Home > Pendidikan >>
Berita Terhangat..
Senin, 3 Agustus 2020 21:25
Jelang Diresmikan Jokowi, 248 Titik CCTV Dipasang Dijalan Tol Permai

Senin, 3 Agustus 2020 20:45
Sri Barat Diyakini Berpotensi Sapu Bersih Dukungan Swing Voters di Pilkada Bengkalis

Senin, 3 Agustus 2020 20:21
Pilkada 2020, PWI Bengkalis Terbuka dengan Seluruh Kandidat

Senin, 3 Agustus 2020 19:38
Demokrasi di Riau Kategori Level Sedang

Senin, 3 Agustus 2020 19:11
Bertambah 50, Pasien Terkonfirmasi Covid-19 Terbanyak dari Rohil

Senin, 3 Agustus 2020 18:19
Bapenda Pekanbaru Sembelih 9 Ekor Hewan Kurban

Senin, 3 Agustus 2020 17:31
21 Warga Positif Covid 19, Polilklinik Rawat Jalan RSUD Rohil Tutup Sementara

Senin, 3 Agustus 2020 17:03
Pengunduran Diri Kepsek SMPN Ditolak Pemkab Inhu

Senin, 3 Agustus 2020 16:18
Nostalgia Pewarta, Bagus Santoso Sambangi PWI Bengkalis

Senin, 3 Agustus 2020 15:35
Distan Bengkalis Berkurban Tiga Sapi dan Dua Kambing


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Rabu, 8 Juli 2020 12:02
Miris, "Dekengen" Tentukan Nasib Guru Honorer Sekolah Menjadi Honorer Pemda Bengkalis?

Belasan tahun mengajar dan tak kunjung diangkat menjadi honorer pemda mengaku karena tak ada "dekengan", seorang guru honorer sekolah mengadu ke anggota parlemen.

Riauterkini-BENGKALIS- Polos dan tak menyangka menyampaikan alasannya tak kunjung diangkat dari guru honorer sekolah belasan tahun mengajar menjadi guru honorer Pemerintah Daerah (Pemda) Bengkalis, tak ada "dekengan", Guru Honorer Sekolah Dasar Negeri (SDN) 027 Bantan, Azlina S.Pd, S.D, mengadukan nasibnya ke Anggota DPRD Bengkalis, Askori, Selasa (7/7/20).

Diceritakan Azlina, bahwa dirinya sejak tahun 2007 atau sekitar 13 tahun silam menjadi guru honorer di SDN 027 Bantan hingga hari ini. Selama menjadi guru honorer sekolah mulai dari gaji Rp350 ribu hingga gaji Rp1,5 juta sekarang untuk setiap bulan.

Dirinya berharap agar tenaga honorer sekolah yang sudah lama mengabdi dan sesuai dengan ketentuan diangkat menjadi guru honorer pemda terlebih dahulu dari pada yang baru masuk menjadi honorer sekolah, dan bukan terkesan diskriminasi.

"Yang sudah lama mengajar, kami berharap segera diangkat menjadi guru honorer pemda, jangan seperti yang kami dapat informasi di beberapa sekolah, baru masuk honorer sekolah tiba-tiba sudah diangkat jadi honorer pemda," ungkapnya.

Apa alasannya ibu sampai saat ini belum diangkat menjadi guru honorer kabupaten? "Alasan yang saya dapat karena tak ada "dekengan" ya begitulah sepertinya jaman sekarang," ucapnya.

"Saya pun sudah penat dan capek pak, mengurus ke dinas, apa yang diminta kami sampaikan. Dan sudah dimasukkan bahan tapi ya sampai sekarang belum jelas karena itu katanya tidak ada "dekengan"," kata perempuan berumur 34 tahun ini lagi.

Kemudian Azlina juga mengaku sempat memantau pengumuman perangkingan honorer sekolah namun tiba-tiba namanya menghilang. Terkait apa yang dialaminya ini, Dia juga menyampaikan laporan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, namun tak memuaskan.

"Oleh karena itu saya meminta kepada pak Askori, mudah-mudahan ada solusinya bagaimana nasib tenaga honorer sekolah yang sudah belasan tahun mengajar akan tetapi tak kunjung diangkat jadi honorer pemda sementara di sejumlah sekolah lain bisa," pinta ibu dua orang anak ini.

Menanggapi keluhan dan laporan guru honorer sekolah tidak bisa menjadi honorer pemda karena "tak ada dekengan" itu, Anggota DPRD Bengkalis Askori, langsung meradang.

Seharusnya, menurut politisi kelahiran Kecamatan Bantan ini, bahwa instansi terkait atau Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bengkalis serius memperhatikan guru-guru sekolah yang sudah lama mengabdi dan diangkat menjadi honorer pemkab, bukan diangkat atau tidak diangkat karena alasannya guru honorer sekolah itu "ada dekengan".

"Seharusnya dinas pendidikan itu bekerja dengan otak, kalau pakai otak tentu guru-guru seperti ibu ini diperhatikan dan tak perlu mengadukan hal ini kepada saya. Saya sudah komitmen untuk tidak memasukkan tenaga honorer ke instansi, ibu hanya berusaha memenuhi haknya, dan ternyata ada di sekolah tertentu baru saja masuk sebagai honorer sekolah sudah jadi honorer pemda karena "ada dekengan". Sedangkan ibu ini sudah belasan tahun mengajar tapi tak juga menjadi guru honorer pemda karena tak ada "dekengan" atau apa itu kan sangat keterlaluan," geramnya. ***(dik)

Foto : Azlina, S.Pd, S.D menemui dan mengadukan permasalahannya ke Anggota DPRD Bengkalis, Askori, Selasa (7/7/20) kemarin.

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 


Berita Pendidikan lainnya..........
- Pengajuan Mundur 64 Kepala SMP di Inhu Jadi Perhatian Kemendikbud
- PT CPI Bagikan 2 Ribu Paket untuk Pelajar Suku Sakai
- Tak Diterima Sekola Negeri, Kakak-beradik Yatim ini Terancam Putus Sekolah
- Miris, "Dekengen" Tentukan Nasib Guru Honorer Sekolah Menjadi Honorer Pemda Bengkalis?
- Anak tak Diterima, Puluhan Warga Tegar Geruduk SMAN 4 Mandau
- Video Buang Ratusan Skripsi Tersebar, Kepala Perpus Unilak Dipecat
- Diprotes Terkait Transparansi UKT, Rektor UIn Suska Ajak Dialog Mahasiswa


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com