Riauterkini - PEKANBARU - Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Provinsi Riau mulai membuahkan hasil. Dari sekitar 17 ribu hektar lahan yang terbakar, sebagian besar titik api kini berhasil dikendalikan berkat kerja keras tim gabungan di lapangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau SF Hariyanto Senin (318/26) mengatakan, Kerumutan menjadi salah satu wilayah dengan penanganan karhutla paling berat.
"Karhutla di Riau sudah berhasil diatasi. Ini berkat jerih payah semua pihak yang tergabung dalam upaya penanggulangan karhutla," kata SF Hariyanto.
Menurutnya, karhutla yang terjadi sebelumnya telah menguras tenaga personel gabungan. Mereka harus berjibaku memadamkan api di sejumlah lokasi yang sulit dijangkau.
"Memang karhutla yang terjadi beberapa hari sebelumnya membuat personel tim gabungan kita di lapangan bertungkus lumus memadamkan titik api," ujarnya.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, diduga sebagian karhutla, terutama di Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, bukan semata-mata akibat kondisi cuaca panas dan lahan yang kering. Ada indikasi lahan sengaja dibakar untuk membuka kawasan.
Menurutmu, di lokasi karhutka ini diduga kebakaran terjadi pada lahan yang sebelumnya merupakan kawasan Hak Guna Usaha (HGU). Namun ia mengaku belum mengetahui secara pasti siapa pemilik lahan tersebut.
"Di lahan ini diduga bekas HGU. Tidak tahu siapa pemiliknya. Sepertinya ada orang-orang nakal, orang-orang tidak bertanggung jawab yang ingin mencoba membuka lahan dengan cara membakar,"
tegas SF Hariyanto.
Meski begitu, diakuinya, hingga kini petugas belum menemukan pelaku yang diduga melakukan pembakaran di kawasan Kerumutan.
"Di lapangan kita memang belum menjumpai siapa yang membakar," jelasnya.
Lalu bagamana Karhutla terjadi di Desa Rantau Baru di Pelalawan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau Edy Afrizal juga menduga, karhutla terjadi di Rantau Baru Pelalawan juga ada dugaan serupa.
Indikasi itu berdasaekan petugas di lapangan ditemukan sejumlah barang yang mengarah pada dugaan adanya aktivitas manusia di sekitar lahan terbakar.
Temuan adanya berupa bahan bakar solar tersebut kini menjadi bagian dari proses penegakan hukum.
"Di Rantau Baru Pelalawan petugas di lapangan menemukan solar, orangnya juga ada. Artinya ini ada oknum yang sengaja membakar," ujar Edy.
Dugaan kasus kasus ini masih dalam penyelidikan Polres Pelalawan.
"Di Rantau Baru sedang diselidiki sama Polres. Ada dugaan indikasinya sama seperti di Kerumutan, bahwa karhutla terjadi disebabkan karena lahan terbakar karena disengaja," ungkap Edy.
Edy menekankan, kondisi cuaca panas dan panjangnya musim kemarau memang membuat lahan mudah terbakar. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menjadi penyebab munculnya api tanpa adanya sumber pemicu.
"El Nino ini kan tidak membawa korek api, cuma menyebabkan cuaca panas. Dampaknya lahan kering karena musim panas yang panjang. Yang membawa korek api itu kan manusia," ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan pemerintah bahwa faktor manusia masih menjadi persoalan serius dalam karhutla Riau. Karena itu, selain pemadaman, pengawasan dan penegakan hukum terhadap dugaan pembakaran lahan menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran kembali terjadi. ***(mok)