Srek srek srek ! Terdengar lirih tidak kencang, dari gesekan ringan tangan beberapa orang anak yang duduk di teras kelas dan tampak biasa.
Pagi menjelang siang, Rabu (9/9/26), sekilas terpancar kegigihan dari wajah berbalut tawa ringan dari anak berumur belasan tahun sedang menggosok kayu dengan amplas.
"Seru, buat tempat HP, tempat buku dan rasanya senang," jawab terbata-bata dari seorang anak itu.
Di belakang tempat duduknya, sebuah ruang kerja mirip bengkel yang sederhana di Sekolah Luar Biasa (SLB) Bumi Manggalo, potongan-potongan kayu bukan sekadar bahan yang menunggu untuk dibentuk. Dan, beberapa mesin yang sudah siap dinyalakan.
Ternyata peralatan dan perlengkapan itu disediakan khusus untuk anak yang berkebutuhan khusus (ABK) yang belajar di sekolah yang terletak di Jalan Swadaya Desa Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau tersebut. Material itu perlahan menjelma menjadi tempat telepon genggam, lampu belajar, tempat tisu hingga rak buku.
Setiap guratan, potongan dan bentuk yang dihasilkan menyimpan cerita tentang kesabaran, keberanian mencoba, serta proses panjang untuk belajar mandiri.
Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi anak istimewa di SLB Bumi Manggalo, setiap produk merupakan pencapaian yang lahir dari latihan berulang, pendampingan guru, dan kesempatan untuk membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah kemampuan.
Belasan produk kriya kayu telah berhasil dibuat. Karya-karya tersebut menjadi bukti bahwa di balik kebutuhan khusus yang dimiliki para siswa, tersimpan potensi yang dapat terus dikembangkan apabila mendapat ruang, perhatian, dan pendampingan yang tepat.
Kepala SLB Bumi Manggalo, Aulia Nur Izzah, S.Pd, Gr, menuturkan bahwa kriya kayu menjadi salah satu program keterampilan vokasional yang kini dikembangkan di sekolah tersebut.
Para siswa tidak hanya diperkenalkan pada bahan dan alat, tetapi juga dibimbing melalui tahapan pembuatan produk, mulai dari pembentukan hingga penyelesaian akhir atau finishing.
Produk yang telah dihasilkan antara lain dudukan telepon genggam, lampu belajar, tempat tisu dan rak buku. Prosesnya dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan serta kebutuhan masing-masing siswa.
“Anak-anak terlebih dahulu diberikan contoh pekerjaan yang sebenarnya, kemudian mereka mencoba dengan tetap dipantau dan didampingi,” ujar Aulia.
Belajarnya dengan Cara Berbeda
Di atas lahan sekitar 18.000 meter persegi, keberhasilan pembelajaran SLB ini tidak selalu diukur dari seberapa cepat seorang siswa menyelesaikan pekerjaan. Ada proses yang lebih penting, yakni bagaimana mereka memahami instruksi, mengenali alat dan bahan, membangun kebiasaan, serta perlahan mampu mengerjakan sesuatu dengan lebih mandiri.
Aulia menjelaskan, pembinaan kriya kayu saat ini melibatkan empat siswa, terdiri dari tiga siswa tunagrahita dan satu siswa tunarungu.
Pendekatan pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik setiap siswa. Bagi siswa tunagrahita, instruksi perlu diberikan secara berulang agar lebih mudah dipahami. Sementara itu, siswa tunarungu dapat lebih mudah mengikuti arahan tertentu melalui metode komunikasi dan demonstrasi yang sesuai.
Tidak ada ukuran waktu yang mutlak untuk setiap anak. Proses belajar dapat berlangsung selama berbulan-bulan, bergantung pada kemampuan, tingkat kesulitan produk, serta perkembangan masing-masing siswa.
Guru keterampilan SLB Bumi Manggalo, Mayani, S.Pd, Gr, memahami betul bahwa kesabaran merupakan bagian penting dalam mendampingi anak-anak tersebut.
Sebelum memulai satu produk, guru terlebih dahulu mempertimbangkan tingkat kesulitan dan mendiskusikan tahapan pengerjaannya. Penggunaan mesin maupun peralatan kerja dilakukan dengan pendampingan untuk memastikan siswa dapat berlatih sesuai kemampuan dan prosedur keselamatan.
“Targetnya tergantung pada produk yang dibuat dan tingkat kesulitannya. Gantungan kunci, misalnya, bisa ditargetkan selesai dalam enam bulan, sedangkan dudukan HP ditargetkan tiga bulan, tetapi ternyata dapat diselesaikan lebih cepat,” jelas Mayani.
Kemajuan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki ritme belajar sendiri. Ketika diberikan kesempatan dan metode yang tepat, kemampuan mereka dapat berkembang melampaui perkiraan awal.
Bukan Hanya Produk, tetapi Kemandirian
Bagi para guru, kriya kayu bukan semata-mata kegiatan menghasilkan barang. Program ini menjadi bagian dari pendidikan kecakapan hidup yang diharapkan berguna ketika siswa kelak berada di tengah masyarakat.
Mayani mengatakan, guru SLB menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan pencapaian kurikulum dengan kebutuhan pembelajaran khusus setiap anak.
Kemampuan mengenali benda, menyebutkan nama barang, memahami instruksi, dan menjalankan kebiasaan sehari-hari merupakan bagian penting dari proses pendidikan.
Hal-hal sederhana yang kerap dianggap mudah bagi anak pada umumnya dapat membutuhkan waktu dan pendampingan lebih panjang bagi sebagian siswa berkebutuhan khusus.
Karena itu, selain keterampilan membuat produk, siswa juga dibimbing untuk membangun kemandirian dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mengenali pakaian, jilbab, topi dan sepatu hingga membiasakan diri merawat kebutuhan pribadi.
“Yang paling sulit bagi kami sebagai guru adalah mencapai target pembelajaran sekaligus mendampingi anak melalui program khususnya. Kemandirian itulah yang harus terus kita tonjolkan,” ungkap Mayani.
Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, bukan sekadar persoalan menyelesaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan merupakan perjalanan panjang untuk membantu setiap anak mengenali kemampuannya dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Di ruang keterampilan itu, sepotong kayu yang awalnya belum berbentuk dapat menjadi media belajar tentang ketekunan, tanggung jawab, dan rasa percaya diri.
Rizki dan Mimpi Menjadi Tentara
Di antara siswa yang mengikuti kegiatan tersebut, ada Rizki Alfaro Hutabarat, siswa Tunagrahita berusia 17 tahun yang kini duduk di kelas VI SD SLB.
Rizki mengaku seru dan senang bersekolah di SLB Bumi Manggalo. Ia mengenal kegiatan membuat produk seperti tempat telepon genggam dan tempat buku sebagai bagian dari pengalaman belajarnya.
Ketika ditanya mengenai perasaannya selama belajar, Rizki menjawab singkat, tetapi penuh antusias.
“Seru, senang,” ujarnya.
Di balik kesederhanaan jawabannya, ada mimpi yang tak kalah besar. Rizki bercita-cita menjadi seorang tentara.
Mimpi itu menjadi potret bahwa anak berkebutuhan khusus juga memiliki harapan, keinginan dan masa depan yang ingin mereka raih. Tugas lingkungan di sekitarnya adalah memberikan kesempatan agar mereka dapat terus belajar, berkembang, dan menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri.
PHR Melihat Potensi Lokal
Potensi yang tumbuh di SLB Bumi Manggalo turut menarik perhatian PT. Pertamina Hulu Rokan (PHR).
Melalui Program Community Involvement and Development (CID), PHR Zona Rokan memilih sekolah tersebut sebagai salah satu sasaran pendampingan karena memiliki potensi lokal yang dapat dikembangkan, khususnya kriya kayu dan keterampilan menjahit.
Manager CID PHR, Iwan Ridwan Faizal mengatakan, bahwa langkah awal dilakukan melalui asesmen serta diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) bersama pihak sekolah, guru dan siswa.
Proses tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan sekaligus menentukan bentuk pelatihan dan pendampingan yang sesuai dengan kemampuan para siswa.
“Ketertarikan kami karena SLB ini memiliki potensi lokal yang bisa dikembangkan. Dari situ, kami melakukan asesmen dan FGD bersama pihak sekolah, guru, serta siswa untuk melihat pendampingan dan pelatihan yang dibutuhkan,” ujar Iwan.
Pada periode 2025–2026, PHR memfokuskan program pada pengembangan keterampilan melalui pelatihan dan pendampingan. Siswa diperkenalkan pada proses pembuatan produk, penggunaan peralatan, pembentukan bahan hingga tahap penyelesaian.
Dukungan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis. PHR juga berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi siswa untuk mengembangkan kegiatan produktif dan membuka peluang ekonomi pada masa mendatang.
Menurut Iwan, keberlanjutan program akan melalui sejumlah kajian dan tahapan. Evaluasi serta asesmen dilakukan setiap tahun bersama pihak sekolah untuk melihat perkembangan yang telah dicapai dan menentukan kebutuhan pendampingan berikutnya.
Tujuan akhirnya adalah mendorong para siswa agar semakin mandiri, sehingga keterampilan yang dipelajari di sekolah berpeluang diterapkan di rumah maupun dalam kegiatan produktif lainnya.
“Kami berharap anak-anak ini nantinya bisa mandiri. Mereka sudah belajar membuat kriya kayu di sekolah dan ke depan diharapkan mampu mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri,” katanya.
PHR memandang para siswa sebagai potensi yang masih dapat dikembangkan. Melalui pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan mereka diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran, tetapi dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan mereka dan keluarga.
Dari Pameran Menuju Peluang Pasar
Meski belasan produk telah dihasilkan, perjalanan SLB dikelola oleh Yayasan Bumi Manggalo masih berada pada tahap pengembangan.
Aulia mengatakan, pemasaran produk belum berjalan secara mandiri. Saat ini, pihak sekolah masih merintis pengenalan karya melalui sejumlah pameran, termasuk kegiatan yang difasilitasi PHR.
Kesempatan mengikuti pameran menjadi ruang bagi siswa untuk memperlihatkan hasil kerja mereka kepada masyarakat yang lebih luas. Di saat bersamaan, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana memperkenalkan kemampuan siswa berkebutuhan khusus sekaligus membuka peluang pengembangan produk pada masa mendatang.
Aulia mengungkapkan, sekolah yang sebelumnya kesulitan mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak kini mulai merasakan adanya pendampingan yang lebih nyata.
Ia mengaku sempat tidak yakin ketika peluang bantuan kembali muncul. Pengalaman sebelumnya membuatnya berhati-hati untuk berharap terlalu jauh. Namun, setelah melalui proses komunikasi, pendampingan dan pelatihan, ia melihat adanya dukungan yang dapat dimanfaatkan oleh guru maupun siswa.
Harapannya, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan awal. Ia ingin keterampilan yang telah dipelajari terus berkembang, produk semakin beragam, dan kesempatan pemasaran semakin terbuka.
Bagi sekolah, keberhasilan bukan hanya ketika sebuah produk selesai dibuat. Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika siswa mampu mengembangkan keterampilan, memperoleh pengakuan atas hasil karyanya, dan memiliki peluang untuk menghasilkan pendapatan.
Asa dari Energi Tersembunyi
Kisah SLB Bumi Manggalo memperlihatkan bahwa potensi tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Ada kemampuan yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk tumbuh. Ada pula keberhasilan yang hanya dapat dicapai melalui kesabaran, pengulangan dan dukungan yang konsisten.
Di sekolah ini, guru terus mendampingi siswa melewati proses belajar yang berbeda-beda. Para siswa berusaha mengenali bahan, memahami instruksi, menggunakan peralatan dengan pendampingan, serta menyelesaikan produk satu demi satu.
Sementara itu, dukungan PHR membuka ruang bagi keterampilan tersebut untuk berkembang melalui pelatihan, pendampingan dan pengenalan karya kepada masyarakat.
Namun, perjalanan menuju kemandirian masih membutuhkan kesinambungan. Penguatan keterampilan, keselamatan kerja, peningkatan kualitas produk, akses pemasaran dan pendampingan lanjutan menjadi bagian penting agar hasil pembelajaran dapat memberikan manfaat nyata.
Di balik keterbatasan yang terlihat, sesungguhnya tersimpan kekuatan yang tidak selalu tampak. Energi itu tumbuh dari ketulusan guru, kegigihan siswa, dukungan keluarga dan kesempatan yang diberikan oleh lingkungan.
SLB bukan sekadar tempat belajar bagi anak berkebutuhan khusus. Ia merupakan ruang tempat kemampuan dikenali, kepercayaan diri dibangun, dan harapan dirawat.
Dari potongan-potongan kayu yang dibentuk dengan penuh kesabaran, siswa SLB Bumi Manggalo sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah produk. Adanya kesempatan untuk mandiri, dihargai melalui karya, dan menatap masa depan dengan keyakinan.
Sebab, setiap anak memiliki potensi untuk bersinar. Mereka membutuhkan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan, pendampingan, dan kepercayaan bahwa mereka juga mampu berkarya.***(dik)