Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 23
 
 
Sepak Rago Permainan Tradisional Rakyat Masih Lestari di Kenegerian Kopah, Kuansing

Riauterkini - TELUKKUANTAN - Permainan Sepak rago tinggi merupakan jenis permainan tradisional yang telah dimainkan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang khususnya yang berasal dari kenegerian Kopah Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.

Abdul Rauf, Ninik mamak Kenegerian Kopah, menuturkan dalam sejarah perkembangannya awal tradisi ini secara turun-temurun terus diwarisi sampai pada generasi sekarang. Latar belakang permainan sepak rago tinggi menurutnya dilandasi adanya sebuah kesepakatan dalam musyawarah masyarakat adat kenegerian Kopah pada masa dahulu, hal tersebut dituturkan.

Permainan sepak rago tinggi diperkirakan sudah ada sejak tahun 1833 lalu Bahkan beberapa sumber ada yang mengatakan sepak rago tinggi berasal dari kesultanan Malaka sekitar abad 15 Masehi, waktu itu sepak rago tinggi dimainkan khusus oleh keluarga kerajaan saja, ada juga sejarahnya sepak rago tinggi merupakan permainan melawan kejahatan yang diabaratkan bola rago tinggi adalah mata setan.

Namun saat ini permainan sepak rago tinggi sudah bisa dimainkan kalangan masyarakat luas dari kelompok usia yang beragam mulai dari orang tua hingga anak-anak sekalipun.

Dalam prakteknya, permainan sepak rago tinggi berbeda dengan sepak takraw sebab sepak rago tinggi dilakukan dalam sebuah garis lingkaran dikelilingi daun kelapa, yang dibagian atasnya tepat di tengah-tengah garis lingkaran ini diletakkan sebuah payung dengan posisi terbalik. Maka payung berfungsi sebagai sasaran bola rago tinggi, atau tempat memasukkan bola rago tinggi.

Sepak rago tinggi dahulunya dilakukan dengan sistim tim namun saat ini tidak berlaku lagi, setiap permainan biasanya terdiri beberapa orang, sebelum permainan sepak rago tinggi dimulai para pemain wajib untuk bersuci dengan mengambil wudhu, setelah itu pemain baru memasuki gelanggang/lapangan. Pemain segera melempar bola rago tinggi kepada seorang pemain, menyepak pertama kali disebut sumandan.

Pemain penerima bola rago akan mengambil bola rago tinggi dengan kaki kanannya dan gerakannya menyerupai gerakan silat, usai bola rago disepak sumandan dilanjutkan lagi pemain kedua, pemain penerima bola berikunya disebut dengan tunangan.

Posisi antara pemain saling berhadapan para tunangan akan berusaha memasukkan bola kepayung yang tingginya bisa mencapai 10-15 Meter dari permukaan tanah, selain itu tunangan juga harus selalu berusaha memainkan bola supaya bola selalu berada di udara dan sedapat mungkin jangan sampai jatuh.

Aturan permainan dengan membentuk lingkaran, pemain rago tinggi terdiri 7 (tujuh) orang sampai dengan 11 (sebelas) orang dan biasanya 4 (empat) orang yang paling mahir di utus dari suku masing-masing. Didalam permainan rago tinggi tunangan menjemput bola kedalam wilayah lingkaran, ketika bola rago masih diatas udara apabila bola rago menuju tunangan maka tunangan yang mendapat bola akan berteriak atau bersuara dalam memainkan bola rago tinggi “tabiak” atau ucapan dengan “opp” atau “hauu”, beserta diikuti dengan isyarat tangan kanan menunjuk keatas sejajar dengan bola rago tinggi tersebut.

Pada saat permainan rago tinggi untuk arah jatuh bola rago harus sebelah kanan penyambut bola rago, apabila pemain jatuh atau salah satu main lelah maka pemain akan diistirahatkan, kemudian dijemput oleh dara atau anak gadis kedalam gelanggang permainan.

Pemain yang jatuh diajak duduk sambil makan sirih atau dikasih sebatang rokok yang telah disediakan oleh dara atau anak gadis yang paling cantik di kenegerian kopah, didalam permainan rago tinggi harus diiringi rarak godang (sejenis musik tradisional asli kopah dan ditambah dengan nada ogung godang, dengan pukulan sesekali.

Pakaian yang dikenakan dalam permainan sepak rago, baik sumandan dan tunangan sama yakni baju adat melayu lengkap lapisan songket dan pakai peci dikepala. Permainan ini mengandung unsur antara lain; Pertama, menjalin silaturami yang sangat kental antar pemain. Kedua, ajaran budi yang sangat tinggi. Ketiga, bersyukur pada setiap keadaan dan menjalin kerjasama serta kompetisi yang sehat didalam masyarakat.

Ditengah-tengah saat permainan, bila yang bermain rago kebetulan masih bujangan maka pemain tersebut akan dipinjamkan songket goroon (pacar). Namun bila pemainnya telah berkeluarga, maka para istri diharuskan membawa dulang atau talam yang diisi makanan nasi beserta lauk pauk atau bisa juga buah-buahan hasil kebun sendiri. Makanan yang disediakan dihidangkan bagi tetamu-undangan dan baru boleh dimakan bila permainan sepak rago tinggi selesai.

Tempat permainan dilakukan didepan balai adat atau rumah godang yang ada di kenegerian Kopah, atau di lapangan terbuka yang nantinya akan disaksikan oleh banyak orang. bola rago terbuat dari rotan yang dibuat khusus, caranya; rotan terlebih dahuli direndam kedalam air, kemudian dibelah-belah kecil menjadi 12 buah.

Minimal Panjang rotan 2 meter, bola rago lebih kecil dari bola takraw, ukuran lingkaran bola rago tinggi lebih kurang 20 cm, memiliki 8 (delapan) lubang berbetuk segi lima, guna menghindari cedera setiap pemain mengenakan alas di punggung kaki terbuat dari kulit sapi dengan cara diikat memakai tali torok diikat kepergelangan kaki.

Awalnya sempat pada periode perkiraan tahun 1883 hingga 1962 silam, payung yang digunakan saat ini sebenarnya sebagai pengganti alat terdahulu sebab dinilai lebih praktis, periode sebelum menggunakan payung orang-orang dulu menciptakan sendiri payungnya dengan bahan sebatang buluah/bambu/aur yang telah dibelah setiap sisinya.

Bambu itulah fungsi payung yang sekarang sebagai penyambut bola rago tinggi, gunanya menentukan berhasil atau tidaknya memasukkan bola kedalam lingkaran aur tersebut, aur yang ujungnya telah dibentuk semacam payung ini posisinya dibalikkan agar bisa menampung bola yang setali dengan bambu sebatang.

Barulah kemudian sejak tahun 1962 hingga saat ini, masyarakat kenegerian Kopah mengganti alat yang lama tadi dengan sebuah payung.

Biasanya permainan rago tinggi ini dilakukan pada saat tertentu seperti sewaktu musim panen padi, atau hari besar agama seperti hari raya Idul fitri menjelang sore harinya. Satu merupakan keharusan yakni setiap dilangsung permainan rago tinggi, panitia wajib mengundang Penghulu, Ninik-mamak, Cerdik pandai serta Para menti atau Dubalang dari empat suku yang ada dikenegerian Kopah (Melayu, Patopang, Chaniago, Paliang).

Selain itu saat permainan selesai langsung dilakukan prosesi pemberian hadiah bagi pemain yang berhasil memasukkan bola paling banyak kedalam payung, untuk hadiah bagi pemenang biasanya setiap pemain yang menang akan mendapatkan kain sarung lengkap dengan peci.*** (rls)

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Selasa, 06 Oktober 2026

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru

Semakin Memperluas Jaringan di Sumatera, Dealer ke 51 Geely Hadir di Pekanbaru.

Galeri
Rabu, 19 Agustus 2026

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Advertorial
Jumat, 18 September 2026

Dampingi Kapolda Riau dan Pangdam TT, Bupati Inhu Tinjau Lokasi Karhutla

Bupati Inhu menerima menerima kunjungan Kapolda dan Pandang Tuanku Tambusai. Mendampingi meninjau kebakaran lahan.

Advertorial
Kamis, 10 September 2026

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School.

Galeri
Senin, 17 Agustus 2026

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Bacakan Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan ke-81 RI

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Mengikuti dan Baca Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan RI ke-81

Advertorial
Minggu, 06 September 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026.

Berita Lainnya

Selasa, 13 Oktober 2026

Aksi Mahasiswa Demo Penanganan Kabut Asap Hingga Beasiswa di Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Puji Keramahan Muklisin dan Istri, Bupati Bengkalis Apresiasi Porseni IGTK Riau di Kuansingy


Selasa, 13 Oktober 2026

Unggul Telak! Ahmad Fadli Raih 53 Suara, Resmi Terpilih Rektor Unri


Selasa, 13 Oktober 2026

FAO dan Yayasan Bina Usaha Lingkungan Luncurkan Program Hibah Kecil Global Environment Facility, Dukung Inisiatif Lokal Indonesia


Selasa, 13 Oktober 2026

Mengharukan, Tiga Warga Binaan Lapas Bengkalis Ucapkan Dua Kalimat Syahadat


Selasa, 13 Oktober 2026

Kapolres Kampar AKBP Boby Langsung Minta Lakukan Rehabilitasi Usai Melihat Kondisi Rumah Nenek Ini


Selasa, 13 Oktober 2026

Terima LAMR, Kemenbud Apresiasi HKN di Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Tak Sekadar CSR, BRK Syariah Ikut Mengukuhkan Identitas Melayu di Kampus Universitas Riau


Selasa, 13 Oktober 2026

Cegah Kemacetan dan Kecelakaan, Polsek Ukui Gelar Penjagaan Pagi


Selasa, 13 Oktober 2026

Jaga Standar Pelayanan, RSUD Arifin Achmad Kembali Ikuti Survei Akreditasi


Selasa, 13 Oktober 2026

Perkuat Sinergitas Polri dan Pers, Kapolres Bengkalis Sidak PWI


Selasa, 13 Oktober 2026

Semarak HUT ke 27 Kuansing, Plt Bupati Buka Batik Carnival


Selasa, 13 Oktober 2026

Siaga Karhutla, Kapolsek Tanah Putih Pastikan Peralatan Pemadam Berfungsi Baik


Selasa, 13 Oktober 2026

31 Tahun Citra Plaza Pekanbaru, Tutup dan Jadi Gedung Kosong


Selasa, 13 Oktober 2026

Indonesia Unjuk Inovasi Pertanian dalam Pameran Global FAO di Roma


Selasa, 13 Oktober 2026

Wali Band Hibur Belasan Ribu Pengunjung di Puncak Hari Jadi ke-27 Pelalawan


Selasa, 13 Oktober 2026

Jarak Pandang 100 Meter, Asap Pekat Ganggu Jadwal Pesawat di Bandara SSK II Pekanbaru


Senin, 12 Oktober 2026

Digerebek Bareskrim Polri, 54 Orang di MP Club Pekanbaru Positif Narkoba


Senin, 12 Oktober 2026

Diskes Riau Terima 20 Ribu Masker Medis dari BPJS Kesehatan


Senin, 12 Oktober 2026

Beli Mobil di Arista Expo 2026 Pekanbaru, Konsumen Bisa Dapat Libur Cicilan 6 Bulan dari Maybank