Riauterkini - PEKANBARU - Perjalanan panjang Basriman, seorang pengusaha muda yang kemudian memilih jalan pengabdian sebagai aparatur sipil negara (ASN) hingga dipercaya menjadi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Riau, dituangkan dalam sebuah buku autobiografi berjudul Menyisir Tantangan, Menyemai Pengabdian.
Buku yang mengisahkan perjalanan hidup, karier, tantangan dan pengabdian Basriman tersebut diluncurkan sekaligus dibedah dalam acara yang digelar di Aula UPT Pelatihan dan Penyuluhan Pertanian, Jalan Kaharuddin Nasution, Padang Marpoyan, Pekanbaru, Kamis (17/9/26).
Hadir dalam kegiatan tersebut dua mantan Gubernur Riau, H Saleh Djasit dan HM Rusli Zainal, yang masing-masing memberikan kata pengantar dalam buku tersebut. Turut hadir editor buku AZ Fachri Yasin dan Erison Maas, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Riau Boby Rachmat, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Riau Supriadi, serta sejumlah undangan lainnya.
Dalam sambutannya, Basriman mengatakan peluncuran buku tersebut bukan sekadar momentum memperkenalkan sebuah autobiografi, tetapi juga menjadi ruang untuk menengok kembali perjalanan hidup yang telah dilaluinya.
“Hari ini adalah sebuah hari yang istimewa bagi saya. Bukan semata-mata karena sebuah buku autobiografi saya diluncurkan dan sekaligus dibedah. Lebih dari itu, hari ini menjadi kesempatan bagi saya untuk menoleh ke belakang, mengingat perjalanan yang telah dilalui, sekaligus merenungkan apa yang sesungguhnya telah saya perbuat dan apa yang masih dapat saya lakukan untuk kehidupan dan masyarakat ke depan,” kata Basriman.
Menurutnya, judul Menyisir Tantangan, Menyemai Pengabdian memiliki makna yang erat dengan perjalanan hidupnya. Menyisir tantangan dimaknainya sebagai upaya menelusuri dan menganalisis berbagai persoalan yang dihadapi, sedangkan menyemai pengabdian merupakan proses menanam nilai dan manfaat yang diharapkan dapat tumbuh bagi masyarakat.
“Saya menyebutnya sebagai perjalanan hidup seorang anak kampung. Saya dilahirkan di Pasaman dan kemudian menempuh pendidikan serta menjalani sebagian besar perjalanan kehidupan di Pekanbaru,” ujarnya.
Basriman mengawali perjalanan profesionalnya dari dunia pendidikan dan usaha. Ia pernah berkecimpung sebagai pengusaha dan konsultan teknik sebelum akhirnya memilih masuk ke birokrasi pemerintahan. Perjalanan sebagai birokrat dimulai dari bawah. Salah satu fase penting dalam kariernya terjadi ketika ia mendapat kepercayaan sebagai Pelaksana Kegiatan pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Batam.
Dari pengalaman tersebut, kariernya terus berkembang. Pada 2008, ia kembali ke Riau dan dipercaya sebagai Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau. Amanah tersebut dijalaninya hingga 17 April 2014. Menghidupkan Kembali Ekspor Sayuran Riau Salah satu bagian perjalanan Basriman yang mendapat perhatian dalam buku tersebut adalah upayanya menghidupkan kembali program ekspor sayuran dataran rendah Riau ke Singapura.
Program tersebut sebelumnya sempat terhenti. Setelah dipercaya memimpin Dinas TPH Riau, Basriman berupaya mengoptimalkan kembali sarana yang tersedia, membangun komunikasi dengan pihak Singapura serta menggandeng investor. Upaya itu kemudian membuahkan hasil. Pada 2009, aktivitas ekspor sayuran hortikultura kembali berjalan.
“Saya semakin memahami satu hal: memimpin bukan sekadar membuat keputusan. Memimpin berarti bersedia memikul konsekuensi dari setiap keputusan,” ulasnya.
Ia juga menegaskan bahwa jabatan tidak boleh dipandang sekadar sebagai kewenangan. “Menjadi pejabat bukan sekadar memiliki kewenangan. Jabatan adalah amanah. Dan amanah selalu mempunyai batas waktu,” ujar Basriman.
Prestasi Pertanian Riau
Buku tersebut juga mencatat sejumlah capaian ketika Basriman memimpin sektor tanaman pangan dan hortikultura Riau.
Dalam periode 2010, 2011 dan 2012, Provinsi Riau disebut berhasil memperoleh penghargaan tingkat nasional dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas prestasi peningkatan produksi pertanian di atas 5 persen selama tiga tahun berturut-turut, sekaligus penghargaan di bidang ketahanan pangan.
Dalam buku itu, Basriman menuliskan pengalamannya mendampingi Gubernur Riau HM Rusli Zainal ke Istana Negara untuk menerima penghargaan tersebut langsung dari Presiden SBY. Selain capaian produksi, geliat sektor pertanian juga tergambar dari aktivitas pengangkutan hasil panen masyarakat menuju processing center di Marpoyan Damai. Truk-truk pengangkut hasil pertanian dari berbagai daerah menjadi bagian dari dinamika pembangunan pertanian Riau saat itu.
Dari Jabatan ke Pengabdian
Memasuki masa purnabakti sebagai ASN dengan pangkat Pembina Utama, Basriman menyebut pengabdian tidak berhenti ketika jabatan birokrasi berakhir.
Ia kemudian dipercaya berkontribusi sebagai Tenaga Ahli Gubernur Riau bidang pangan, tanaman pangan dan hortikultura. Dalam perjalanan berikutnya, ia juga mendapat amanah sebagai Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Riau.
“Ada saatnya seseorang menerima jabatan, ada saatnya seseorang meninggalkan jabatan. Tetapi yang tidak boleh berakhir adalah semangat untuk memberikan manfaat,” tuturnya.
Basriman mengatakan, autobiografi tersebut sengaja tidak hanya berisi daftar jabatan dan capaian yang pernah diraihnya. Ia ingin pembaca melihat proses panjang di balik setiap perjalanan. “Saya tidak ingin buku ini hanya berbicara tentang apa yang pernah saya capai. Saya juga ingin buku ini berbicara tentang proses. Tentang kerja keras, tentang ketekunan, tentang keberanian mengambil kesempatan, tentang kepercayaan diri, tentang pentingnya pendidikan, dan tentang membangun relasi,” paparnya.
Ia menambahkan, pengalaman hidup mengajarkannya bahwa keberhasilan bukan satu-satunya hal yang membentuk karakter seseorang. “Kehidupan tidak pernah berjalan dalam garis yang lurus. Ada keberhasilan, tetapi ada pula kegagalan. Ada saat ketika kita dipuji, tetapi ada pula saat ketika kita dikritik. Semua itu adalah bagian dari perjalanan,” ujarnya.
Dipersembahkan untuk Orang Tua dan Keluarga
Buku Menyisir Tantangan, Menyemai Pengabdian juga menjadi bentuk penghormatan Basriman kepada kedua orang tuanya, almarhum H Zainal Abidin Sidik Datuk Rajo Imbang, SH. dan almarhumah Hj Dahniar Naun.
Nilai kerja keras, kejujuran, kesederhanaan, menghormati orang lain, serta pentingnya niat dan doa disebut menjadi warisan penting yang terus dipegangnya.
Penghargaan juga disampaikan kepada sang istri, Hj Andriyanti Kamil BA., anak-anak, keluarga besar, sahabat, guru, dosen, rekan kerja, penyuluh pertanian dan para petani yang turut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Secara khusus, Basriman menyampaikan apresiasi kepada dua mantan Gubernur Riau, H Saleh Djasit dan HM Rusli Zainal, yang berkenan memberikan kata pengantar untuk buku tersebut.
“Bagi saya, kehadiran dan kesediaan beliau berdua memberikan pengantar bukan sekadar menjadi pelengkap sebuah buku. Lebih dari itu, merupakan sebuah kehormatan sekaligus bagian penting dari perjalanan sejarah pengabdian saya di Provinsi Riau,” ungkapnya.
Pada akhirnya, Menyisir Tantangan, Menyemai Pengabdian tidak sekadar menjadi catatan tentang perjalanan seorang birokrat. Buku tersebut merekam fase kehidupan Basriman sejak menjadi anak kampung dari Pasaman, menempuh pendidikan di Pekanbaru, memasuki dunia usaha, berkarier di birokrasi, memimpin sektor pertanian Riau, hingga melanjutkan pengabdian setelah purnabakti.
Pesan yang hendak ditinggalkan Basriman melalui buku tersebut sederhana: jabatan memiliki batas waktu, tetapi nilai pengabdian dan upaya memberikan manfaat kepada masyarakat semestinya terus tumbuh. ***(mok)