Riauterkini-JAKARTA– Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan hari ini meluncurkan Fase Operasional Ke-8 Program Hibah Kecil Global Environment Facility (GEF SGP-OP8) untuk mendukung inisiatif pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat di Indonesia.
GEF SGP akan memberikan hibah hingga sebesar USD 75.000 (sekitar Rp1,2 miliar) kepada masing-masing dari setidaknya 143 organisasi masyarakat dan organisasi masyarakat sipil di Indonesia, disertai dengan bantuan teknis dari FAO, selama periode 2026–2029.
Dengan memadukan pengetahuan dan kepemimpinan masyarakat serta keahlian teknis, program ini akan mendukung solusi yang dipimpin secara lokal untuk meningkatkan skala inisiatif pengelolaan lanskap dari pegunungan hingga pesisir (ridge-to-reef).
Inisiatif ini mencakup konservasi keanekaragaman hayati, ketahanan pangan, energi rendah karbon, pengelolaan bahan kimia dan limbah, solusi perkotaan berkelanjutan, inklusi sosial, dan mata pencaharian masyarakat.
Inklusivitas sebagai prasyarat
Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial (GEDSI) merupakan komponen kunci dalam proses seleksi penerima hibah. Selama periode 2026-2029, GEF SGP OP8 menargetkan manfaat bagi 14.000 orang; termasuk lebih dari 7.200 perempuan, 2.300 kaum muda, dan 2.300 penyandang disabilitas, tanpa meninggalkan siapa pun, tanpa terkecuali.
”Di desa, kita sering melihat perempuan sebagai inisiator program. Dampak perubahan iklim juga paling besar dirasakan oleh perempuan. Tapi mereka punya kesenjangan akses ke keuangan, lahan, air, dan layanan dasar untuk menjalankam program mereka. Ini kesenjangan yang harus kita isi,” ujar Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan saat membuka lokakarya awal program di Jakarta pada Kamis (8/10).
“Mari kita jadikan GEF SGP Indonesia OP8 lebih dari sekadar program pendanaan. Mari kita jadikan program ini sebuah gerakan yang memberdayakan masyarakat, memulihkan alam, memperkuat kemitraan, dan mengubah inovasi lokal menjadi manfaat lingkungan global yang berkelanjutan,” ujar Erik Teguh Primiantoro, Kooridnator Operasional GEF Indonesia.
“Karena hibah kecil dapat menginspirasi perubahan besar, dan perubahan yang berkelanjutan bermula dari masyarakat yang berdaya,” tambahnya.
Area prioritas pendanaan
Pada fase baru ini, program akan memprioritaskan lima lanskap darat dan laut untuk melestarikan keanekaragaman hayati, mengatasi tantangan lingkungan dan mata pencaharian, serta memperkuat aksi yang dipimpin oleh masyarakat.
Kelima area tersebut meliputi Kabupaten Buleleng di Provinsi Bali; Kabupaten Lombok Timur di Provinsi Nusa Tenggara Barat; Zona Penyangga Pesisir Barat Taman Nasional Komodo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur; daerah aliran sungai (DAS) Krueng Peusangan bagian hulu di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh; dan kawasan hulu Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
“Fokus pada lima lanskap daratan dan perairan prioritas ini, serta penerapan pendekatan dari pegunungan ke pesisir, mengakui adanya keterkaitan erat antara ekosistem yang sehat, sistem pangan, dan mata pencaharian. FAO menghadirkan keahlian teknisnya di bidang pertanian, perikanan, kehutanan, sistem pangan, dan aksi iklim untuk melengkapi kepemimpinan yang digerakkan oleh masyarakat ini,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste.
“Ambisi kami adalah membantu mengubah gagasan menjanjikan yang digerakkan oleh masyarakat menjadi investasi yang praktis, layak secara teknis, dan berkelanjutan, dengan memadukan pengetahuan lokal yang mengakar kuat serta keunggulan teknis,” tambahnya.
Pengajuan proposal akan dibuka pada bulan November tahun ini. Guna memastikan proses seleksi dan pelaksanaan hibah yang imparsial, inklusif, dan transparan, FAO dan YBUL telah menunjuk 11 anggota Komite Pengarah Nasional GEF-SGP-OP8 yang mewakili masyarakat sipil, pemerintah Indonesia, dan sektor swasta.
"Perubahan yang berkelanjutan sering kali bermula dari hal-hal kecil, dari tempat-tempat yang mungkin tidak selalu mendapat perhatian, dan dari komunitas yang benar-benar peduli terhadap lingkungan mereka. Kita perlu memastikan masyarakat dapat mengakses sumber daya dan dana yang mampu mengubah gagasan mereka menjadi solusi nyata dan berkelanjutan," ujar Yani Witjaksono, Direktur Eksekutif Yayasan Bina Usaha Lingkungan.
Melalui dukungan pendanaan dan teknis dari GEF SGP, insiatif yang digerakkan oleh masyarakat diharapkan dapat membantu Indonesia dalam memenuhi komitmen lingkungan nasional maupun globalnya, sekaligus menjawab berbagai isu lintas sektor seperti peningkatan mata pencaharian, pengentasan kemiskinan, inklusi sosial, kesetaraan gender, serta pemberdayaan komunitas rentan dan orang muda.
***(Rls)