Home > Pendidikan >>
Berita Terhangat..
Ahad, 9 Agustus 2020 13:15
Dapat Dana BOSDA Riau, Gubri Minta Sekolah Swasta tak Pungut Uang SPP.

Ahad, 9 Agustus 2020 11:44
Paripurna HUT ke-63 Riau, Gubri Ajak Perkuat Ketahanan Ekonomi

Sabtu, 8 Agustus 2020 19:07
Penderita Gizi Buruk di Pekanbaru Capai 1.248 Kasus, DPRD: Harusnya Ini Tidak Terjadi

Sabtu, 8 Agustus 2020 19:06
Tambahan 50 Pasien Terkonfirmasi Covid-19 Hari Ini Terbanyak Siak dan Pekanbaru

Sabtu, 8 Agustus 2020 16:27
Syahrul Aidi Tunjukkan Abrasi Terparah di Inhu-Kuansing ke Kepala Balai Sungai KemenPUPR

Sabtu, 8 Agustus 2020 16:26
Antisipasi Penyebaran Covid-19, Lurah Talang Mandi Serahkan Alat Penyemprot dan Disinfektan

Sabtu, 8 Agustus 2020 13:20
Musda V, Golkar Kuansing Buka Pendaftaran Calon Ketua

Sabtu, 8 Agustus 2020 13:17
Direkomendasi Partai Demokrat, Irjen Pol Wahyu Adi Siap Maju di Pilkada Inhu

Sabtu, 8 Agustus 2020 13:13
Pemkab Inhil Serahkan 4500 Sertifikat Tanah

Sabtu, 8 Agustus 2020 11:23
Simpan di Celana Dalam, Polisi Ringkus Jaringan Pengedar Sabu di Pinggir


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 5 Pebruari 2019 19:22
Bergabung di Sekolah Lapang BRG, Badri Tuai Hasil Lebih Maksimal

Sekolah Lapang program Badan Restorasi Gambut atau BRG cukup memberikan manfaat bagi masyarakat. Seperti Badri yang berdomisili di desa Buatan Lestari, Kecamatan Bunga Raya, Siak.

Riauterkini - PEKANBARU - Badri adalah salah satu petani yang sebelumnya berkesempatan mendapatkan pelatihan khusus di Sekolah Lapang yang di programkan BRG. Dimana saat ini Dadri dapat mengembangkan berbagai teori pelatihan yang didapatkannya beberapa waktu lalu di program Demplot BRG.

"Alhamdulillah, saya bersama petani lain sudah dapat memaksimalkan lahan gambut untuk bercocok tanam tanaman holtikultura. Seperti yang saya tanam saat ini yakni cabai," katanya.

Dikatakan Badri, sebelumnya lahan seluas hampir 1 hektare yang jini ditanami cabai ini merupakan lahan gambut, yang kurang potensial untuk ditanami tanaman holtikultura seperti yang dia tanam. Namun, dengan pengolahan yang benar, kesuburan tanah meningkat dan membuahkan hasil yang cukup bagus.

"Banyak ilmu yang kita dapat dari Sekolah Lapang. Salah satunya yakni membuat tanah gambut lebih subur. Diantaranya menggunakan magnesium oksida atau menggunakan bahan organik seperti batang pisang, enceng gondok, jagung atau bahkan pelepah sawit untuk mengurangi zat asam pada lahan gambut," terangnya.

Hal ini telah diterapkannya di lahan yang kini ditumbuhi cabai dan siap panen. Dia menggunakan cacahan batang pisang yang ditebar di lahan sebelum dilakukan penenaman bibit cabai. Bahkan untuk melihat kesiapan lahan, Ia sebelumnya menanam sawi di lahan tersebut. Gunanya untuk melihat kadar zat asam di lahan gambut tersebut.

"Kalau sawinya gak tumbuh atau tumbuh tapi gak bagus berarti zat asamnya masih tinggi," terangnya.

Menurutnya, tidak ada kesulitan yang sangat berarti bagi Badri dan 14 rekannya sesama petani yang tergabung di kelompok tani Sumber Rezeki. Hanya memang membutuhkan alat untuk mencacah batang pisang. "Saat ini kira masih menggunakan cara manual. Tapi kalau lahannya semakin luas tentu semakin sulit tanpa peralatan," tuturnya.

Fasilitator Desa Peduli Gambut (DPG) Buatan Lestari, Sofia Ningsih menjelaskan keberhasilan kelompok tani Sumber Rezeki cukup menjadi contoh dan wadah belajar bagi petani lain. Tak sedikit, Ia bersama petani berdiskusi dalam pengelolaan lahan gambut untuk pertanian.

"Adanya Demplot ini sendiri sangat bermanfaat bagi petani yang ada disini. Kita bisa berbagi pengalaman, berbagai ilmu khususnya dibidang pertanian tanaman holtikultura," katanya.

Lanjutnya, 15 orang petani dalam kelompok tani ini juga menanam tanaman yang berbeda. Seperti jagung, pare, kacang panjang, cabai, timun dan sebagainya. Dimana hasil pertanian ini dijual.

Sementara, Anderi Satya selaku Kepala Sub Kelompok Kerja Informasi BRG yang turut menyaksikan langsung hasil Demplot milik Badri, Senin (04/02/19) mengatakan sangat apresiasi kepada kelompok tani Sumber Rezeki ini. Menurutnya ini dapat menjadi contoh bagi petani yang berdiam di lahan gambut.

"Pak Badri ini adalah salah satu kader yang berhasil. Dimana sebelumnya memang Ia mengikuti bimbingan di Sekolah Lapang selama 1 minggu," katanya.

Dijelaskan, di Sekolah Lapang sendiri, BRG menghadirkan 9 bimbingan materi utama. Seperti pengelolaan assesmen, petani organik, pengolahan pupuk organik, pengolahan tanpa bahan kimia dan yang paling penting yakni pengolahan atau pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) di lahan gambut.

"Ini adalah upaya kita untuk membantu petani dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan gambut. Tentu juga dalam meningkatkan perekonomian mereka. Bukan hanya disini, program ini juga terlaksana di daerah lain," singkatnya.***(rul)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 


Berita Pendidikan lainnya..........
- Dapat Dana BOSDA Riau, Gubri Minta Sekolah Swasta tak Pungut Uang SPP.
- Batasi Pertemuan dengan Siswa, SMP Taruna Andalan Pelalawan Belajar Sistem Daring
- Resmikan SMPN 6 Kuantan Mudik, Bupati Kuansing Harap Lahirkan SDM Unggul
- PT CPI Bagikan 2 Ribu Paket untuk Pelajar Suku Sakai
- Tak Diterima Sekola Negeri, Kakak-beradik Yatim ini Terancam Putus Sekolah
- Miris, "Dekengen" Tentukan Nasib Guru Honorer Sekolah Menjadi Honorer Pemda Bengkalis?
- Anak tak Diterima, Puluhan Warga Tegar Geruduk SMAN 4 Mandau


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com