dengan Perkumpulan Gajah Indonesia (PGI) dan RSF menyerahkan bantuan berupa GPS Collar dan camera trap untuk memantau pergerakan kawanan gajah di Balai Raja dan Giam Siak Kecil. Selain itu, kegiatan yang dilaksanakan berupa smart patrol dan pembinaan habitat di Hutan Talang," terangnya.  

Sementara itu, Direktur RSF Zulhusni Syukri mengatakan, program tersebut mampu mengurangi ancaman secara signifikan terhadap populasi Gajah Sumatra sesuai arahan Rencana Aksi Mendesak tahun 2020 - 2023 yang diterbitkan oleh KLHK. Sehingga konflik antara gajah dan manusia dapat dihindarkan. Program ini didukung oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE)-KLHK dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau (BBKSDA) Riau. 

Penerapan sistem agroforestri diharapkan dapat meminimalisasi konflik gajah dan manusia yang dipicu masalah kerusakan tanaman dan kerugian masyarakat. Selain daftar tanaman di atas, jenis tanaman lainnya yang tidak disukai gajah namun tetap bernilai manfaat ekonomi bagi masyarakat adalah kakao, kemiri, cabe, nilam, durian, dan lemon. 

Gajah Sumatra merupakan salah satu satwa dilindungi di Indonesia. Pada 2021, Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengkategorikannya sebagai satwa yang sangat terancam punah, salah satu penyebabnya adalah konflik antara gajah dan manusia.  

Peningkatan penggunaan lahan dan pertumbuhan populasi manusia mengakibatkan maraknya konversi lahan di wilayah yang menjadi habitat gajah, termasuk di Riau. Berbagai upaya memitigasi konflik antara gajah dan manusia telah dilakukan oleh pemerintah, organisasi non-pemerintah, perusahaan  maupun perguruan tinggi di Riau. 

"Sistem agroforestri merupakan hal yang baru termasuk bagi kami. Tapi, ini menjadi salah satu alternatif yang sudah diperhitungkan agar masyarakat lebih menerima gajah karena sistem ini dapat mengurangi tingkat kerugian masyarakat," pungkasnya.*(H-we)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Hasil Dinekrosi, Harimau Terjerat di Bengkalis Mati Kelaparan
- Faith for Climate Justice, Komunitas Agama Serukan Pemerintah Serius Tangani Krisis Iklim
- Memeriahkan Hari Pangan Sedunia 2021, RAPP dan APR Mengadakan Lomba MPASI
- Ditemukan Warga, Tim BBKSDA Riau Evakuasi Bangkai Harimau Sumatera
- Kesalimasy Terima Bantuan Pondok Kerja Budi Daya Mangrove dari Poltek Bengkalis
- Didamping Gubri, Menteri ESDM Berkunjung ke PT. PHR
- Tim BBKSDA Riau Gagalkan Perdagangan 840 Burung Tidak Berdokumen


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com