Home > Sosial & Budaya >>
Berita Terhangat..
Rabu, 14 April 2021 15:40
Personel Polsek Pangkalan Kerinci Sasar Tempat Rawan Kriminalitas

Rabu, 14 April 2021 15:34
Polsek Kerumutan Ingatkan Warga Tetap Patuhi Prokes Selama Ramadhan

Rabu, 14 April 2021 15:25
Tekan Kriminalitas, Polsek Pangkalan Lesung Gencar Lakukan Patroli C3

Rabu, 14 April 2021 15:17
Polsek Kuala Kampar Beri Teguran Pelanggar Prokes

Rabu, 14 April 2021 15:08
Polsek Teluk Meranti dan TNI Gelar Operasi Yustisi Lintas Bono

Rabu, 14 April 2021 15:00
Pulau Bengkalis Sulit BBM, Pemkab Bengkalis Warning SPBU

Rabu, 14 April 2021 10:19
Awal Ramadan, Masyarakat Pulau Bengkalis Hajab Cari Bensin

Rabu, 14 April 2021 09:44
Ramadan, Pemkab Gratiskan Air Bersih ke Masjid dan Musala

Rabu, 14 April 2021 09:43
Trauma Angin Kencang, Warga Kuansing Cemas Setiap Hujan Deras

Selasa, 13 April 2021 23:23
Gedung KUA Rambah Berbasis SBSN Diresmikan, 2 KUA Lagi Menyusul Dibangun



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 21 Januari 2021 15:22
Jadi Kurir Wakaf, Relawan Pekanbaru Charity Bagikan Buku Sirah Nabawiyah dan Al Quran ke Pelosok Indragiri Hilir

Lima relawan Pekanbaru Charity mengantarkan sejumlah Al Quran, buku Sirah Nabawiyah dan lainnya ke tiga desa di pelosok Kabupaten Indragiri Hilir. Berikut ini tulisannya.

riauterkini-Pekanbaru-Hari masih pagi saat kami menaiki perahu motor itu. Riak air permukaan sungai membuat perahu itu berayun-ayun. Bagi warga sekitar, itu biasa. Namun bagi kami yang biasa naik turun mobil atau sepeda motor ini, itu cukup menantang. Bagaimana kalau tiba-tiba perahu ini oleng dan kami berjatuhan ke dalam sungai yang dalam ini? Dimana letak pelampung?

Sekitar pukul delapan saat itu. Karena masih dalam masa pandemi, tidak ada anak-anak yang berlalu lalang pergi sekolah. Suasana Desa Teluk Pinang, Indragiri Hilir, Senin (4/1/2021) pagi itu cukup tenang. Matahari sudah lama terbit, tapi ada awan dimana-mana. Jadi cahayanya tidak terlalu terik. Seharusnya kami naik dari dermaga resmi, namun karena ada kapal lain yang lebih besar sedang merapat, maka perahu kecil kami mengalah. Mengambil halaman belakang rumah warga, perahu itu merapat dan kami naik dari sana.

Halaman belakang rumah warga di pinggiran sungai itu, langsung berhadapan dengan air. Rata-rata rumah di sana memang seperti itu. Jadi rombongan kami (terdiri dari lima orang), masuk ke dalam rumah warga setempat, lalu terus ke bagian belakangnya dan akhirnya turun ke perahu. “Ini rumah siapa?” tanyaku sedikit sungkan.




“Tak apa, Bu, ini rumah makcik saya,” jawab Muslim, salah seorang relawan Pekanbaru Charity. Kedua tangannya penuh berisi barang-barang kami.

Tuan rumah –dua wanita enam puluhan- dengan ramah mempersilakan kami lewat. Bahkan juga menawarkan untuk ke toilet dulu bila perlu, sebelum bertolak ke desa-desa terpencil dengan perahu motor yang kami sewa itu.

Muslim menjelaskan lagi, hampir semua warga desa itu punya hubungan kekerabatan. Kalau bukan makcik (bibi), mungkin pakcik (paman), sepupu, kemenakan, atau kerabat lainnya.

Kini semua sudah naik ke perahu. Di bangku depan, ada Habibah seorang santri Pondok Pesantren Imam Ibnu Katsir Pekanbaru dan Gibran, seorang sarjana Ilmu Kebidanan Universitas Riau yang baru saja lulus. Di tengah, ada saya sendiri. Di belakang, ada Muslim yang merupakan teman sekelas Gibran dan Lexie Wahyuni, Fouder Pekanbaru Charity yang memimpin misi ini.

Oh ya, di bagian paling depan, ada 18 kotak berisi buku-buku donasi untuk tiga desa yang akan kami kunjungi nanti. Segera.

Mesin mulai dihidupkan. Lalu perahu mulai bergerak. Kami (kecuali Muslim) menahan napas. Ini kali pertama bagi kami naik speedboat seperti ini. Sungguh menantang. Tak ada pelampung yang disiapkan kapten kapal. Dan saya mulai mengingat-ingat pelajaran berenang di kolam yang sudah lama tidak saya praktikkan (mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan).

Lalu perahu motor itu mulai bergerak menyusuri Sungai Gaung Anak Serka. Tujuan pertama kami adalah Desa Bantayan. Speedboat itu awalnya bergerak tidak terlalu kencang. Kami yang awam, jelas tak paham. Setelah beberapa ratus meter melaju, kapten mengarahkan perahu ke pinggir sungai lalu mematikan mesin. Dia sepertinya mengganti baling-baling dengan yang lebih besar. Sekitar sepuluh menit kemudian, speedboat itu melaju sebagaimana seharusnya. Kencang.

Kami menikmati suasana pagi di atas sungai yang cukup lebar itu. Sesekali perahu berpapasan dengan perahu lain. Rata-rata mereka melaju kencang. Kapten kami memilih menjauh karena gelombang air dari kapal yang lewat itu akan mempengaruhi perahu kecil kami. Terguncang-guncang bahkan sampai mengangkat bagian depan perahu.

Kapten yang telah sangat berpengalaman, dengan sigap memilih jalan tikus di sela-sela pohon bakau, pedada dan nipah. Daerah pesisir Indragiri Hilir ini memang kaya dengan tanaman air ini. Dipilihnya jalan tikus tak lain untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh menuju Desa Bantayan di Kecamatan Mandah.

Setelah melewati sela-sela tumbuhan air itu, perahu kami muncul di sungai lainnya, yaitu Sungai Gaung. Setelah menyusurinya, kami sampai di Desa Tokolan. Desa ini, sebagian rumah penduduknya dibangun benar-benar di atas air. Di atas tiang-tiang tinggi, berdinding dan berlantai papan. Sebagian ada yang menggunakan dinding dari asbes. Dari kejauhan, pemandangan ini sungguh eksotis.

Kehidupan masyarakat sedang berjalan seperti biasa. Ada yang sedang membuat arang kayu dari kayu bakau. Ada yang sedang mencuci, mandi dan memperbaiki jala.

Di Pasar Tokolan, udang segar dijual seharga Rp20 ribu perkilogram. Cukup menggiurkan bukan?




Perahu kami masuk ke Sungai Batang Tumu untuk mencapai Desa Bantayan. Di sana, Sekretaris Desa Masrah, menunggu kami di dermaga. Kami segera diarahkan ke Rumah Tahfidz Asy Syifa untuk bertemu warga, besar kecil, laki-laki dan perempuan.

Semua tampak antusias. Kamipun demikian. Setelah pembukaan, Lexie tampil untuk menerangkan misi kami pagi itu. Yaitu menyalurkan waqaf Al Quran dan buku Syirah Nabawiyah untuk masyarakat.

“Buku ini diwaqafkan oleh para donatur yang bahkan kami tidak kenal. Mereka peduli pada pendidikan anak-anak muslim Indonesia dan berdaya upaya untuk mengumpulkan donasi agar dapat membeli satu jilid buku ini,” jelasnya.

Tentang Spirit Nabawiyah Community
Ya, buku-buku berkualitas itu diadakan oleh Spirit Nabawiyah Community. Komunitas yang beranggotakan lebih dari dua ribu orang dan tersebar di seluruh Indonesia itu, mengumpulkan donasi untuk membeli buku-buku Siroh Nabawiyah yang diterbitkan oleh Sygma Daya Insani. Salah satu misinya adalah fokus menebarkan kisah-kisah keteladanan pada keluarga-keluarga muslim dunia.

“Target SNC di tahun 2020 kemarin, terbentuk 200 titik Rumah Peradaban SNC. Alhmadulillah. Sudah berdiri lebih dari 200 titik Rumah Peradaban di seluruh Indonesia,” kata Mardanuki yang biasa dipanggil Nuki, salah seorang Pejuang Wakaf Buku Siroh di SNC.




Untuk mendapatkan satu paket buku siroh yang dikemas sangat ekskusif itu, komunitas ini mengumpulkan dulu donasi dari para anggotanya dan donatur lainnya. Setelah terkumpul, barulah bukunya diantarkan oleh para kurir wakaf, demikian mereka menyebutkan.

Jadi, buku yang saat ini berada di tangan anak-anak Desa Bantayan, bisa jadi bersumber dari donasi ratusan orang dari seluruh Indonesia yang tidak saling kenal. Mereka bergerak semata karena Allah yang menggerakkan hati mereka untuk membantu agar peradaban Islam kembali bangkit.

Saat misi di desa Bantayan selesai, maka komunitas ini akan mengumpulkan donasi lagi untuk desa-desa lainnya yang belum memiliki buku ini. Target lainnya, nanti setiap desa akan memiliki minimal satu buku siroh. Dengan demikian, tidak ada lagi keluarga muslim yang tidak kenal kepribadian dan keteladanan nabinya, Muhammad SAW.

Sejalan dengan Misi Kades
Kepala Desa Bantayan Maslan menyambut baik kedatangan Pekanbaru Charity. Enam kardus berisi buku pelajaran, sirah nabawiyah, iman dan Islam itu, akan sangat membantunya untuk mewujudkan taman bacaan bagi warganya.

“Ini sejalan dengan misi saya. Tahun ini, saya memang ingin membangun taman bacaan untuk warga. Keberadaan buku-buku ini akan semakin melengkapi koleksi bacaan kami,” katanya.

Untuk mewujudkan taman bacaan itu, Kades Bantayan telah menyiapkan lokasi. Demikian pula anggarannya, telah disetujui Dewan. Diharapkan, tahun ini taman bacaan itu sudah terealisasi.

Lexie menambahkan, dengan adanya buku ini, diharapkan anak-anak akan semakin kenal siapa tuhannya, nabinya dan agamanya. “Jangan katakan minat baca anak-anak kita rendah, kalau kita sendiri tidak pernah membuat mereka tertarik untuk membaca. Atau kita tak membiarkan mereka mengakses buku-buku,” katanya.

Untuk itulah, peran serta masyarakat dan terutama orang tua, sangat diharapkan untuk menarik minat baca anak-anak. Orang dewasa bisa membacakan dulu buku-buku yang dicetak sangat eksklusif itu sehingga anak-anak menjadi tertarik.

Lexie menawarkan bantuan untuk mendaftarkan taman bacaan itu ke Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Inhil dan FTBM Riau. Dengan demikian, koleksi bacaannya akan semakin bertambah dan variatif dari waktu ke waktu.

Serasa di Kampung Sendiri
Dari Bantayan, kami menuju Desa Mengkaban, Kecamatan Mandah. Ini kampung halaman Muslim, rekan kami. Air sedang surut. Kami menambatkan perahu di salah satu tiang dermaga beranak tangga lumayan tinggi. Lalu dengan hati-hati merangkak naik ke darat. Di garase terlihat ada perahu sedang parkir. Menunggu muatan kelapa untuk dijual kepada pengepul.

Kelapa-kelapa itu sebagian dijual langsung ke pembeli di luar negeri, seperti dari Malaysia atau Singapura. Sebagian petani lebih senang menjual kelapanya ke luar negeri karena harga lebih tinggi. Transaksi antara petani dengan pengepul berlangsung di atas sungai, lanngsung dari kapal ke kapal.




Warga telah menunggu di rumah panggung yang sering digunakan untuk musyawarah desa. Di sinipun, kami membagikan enam kardus berisi paket buku sama seperti di desa sebelumnya. Anak-anak dan warga tampak antusias. Wajah-wajah polos mereka menghilangkan lelah kami.

Usai serah terima dengan Mistar, Sang Kepada Dusun, keluarga Muslim menjamu kami makan siang. Semua terasa begitu segar dan nikmat.

Keramahan masyarakat juga menghangatkan hati kami. Muslim mengatakan, hampir semua warga di dusun itu, merupakan kerabatnya. Begitulah kehidupan di kampung, hampir semua orang merupakan saudara.

Di sana kami berkenalan dengan seorang guru desa bernama Ibu Ainon. Seorang guru honor yang selama pandemi ini, mendedikasikan diri dan waktunya untuk mengajarkan anak-anak mengaji.

“Saya mengajarkan anak-anak yang masih kecil-kecil, agar mengenal huruf hijaiyah. Begitu mereka lancar, saya arahkan untuk mengaji ke masjid dengan guru yang lebih bagus. Bagian saya biar yang paling dasar saja,” katanya.

Untuk jasa mengajar itu, ia tak meminta bayaran apapun. Ibu Ainon mengatakan, ia melakukannya, sembari mengajarkan anaknya sendiri.

Berbilang tahun ia menjadi guru honor di sekolah dasar di dekat situ. Kehidupannya yang bersahaja, berlangsung di desa itu dari hari ke hari.

Kira-kira dua pekan setelah kedatangan kami, Ibu Ainon mengirimkan kabar yang sangat menggembirakan. Ia mengatakan, kini anak-anak Mengkaban jadi gemar membaca. Bahkan mereka sudah bisa dengan cepat menyusun puzzle yang ikut serta kami bagikan. Alhamdulillah..

Juga ada penyesalan, karena yang kami berikan itu tidaklah seberapa. Berharap, suatu hari kelak, bisa kembali ke sana membawa lebih banyak buku, lebih beraneka ragam, sehingga tak hanya anak-anak, bahkan ibu-ibupun bisa ikut membaca. Semoga..

Kami pergi dari Mengaban saat pasang mulai naik. Tali kapal yang tadi kami tambatkan di tiang dermaga, telah lama tenggelam. Satu anak tangga berbawahpun, sudah hilang di dalam air.

Warga melepas kami dengan lambaian tangan dan senyum di bibir. Serasa kami baru saja meninggalkan keluarga di kampung halaman sendiri. Padahal baru beberapa jam berkenalan. Hati terasa hangat dan tiba-tiba, sudah rindu ingin kembali ke sana..

Desa terakhir yang kami kunjungi adalah Kuala Gaung, tepatnya di Dusun Kantang Jaya. Sama seperti desa-desa sebelumnya, kedatangan kamipun disambut hangat, baik oleh anak-anak, ibu-ibu, maupun Kadesnya H Syahril, SE Msi.




Ia sangat mengapresiasi kedatangan para relawan. Berharap dalam waktu dekat dusun itu punya perpustakaan dan koleksinya bertambah. Ia juga mengakui, sebagai daerah terpencil, warganya memang sedikit kesulitan mendapatkan bahan bacaan.

Kabar terakhir dari Dusun Kantang Jaya, kami dapat beberapa hari yang lalu. Dusun itu terendam banjir hingga sepaha orang dewasa.

Usai dari sana, kami kembali ke Teluk Pinang. Air pasang masih terus naik. Begitu derasnya, hingga dapat terlihat dengan jelas dari kapal. Beberapa ranting dan buah tampak hanyut ke hulu. Kami yang biasa melihat aspal ini, tentulah terpesona.

Perahu kami kembali melalui jalan-jalan tikus di sela-sela pohon nira, bakau dan pedada. Berharap melihat buaya, tapi tak ada yang berani bicara. Belakangan kami tahu, warga desapun enggan membicarakan binatang satu itu.

Kami tiba di Teluk Pinang sekira pukul lima sore. Air pasang telah membuat dermaga-dermaga baru bermunculan. Kami tidak turun di tempat kami naik tadi pagi, tapi di pinggir tanah lapang, mungkin tempat anak-anak bermain bola atau layangan.

Kami akan menginap semalam lagi di rumah pasangan suami istri Fikri dan Ani. Fikri merupakan sepupu Muslim. Ia bekerja sebagai Bendahara Desa Kuala Gaung.

Tuntas sudah tugas kami. Sebelas jam perjalanan darat dari pagi hingga malam yang kami jalani sehari sebelumnya, sudah kami lupakan lelahnya. Berganti dengan rasa bahagia, haru dan syukur, karena bisa bertemu dengan anak-anak muslim nun di pelosok Indragiri Hilir dan warganya yang sangat bersahaja. Juga karena kerja sebagai kurir wakaf telah kami tunaikan. Berharap, akan ada pertemuan kedua dan ketiga, dengan lebih banyak buku dan Quran. Dan kisah-kisah para sahabat Nabi.

“Mungkin tak hanya buku, Uni,” kata Lexie padaku. ”Mungkin juga sembako dan pakaian. Semoga Allah mudahkan, aamiin.”

Aamiin...

(fitri mayani)

Loading...


Berita Sosial lainnya..........
- Personel Polsek Pangkalan Kerinci Sasar Tempat Rawan Kriminalitas
- Polsek Kerumutan Ingatkan Warga Tetap Patuhi Prokes Selama Ramadhan
- Tekan Kriminalitas, Polsek Pangkalan Lesung Gencar Lakukan Patroli C3
- Polsek Kuala Kampar Beri Teguran Pelanggar Prokes
- Polsek Teluk Meranti dan TNI Gelar Operasi Yustisi Lintas Bono
- Pulau Bengkalis Sulit BBM, Pemkab Bengkalis Warning SPBU
- Awal Ramadan, Masyarakat Pulau Bengkalis Hajab Cari Bensin
- Ramadan, Pemkab Gratiskan Air Bersih ke Masjid dan Musala
- Gedung KUA Rambah Berbasis SBSN Diresmikan, 2 KUA Lagi Menyusul Dibangun
- Wilayah Kecil, Mandau Tak Masuk Hitungan Program Pasar Ramadhan Disdagperind
- 10 Samsat Baru di Provinsi Riau Siap Layani Masyarakat Awal Tahun Ini
- Pemkab Bengkalis Usulkan Jembatan Pulau Bengkalis dan Rupat ke Jokowi
- Ramadhan Hari Pertama, Harga Cabe dan Ayam Ras Naik
- Bupati Bengkalis Resmikan Dua UPT Puskesmas
- Polsubsektor Pelalawan Sosialisasi Saber Pungli ke ASN
- Kapolsek Bandar Sei Kijang Pimpin Operasi Yustisi
- Nadhira Napoleon Pekanbaru Raih Penghargaan Indonesia Innovative Business Award Winner 2021
- Polisi Pantau Prokes Warga di Pasar Tradisional Ukui
- Polsek Langgam Turut Berupaya Jaga Ketahanan Pangan
- Penegakan Prokes di Simpang Empat Beringin Kembali Digelar


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com