Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 22
 
 
 
Ketika Wahid dan SF Saling Berbantah di Persidangan

Riauterkini-PEKANBARU - Dua tokoh Sentral di Provinsi Riau, Gibrnrur Riau nonaktif Abdul Wahid dan wakilnya yang kini Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto bertemu untuk kali pertama setelah penangkapan Wahid oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 3 November 2025 lalu. Keduanya bertemu di sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, di Pengadilan Tipikor Pengadilan Negeri Pekanbaru, Rabu,(3/6/2026) .

Dalam persidangan tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, hadir sebagai saksi. Jalannya sidang berlangsung cukup menegangkan dan memunculkan dialog langsung dengan terdakwa terkait perjalanan politik hingga hubungan keduanya yang belakangan merenggang.

"Saya senang melihat Pak SF ada di sini. Sebelumnya belum pernah ketemu saat OTT," ujar Abdul Wahid mengawali pembicaraan.

Wahid kemudian mengungkit proses pencalonan dirinya bersama SF Hariyanto dalam kontestasi Pilgub Riau. Ia mempertanyakan apakah dirinya pernah meminta secara langsung untuk menjadi gubernur.

"Apakah saya meminta jadi gubernur?" tanya Abdul Wahid kepada saksi. Pertanyaan itu sempat mendapat perhatian majelis hakim yang menanyakan relevansi dengan perkara yang sedang disidangkan. Namun hakim tetap meminta saksi memberikan jawaban.

Atas pertanyaan tersebut, SF Hariyanto menjelaskan, bahwa pada awalnya dirinya enggan maju karena mempertimbangkan etika birokrasi. Saat itu, kata SF, mantan Gubernur Riau, Syamsuar, masih berkeinginan maju dalam kontestasi politik.

"Saya disuruh maju berhadapan dengan kandidat dan Pak Syamsuar ingin maju. Pak Syamsuar atasan saya dan secara etika tidak bagus melawan atasan saya," ujar SF.

Menurutnya, ketika Syamsuar akhirnya tidak maju, ia justru meminta Abdul Wahid yang maju sebagai calon gubernur. "Di tengah perjalanan Pak Syamsuar tidak maju jadi gubernur. Saya minta Abdul Wahid yang maju. Ya majulah, kata dia waktu itu" kata SF menirukan jawaban saat itu.

SF juga mengungkapkan bahwa skema yang kemudian disepakati adalah Abdul Wahid sebagai calon gubernur dan dirinya sebagai calon wakil gubernur. "Bapak maju dan saya wakil," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Abdul Wahid juga menyinggung hubungan keduanya setelah terpilih. Ia menyebut SF Hariyanto sempat enggan dipanggil sebagai wakil gubernur.

"Semua sudah saya rasakan. Mulia hati bapak," kata Abdul Wahid kepada saksi.

Namun SF menanggapi singkat. "Biasa saja, Pak," jawabnya.

Persidangan kemudian berlanjut pada pembahasan hubungan pribadi keduanya yang mulai merenggang setelah pelantikan.

Abdul Wahid mengaku masih mengingat momen saat bulan Ramadan ketika SF Hariyanto berkeinginan bertemu dengannya.

"Saya masih ingat, bapak ingin bertemu dengan saya setelah pelantikan. Waktu itu melalui telepon, supaya saya datang ke rumah," ujar Wahid.

Namun menurutnya, saat itu dirinya meminta agar SF yang datang. Pembahasan kemudian bergeser ke persoalan rekaman pemeriksaan Komisi Pemberantasan KPK (KPK) yang disebut pernah diperlihatkan SF kepada sejumlah pihak.

Abdul Wahid menyebut SF pernah menunjukkan rekaman pemeriksaan dirinya di KPK dan menyampaikan sejumlah pernyataan yang dinilai sensitif.

"Dia menunjukkan rekaman saya diperiksa KPK. Saya kaget, kok pemeriksaan KPK bisa ada. Itu ditunjukkan ke Arwin dan banyak orang," kata Wahid.

Ia juga menyinggung adanya ucapan yang menurutnya pernah disampaikan SF terkait pengaruh yang dimiliki hingga ke KPK.

"Ketua hati-hati, ketua tidak bersih. Tangan saya di mana-mana, di KPK ada," ujar Wahid mengutip dugaan pernyataan tersebut.

Namun SF Hariyanto secara tegas membantah tudingan itu. "Tidak benar saya ucapkan itu," jawab SF.

Abdul Wahid kembali melanjutkan pertanyaannya dengan menyinggung pernyataan lain yang menurutnya pernah diucapkan saksi.

"Ketua jangan macam-macam dengan saya, saya otaknya kotor. Pernah bilang itu?" tanya Wahid.

"Tidak pernah," Bantah SF singkat.

Suasana persidangan semakin tegang ketika Abdul Wahid menanyakan soal permintaan maaf yang disebut pernah dilakukan SF Hariyanto. "Berapa kali bapak minta maaf ke saya dan cium tangan saya?" tanya Wahid.

Mendengar pertanyaan tersebut, SF langsung bereaksi. "Siapa bapak kiranya?" jawab SF.

Abdul Wahid kemudian mengungkit peristiwa saat Kapolda Riau mempertemukan keduanya untuk berdamai.

"Waktu Kapolda mendamaikan kita dan foto tersebar ke mana-mana," kata Wahid.

Namun kembali SF membantah. "Saya tidak ada cium tangan bapak. Siapa bapak rupanya?" tegasnya.

Dalam persidangan itu, Abdul Wahid juga menepis anggapan bahwa dirinya tidak pernah memberikan tugas kepada SF Hariyanto selama menjabat.

"Bapak bilang saya tidak pernah kasih tugas. Silakan tanya ke Taufik dan Syahrial Abdi," ujar Wahid.

Ia juga mengaku pernah memberikan izin kepada SF untuk berobat dan tetap menjaga hubungan baik.

"Bapak datang bersama Kapolda, bilang izin berobat. Saya kasih izin dan baik, akrab kepada SF," katanya.

Wahid kemudian mempertanyakan alasan kemarahan SF yang disebut merasa tidak dilibatkan dalam pemerintahan. "Mengapa bapak marah, merasa saya tidak melibatkan bapak?" tanya Wahid.

Namun SF memilih menyerahkan penilaian tersebut kepada Abdul Wahid sendiri. "Bapak saja yang jawab diri sendiri," jawabnya.

Menurut SF, selama menjabat sebagai wakil gubernur dirinya merasa tidak pernah dilibatkan dalam berbagai pengambilan keputusan pemerintahan.

"Disposisi surat tidak pernah. Diajak rapat eselon empat tidak pernah. Kenapa tanya kepada saya?" kata SF.

Tak berhenti di situ, Abdul Wahid juga menyinggung isu penunjukan Sekretaris Daerah (Sekda) Riau yang disebut pernah disampaikan kepada ulama kondang, Abdul Somad.

"Pernah bapak menyampaikan ke UAS bahwa Sekda harus orang bapak?" tanya Wahid. SF kembali membantah.

"Saya tidak pernah. Saya ke sana karena beliau tokoh agama, tolong perbaiki hubungan kami. Jangan saya dipelesetkan," tegas SF.

Menutup rangkaian pertanyaan, Abdul Wahid menanyakan apakah persoalan tersebut menjadi alasan kemarahan SF terhadap dirinya.

"Bukan alasan saya itu," jawab SF.

Ia juga menegaskan bahwa proses demosi atau mutasi pejabat bukan merupakan keputusan pribadinya, melainkan hasil kerja panitia seleksi.

"Soal demosi bukan soal dari saya karena tim pansel," kata SF Hariyanto di hadapan majelis hakim.

Persidangan yang berlangsung cukup lama itu beberapa kali diwarnai saling bantah antara terdakwa dan saksi. Dialog keduanya membuka sejumlah fakta mengenai hubungan politik dan pemerintahan antara Abdul Wahid dan SF Hariyanto yang sebelumnya jarang terungkap ke publik.***(har/mad)

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Kamis, 09 Juli 2026

100 Bikers Ramaikan Vario Street Nation 2026 di Pekanbaru

Gelaran Vario Street Nation 2026 di Pekanbaru berlangsung meriah. Diikuti 100 pemotor alias bikers.

Galeri
Selasa, 23 Juni 2026

DPRD Pekanbaru Gelar Paripurna Hari Jadi ke-242, KolaborAksi Jadi Kunci Wujudkan Kota Maju dan Berkelanjutan

DPRD Pekanbaru Gelar Paripurna Hari Jadi ke-242, KolaborAksi Jadi Kunci Wujudkan Kota Maju dan Berkelanjutan.

Advertorial
Selasa, 23 Juni 2026

HUT ke-242 Pekanbaru, Dari Green City Hingga Rekor Dunia Talam Ketan Durian

HUT Ke-242 Pekanbaru, Dari Green City Hingga Rekor Dunia Talam Ketan Durian

Advertorial
Senin, 22 Juni 2026

Ketua DPRD Inhil Hadiri Road To Bhayangkara Run dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80

Ketua DPRD Inhil Hadiri Road To Bhayangkara Run dalam Rangka Hari Bhayangkara ke-80.

Galeri
Rabu, 13 Mei 2026

Galeri, Murid TK ABA Belajar Dunia Broadcasting di Diskominfops Inhil

Galeri, Murid TK ABA Belajar Dunia Broadcasting di Diskominfops Inhil

Advertorial
Senin, 15 Juni 2026

Disambut Wabup Hendrizal, 214 Jemaah Haji Inhu Tiba dengan Selamat

Disambut Wabup Hendrizal, 214 Jemaah Haji Inhu Tiba dengan Selamat

Berita Lainnya

Selasa, 21 Juli 2026

Kisah Bambang Sugeng Bangun Usaha Madu Sekaligus Jadi Penjaga Hutan


Selasa, 21 Juli 2026

WHO-UNICEF: Cakupan Imunisasi Indonesia Meningkat, Ratusan Ribu Anak Kini Terjangkau Vaksin


Selasa, 21 Juli 2026

Pemkab Inhu Proses Gaji ke-13 ASN


Selasa, 21 Juli 2026

Komisi III DPRD Dampingi Pemkab Kuansing Jemput Dukungan Infrastruktur Digital di Kementerian Komdigi


Selasa, 21 Juli 2026

Dukung Asta Cita Presiden RI, Polsek Bukit Kapur Panen Raya Jagung Kuartal III Hasilkan 1 Ton Jagung Pipil


Selasa, 21 Juli 2026

Hijaukan Kawasan Pesisir, Polsek Panipahan Bersama Masyarakat dan Pelajar Tanam 150 Bibit Mangrove


Selasa, 21 Juli 2026

PTPN IV PalmCo Dongkrak Produktivitas Sawit Petani Lampaui Standar Nasional


Selasa, 21 Juli 2026

Dini Hari, Delapan Unit Hunian dan Sepeda Motor Ludes Terbakar di Jalan Riau Pekanbaru


Selasa, 21 Juli 2026

Polsek Tanah Putih Ajak Masyarakat Bersinergi Ciptakan Lingkungan Bersih dari Narkoba


Selasa, 21 Juli 2026

Kunjungi Lapas Telukkuantan Plt Bupati Kuansing Pastikan Bukan Dalam Agenda Manuver Politik


Selasa, 21 Juli 2026

Pilot Kapal 73 Tahun Meninggal Dunia di Perairan Selat Rupat, Tim SAR Evakuasi Jenazah


Selasa, 21 Juli 2026

Tim SAR Gabungan Evakuasi Nakhoda Kapal MT Pancaran Agility di Perairan Dumai


Selasa, 21 Juli 2026

Polda Riau Buka Pendidikan 119 Bintara SPKT


Selasa, 21 Juli 2026

Api Berasal dari Sebuah Mobil, SPBU di Jalan Hangtuah Pekanbaru Hangus Terbakar


Selasa, 21 Juli 2026

Gemari Datangi Kejati Riau, Laporkan Dugaan Korupsi di Dinas PU Rohil.


Senin, 20 Juli 2026

Hujan Deras Tiga Jam Rendam Jalan Protokol, Ditlantas Polda Riau Bergerak Urai Kemacetan


Senin, 20 Juli 2026

Plt Gubri Ajak Pegawai Pemprov Riau Cek Kesehatan Gratis Menyambut HUT ke-69 Riau


Senin, 20 Juli 2026

Dukung Potensi Generasi Muda, Capella Honda Gelar AHMBS 2026 Berbasis SDGs


Senin, 20 Juli 2026

Puluhan Bidan Ikuti Pelatihan Antenatal Care dan Skrining Hipotiroid Kongenital di Pekanbaru


Senin, 20 Juli 2026

Cek Pertumbuhan Jagung Pipil, Polsek Pastikan Dukung Ketahanan Pangan di Ukui